Rabu, 25 April 2012

Grandmarvelous -A thing called Fate- 11


Chapter 11. Grandma’s  secret
Aku diam. Mengingat laju motor yang kembali menerobos angin pagi itu, aku masih mengingatnya lagi dan lagi. Hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengannya, liburan selesai dan bapak segera menjemputku besok. Ragil harus kembali ke kampusnya untuk ujian. Mahasiswa tingkat tiga bukannya memang sedang sibuk-sibuknya kan, aku bahkan tak sadar dia menghabiskan waktu sebelum ujian semesternya hanya dengan main-main menemani anak kecil.
Dia tak banyak bicara, aku lebih diam lagi. Melihat dia, punggungnya membuatku mengingat kata-kata yang diucapkan Mya dengan nada riang. Aku menggelengkan kepala, meruntuk dalam hati..benar apa kata Ragil, aku masih punya utang jujur ke Petra, biar bagaimanapun dia orang yang sudah dua tahun ini jadi bayangan mataku sendiri, aku tak ingin mempertimbangkan Rima, Petra dan yang lainnya, hanya jujur pada diri sendiri. Dan itu penting.
Seperti itulah sosoknya saat terakhir kali aku melihatnya, hanya merangkulkan tangannya kepundakku,
“dah yong, met balik lagi ke sekolah…aku balik dulu”, seperti itu saja yang ragil katakan.
“hhmm ya”, aku menganggukan kepalaku, membalasnya dengan ekspresi tak peduli juga.
Aku hanya bertemu dia seminggu. Tapi ini memang seminggu yang paling menyenangkan dalam hidupku sendiri.
==
Aku mulai mengepak baju-bajuku dan barang bawaan lainnya. Diam sejenak, aku mengamati kamar tua ini, suara simbah seperti biasanya ramai bicara dengan bi Mimin, aku mengabaikan pembicaraan mereka yang sibuk membungkus oleh-oleh untuk ku bawa. Tiba-tiba aku merasa masih ingin menambah liburanku disini.
Ini malam penghujung aku menghabiskan waktuku disini, hanya aku dan simbah. Kami berdua saja, aku memperhatikan wajahnya, rambut putihnya, kerutannya, badannya yang gemuk, dan langkahnya yang mulai ringkih. Sesaat aku merenung, bagaimana nanti aku menghabiskan umur tuaku, sendiriankah, sepikah, diamkah?. Dan aku melihat sorot tenangnya mulai berkaca-kaca saat dia memandangi album foto itu, sorot mata yang tertuju pada satu gambar yang tak terlalu baru.  Dia bahkan tak menyadariku yang ikut mengamati sosok di gambar itu. Seorang pria tua dengan senyum manis dan sorot mata yang lembut.
Simbah tersenyum melihatku, bukan dia yang seperti biasanya. Sambil terus memandangi fotonya, dia bicara seloah tahu apa isi kepalaku yang penuh dengan banyak pertanyaan.
“ itu simbah kakung..”, ujarnya kemudian.
Aku melihatnya dengan seksama, mengamati sososk pria berpostur tegap, dengan helaian rambut putih yang menghiasi kepalanya. Simbah bicara, membicarakan cerita
Laki-laki itu sudah meninggalkanku tiga bulan lalu, waktu yang sebentar mungkin bagi orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan banyak kegiatan. Tapi bagiku. Itu sangat lama. Tiap menitnya benar-benar semakin sepi, aku bahkan terus mengingatnya sepanjang waktu meskipun aku berusaha menghilangkannya. Aku mengikhlaskannya tentu saja, tak ada ganjalan apapun, hanya aku selalu berfikir apakah dia baik-baik saja disana, bagaimana kehidupannya. Apakah orang yang sudah meninggal bisa mendengar yang masih hidup?, apa dia bisa mendengarkanku?..Simbah menghela nafas, aku merapatkan dudukku padanya, iringanan nafasnya terdengar berat ditelingaku.
Aku bertemu dia, dulu saat jaman kemerdekaan. Dia seorang pejuang, tak ada yang istimewa. Aku membantu konsumsi para pejuang, memasak ala kadarnya di posko. Dia sepeti kebanyakan pemuda seusianya, membantu para pejuang di tempat kami. Dia tetangga desaku. Aku bahkan tidak  pernah berfikir dia yang akan jadi suamiku. Saat itu kehidupan sangat sederhana, tidak seperti sekarang, tidak ada namanya jatuh cinta. Orang-orang hanya berfikir tentang negara, tentang merdeka, tak pernah berfikir tentang kehidupannya masing-masing, dan jodoh itu seperti aliran air, mengalir begitu saja.
Laki-laki itu memilihku, dari begitu banyaknya pilihan, aku mengiyakan tentu, manut orang tua. Kami bahagia, tentu saja dengan keadaan sederhana kami, Menikah itu ibadah, dan seperti itulah isi kepalaku selamanya. Dia laki-laki yang terlalu baik untukku, bahkan untuk isi kepalaku yang sangat keras.
“Simbah mencintai mbah kakung?”, pertanyaan menggelitik yang ada dikepalaku. Pertanyaan anak bau kencur yang konyol untuk seorang nenek yang sudah menghabiskan seumur hidupnya bersama seorang pria yang luar biasa.
“Cinta?”, ujarnya tersenyum.
Aku tidak tahu apa itu cinta seumur hidupku. Orang-orang selalu mengatakannya dengan mudah, meski aku sendiri bahkan sampai saat ini tak tahu apa itu cinta yang sebenarnya. Aku hanya menempatkan posisiku sebagai istrinya, menghormatinya, menyayanginya. Aku senang melihatnya senang, begitupun sebaliknya, aku suka saat dia mengalah untukku, aku suka saat dia menahan diri untuk tidak marah ketika aku menggerutu, aku menyukai sifat sabarnya. Apakah itu cinta?.
Dia mendahuluiku pergi, apaka aku harus menangis, aku menahannya, kehilangan orang seperti dia menyakitkankah?, mataku berkaca-kaca meski aku tak ingin menangis, dadaku sesak dan terus-terusan menghela nafas. Orang-orang menangis, anak-anakku, cucukku, dan semua orang dekatku, aku meneteskan air mata sambil melihat mata tertutupnya. Aku memegang tangan keriputnya yang dingin, mengantarnya ketempat dia kembali. Dia meninggalkanku sendiri, aku terus memikirkannya, mengingatnya dalam hatiku.
“simbah kakung bahagia..”. ujarku kemudian, aku berkaca-kaca, menangis sesenggukan mendengar ceritanya. Menghabiskan sepanjang hidup dengan orang yang dicintai, seperti itukah cinta?. Kenapa begitu mengharukan?. Simbah mengelus-elus rambutku, membelaiku yang bersandar dipundak rapuhnya.
“Nduk..nduk, jangan nangis..istirahatlah..besok kamu pulang ke Bandung..”, ujarnya kemudian.
==
Kita tak pernah tahu apa itu cinta, yang simbah tahu jodoh akan Allah turunkan pada saat yang tepat, siapapun orangnya, maka dialah cintamu, entah itu orang dari masa lalu, masa ini, atau orang yang bahkan kamu temui suatu saat nanti. Ada jalan yang tidak bisa kita rencanakan.
Aku menghela nafas, deru kereta api semakin keras ketika melewati jembatan. Aku melihat aliran air keruh sungai dibawahkku, memikirkan malah berharga yang aku lewatkan bersama simbah, memikirkan raut mukanya yang tegar, rahasia cintanya yang sederhana. Satu malam yang ingin aku ulangi lagi dan lagi.
==
Aku memikirkan seminggu yang berharga ini, seminggu yang membuatku berubah untuk memaknai sesuatu yang lebih dalam. Aku menyukai kejujuran, meskipun kadang tak menyenangkan memang. Dan Ragil, ah manusia robot yang satu itu ternyata punya perasaan juga, memberiku pengalaman yang menyenangkan dalam beberapa hari kebelakang ini, meskipun…ah sudahlah, lupakan saja.
To Ragil.
[good luck for ur exam…fighting!!..:) ]. Send.
Sebuah pesan singkat yang kukirim untuknya, aku tersenyum sendiri. Memikirkan punggung lebar dan mata tajamnya. Ini konyol.
“Yong..hooy..”, bapak mengibas-ngibaskan tangannya kedepan mukaku, “ngelamun apaan, senyam-senyum sendiri”. Aku tersenyum, menggelengkan kepalaku setengah malu..
“gak papa…udah deh pak, yong mau tidur..”
Bapak mengerutkan dahi, kembali membaca koran yang beritanya tak pernah ganti topik, begitulah kasus di Indonesia, korupsi saja pembahasannya.
Aku punya poin yang harus diselesaikan dan itu nanti, clearkan sebalum semuanya memburuk.
===
Ini awal masuk sekolah yang sebenarnya masih dipengaruhi aura malas, sebagian anak bahkan memutuskan untuk membolos dan menambah jatah liburannya. Gosip dan celotehan pasca liburan tetap menjadi topik menarik, bahkan saat pelajaran sudah dimulai. Begitulah hari pertama setelah liburan, kondisinya tak pernah kondusif. Mengumpulkan nyawa untuk membuka buku sepertinya butuh perhatian ekstra dari para guru, aku pun bagian dari mayoritasnya.
“ini PRnya, silakan latihan di rumah untuk memperdalam materi ini, ingat kalian sudah kelas dua belas..sebentar lagi ujian nasional”,. Himbauan yang disambut oleh helaan dan gerutuan anak-anak kelas, seiring dengan bel istirahat yang mengaum kencang.
“Rima, Dias..ayo kantin, kita ngobrol..”, kataku memecah kebisan sejak pagi tadi. Raut wajah mereka memperlihatkan tanda tanya, meskipun tetap mengikutiku menuju kantin yang sudah dipenuhi oleh manusia-manusia putih abu-abu yang kelaparan.
“Kenapa yong?”..
Pada akhirnya kami bicara, masalah mereka berdua Rima dengan masalah riffi yang mengganggunya, dan Dias dengan masalah keluarganya yang membanding-bandingkannya dengan Rima. Ini hanya kesalahpahaman yang didiamkan. Tentu harus dipecahkan, dan satu-satunya jalan adalah dengan bicara, terus terang. Seperti kata Ragil, jika kamu mau jujur, maka jujurlah sampai akhir.
“Gimana, sekarang udah clear kan?.”, tanyaku kemudian setelah kami bicara panjang lebar.
Rima dan Dias mengangguk. Saling tersenyum satu sama lain,
“maaf ya Rim,”, ujar Dias kemudian. “tenang aja, aku juga gak mungkin jadian sama adekmu, riffi terlalu lucu untuk aku jadiin pacar, lagian aku gak mau jadi bahan ocehan fans-fansnya nanti.Seloroh dias mencairkan suasana..
“maafin aku juga ya yas, aku gak tahu kalo aku membuat kamu sulit, padahal asal kamu tahu kalo aku beneran iri sama gaya kamu yang keren ini”, kata Rima sambil tersenyum manis.
Aku menarik nafas lega, membiarkan semua terbuka apa adanya adalah sesuatu yang sangat melegakan. Kami tertawa sambil menghabiskan makan siang kami yang entah kenapa rasanya lebih enak dari biasanya.
“hei, kalian selalu bilang gue orang yang jujur dan apa adanya kan?”, ujarku menyela makan siang kami.
“ia..kenapa yong?.. kok lu aneh amat..”
Aku mempersiapkan mulutku, mengatur kata yang sederhana tapi sepertinya sulit untuk aku sampaikan
“seseorang nyuruh gue, untuk jujur.. kalo gue mau jujur, gue mesti jujur sampai akhir”, ujarku kemudian. Rima dan Dias memicingkan mata tanda heran, menunggu ucapanku selanjutnya.
“gue jalan sama Petra”
“gue jujur ngomong ke Petra kalo gue suka sama dia.”
“yong??”
===
Aku melihat reaksinya di ujung mataku. Aku dan mereka, kami diam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar