Chapter 11. Grandma’s secret
Aku diam. Mengingat
laju motor yang kembali menerobos angin pagi itu, aku masih mengingatnya lagi
dan lagi. Hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengannya, liburan selesai
dan bapak segera menjemputku besok. Ragil harus kembali ke kampusnya untuk
ujian. Mahasiswa tingkat tiga bukannya memang sedang sibuk-sibuknya kan, aku
bahkan tak sadar dia menghabiskan waktu sebelum ujian semesternya hanya dengan
main-main menemani anak kecil.
Dia tak banyak
bicara, aku lebih diam lagi. Melihat dia, punggungnya membuatku mengingat
kata-kata yang diucapkan Mya dengan nada riang. Aku menggelengkan kepala,
meruntuk dalam hati..benar apa kata
Ragil, aku masih punya utang jujur ke Petra, biar bagaimanapun dia orang yang
sudah dua tahun ini jadi bayangan mataku sendiri, aku tak ingin
mempertimbangkan Rima, Petra dan yang lainnya, hanya jujur pada diri sendiri.
Dan itu penting.
Seperti itulah
sosoknya saat terakhir kali aku melihatnya, hanya merangkulkan tangannya
kepundakku,
“dah yong, met
balik lagi ke sekolah…aku balik dulu”, seperti itu saja yang ragil katakan.
“hhmm ya”, aku
menganggukan kepalaku, membalasnya dengan ekspresi tak peduli juga.
Aku hanya bertemu dia seminggu. Tapi ini memang
seminggu yang paling menyenangkan dalam hidupku sendiri.
==
Aku mulai
mengepak baju-bajuku dan barang bawaan lainnya. Diam sejenak, aku mengamati
kamar tua ini, suara simbah seperti biasanya ramai bicara dengan bi Mimin, aku
mengabaikan pembicaraan mereka yang sibuk membungkus oleh-oleh untuk ku bawa.
Tiba-tiba aku merasa masih ingin menambah liburanku disini.
Ini malam
penghujung aku menghabiskan waktuku disini, hanya aku dan simbah. Kami berdua
saja, aku memperhatikan wajahnya, rambut putihnya, kerutannya, badannya yang
gemuk, dan langkahnya yang mulai ringkih. Sesaat aku merenung, bagaimana nanti
aku menghabiskan umur tuaku, sendiriankah, sepikah, diamkah?. Dan aku melihat
sorot tenangnya mulai berkaca-kaca saat dia memandangi album foto itu, sorot
mata yang tertuju pada satu gambar yang tak terlalu baru. Dia bahkan tak menyadariku yang ikut
mengamati sosok di gambar itu. Seorang pria tua dengan senyum manis dan sorot
mata yang lembut.
Simbah tersenyum
melihatku, bukan dia yang seperti biasanya. Sambil terus memandangi fotonya,
dia bicara seloah tahu apa isi kepalaku yang penuh dengan banyak pertanyaan.
“ itu simbah
kakung..”, ujarnya kemudian.
Aku melihatnya
dengan seksama, mengamati sososk pria berpostur tegap, dengan helaian rambut
putih yang menghiasi kepalanya. Simbah bicara, membicarakan cerita
Laki-laki itu sudah meninggalkanku tiga bulan lalu,
waktu yang sebentar mungkin bagi orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan
banyak kegiatan. Tapi bagiku. Itu sangat lama. Tiap menitnya benar-benar
semakin sepi, aku bahkan terus mengingatnya sepanjang waktu meskipun aku
berusaha menghilangkannya. Aku mengikhlaskannya tentu saja, tak ada ganjalan
apapun, hanya aku selalu berfikir apakah dia baik-baik saja disana, bagaimana
kehidupannya. Apakah orang yang sudah meninggal bisa mendengar yang masih
hidup?, apa dia bisa mendengarkanku?..Simbah menghela nafas, aku merapatkan
dudukku padanya, iringanan nafasnya terdengar berat ditelingaku.
Aku bertemu dia, dulu saat jaman kemerdekaan. Dia
seorang pejuang, tak ada yang istimewa. Aku membantu konsumsi para pejuang,
memasak ala kadarnya di posko. Dia sepeti kebanyakan pemuda seusianya, membantu
para pejuang di tempat kami. Dia tetangga desaku. Aku bahkan tidak pernah berfikir dia yang akan jadi suamiku.
Saat itu kehidupan sangat sederhana, tidak seperti sekarang, tidak ada namanya
jatuh cinta. Orang-orang hanya berfikir tentang negara, tentang merdeka, tak
pernah berfikir tentang kehidupannya masing-masing, dan jodoh itu seperti
aliran air, mengalir begitu saja.
Laki-laki itu memilihku, dari begitu banyaknya
pilihan, aku mengiyakan tentu, manut orang tua. Kami bahagia, tentu saja dengan
keadaan sederhana kami, Menikah itu ibadah, dan seperti itulah isi kepalaku
selamanya. Dia laki-laki yang terlalu baik untukku, bahkan untuk isi kepalaku
yang sangat keras.
“Simbah
mencintai mbah kakung?”, pertanyaan menggelitik yang ada dikepalaku. Pertanyaan
anak bau kencur yang konyol untuk seorang nenek yang sudah menghabiskan seumur
hidupnya bersama seorang pria yang luar biasa.
“Cinta?”,
ujarnya tersenyum.
Aku tidak tahu apa itu cinta seumur hidupku.
Orang-orang selalu mengatakannya dengan mudah, meski aku sendiri bahkan sampai
saat ini tak tahu apa itu cinta yang sebenarnya. Aku hanya menempatkan posisiku
sebagai istrinya, menghormatinya, menyayanginya. Aku senang melihatnya senang,
begitupun sebaliknya, aku suka saat dia mengalah untukku, aku suka saat dia
menahan diri untuk tidak marah ketika aku menggerutu, aku menyukai sifat
sabarnya. Apakah itu cinta?.
Dia mendahuluiku pergi, apaka aku harus menangis,
aku menahannya, kehilangan orang seperti dia menyakitkankah?, mataku berkaca-kaca
meski aku tak ingin menangis, dadaku sesak dan terus-terusan menghela nafas.
Orang-orang menangis, anak-anakku, cucukku, dan semua orang dekatku, aku
meneteskan air mata sambil melihat mata tertutupnya. Aku memegang tangan
keriputnya yang dingin, mengantarnya ketempat dia kembali. Dia meninggalkanku
sendiri, aku terus memikirkannya, mengingatnya dalam hatiku.
“simbah kakung
bahagia..”. ujarku kemudian, aku berkaca-kaca, menangis sesenggukan mendengar
ceritanya. Menghabiskan sepanjang hidup dengan orang yang dicintai, seperti
itukah cinta?. Kenapa begitu mengharukan?. Simbah mengelus-elus rambutku,
membelaiku yang bersandar dipundak rapuhnya.
“Nduk..nduk,
jangan nangis..istirahatlah..besok kamu pulang ke Bandung..”, ujarnya kemudian.
==
Kita tak pernah tahu apa itu cinta, yang simbah tahu
jodoh akan Allah turunkan pada saat yang tepat, siapapun orangnya, maka dialah
cintamu, entah itu orang dari masa lalu, masa ini, atau orang yang bahkan kamu
temui suatu saat nanti. Ada jalan yang tidak bisa kita rencanakan.
Aku menghela
nafas, deru kereta api semakin keras ketika melewati jembatan. Aku melihat
aliran air keruh sungai dibawahkku, memikirkan malah berharga yang aku lewatkan
bersama simbah, memikirkan raut mukanya yang tegar, rahasia cintanya yang
sederhana. Satu malam yang ingin aku ulangi lagi dan lagi.
==
Aku memikirkan
seminggu yang berharga ini, seminggu yang membuatku berubah untuk memaknai
sesuatu yang lebih dalam. Aku menyukai kejujuran, meskipun kadang tak
menyenangkan memang. Dan Ragil, ah manusia robot yang satu itu ternyata punya
perasaan juga, memberiku pengalaman yang menyenangkan dalam beberapa hari
kebelakang ini, meskipun…ah sudahlah, lupakan saja.
To Ragil.
[good luck for ur exam…fighting!!..:) ]. Send.
Sebuah pesan
singkat yang kukirim untuknya, aku tersenyum sendiri. Memikirkan punggung lebar
dan mata tajamnya. Ini konyol.
“Yong..hooy..”,
bapak mengibas-ngibaskan tangannya kedepan mukaku, “ngelamun apaan,
senyam-senyum sendiri”. Aku tersenyum, menggelengkan kepalaku setengah malu..
“gak papa…udah
deh pak, yong mau tidur..”
Bapak
mengerutkan dahi, kembali membaca koran yang beritanya tak pernah ganti topik,
begitulah kasus di Indonesia, korupsi saja pembahasannya.
Aku punya poin
yang harus diselesaikan dan itu nanti, clearkan
sebalum semuanya memburuk.
===
Ini awal masuk
sekolah yang sebenarnya masih dipengaruhi aura malas, sebagian anak bahkan
memutuskan untuk membolos dan menambah jatah liburannya. Gosip dan celotehan
pasca liburan tetap menjadi topik menarik, bahkan saat pelajaran sudah dimulai.
Begitulah hari pertama setelah liburan, kondisinya tak pernah kondusif.
Mengumpulkan nyawa untuk membuka buku sepertinya butuh perhatian ekstra dari
para guru, aku pun bagian dari mayoritasnya.
“ini PRnya,
silakan latihan di rumah untuk memperdalam materi ini, ingat kalian sudah kelas
dua belas..sebentar lagi ujian nasional”,. Himbauan yang disambut oleh helaan
dan gerutuan anak-anak kelas, seiring dengan bel istirahat yang mengaum
kencang.
“Rima, Dias..ayo
kantin, kita ngobrol..”, kataku memecah kebisan sejak pagi tadi. Raut wajah
mereka memperlihatkan tanda tanya, meskipun tetap mengikutiku menuju kantin
yang sudah dipenuhi oleh manusia-manusia putih abu-abu yang kelaparan.
“Kenapa yong?”..
Pada akhirnya
kami bicara, masalah mereka berdua Rima dengan masalah riffi yang
mengganggunya, dan Dias dengan masalah keluarganya yang
membanding-bandingkannya dengan Rima. Ini hanya kesalahpahaman yang didiamkan.
Tentu harus dipecahkan, dan satu-satunya jalan adalah dengan bicara, terus
terang. Seperti kata Ragil, jika kamu mau jujur, maka jujurlah sampai akhir.
“Gimana,
sekarang udah clear kan?.”, tanyaku kemudian setelah kami bicara panjang lebar.
Rima dan Dias
mengangguk. Saling tersenyum satu sama lain,
“maaf ya Rim,”,
ujar Dias kemudian. “tenang aja, aku juga gak mungkin jadian sama adekmu, riffi
terlalu lucu untuk aku jadiin pacar, lagian aku gak mau jadi bahan ocehan
fans-fansnya nanti.Seloroh dias mencairkan suasana..
“maafin aku juga
ya yas, aku gak tahu kalo aku membuat kamu sulit, padahal asal kamu tahu kalo
aku beneran iri sama gaya kamu yang keren ini”, kata Rima sambil tersenyum
manis.
Aku menarik
nafas lega, membiarkan semua terbuka apa adanya adalah sesuatu yang sangat
melegakan. Kami tertawa sambil menghabiskan makan siang kami yang entah kenapa
rasanya lebih enak dari biasanya.
“hei, kalian
selalu bilang gue orang yang jujur dan apa adanya kan?”, ujarku menyela makan
siang kami.
“ia..kenapa
yong?.. kok lu aneh amat..”
Aku
mempersiapkan mulutku, mengatur kata yang sederhana tapi sepertinya sulit untuk
aku sampaikan
“seseorang
nyuruh gue, untuk jujur.. kalo gue mau jujur, gue mesti jujur sampai akhir”,
ujarku kemudian. Rima dan Dias memicingkan mata tanda heran, menunggu ucapanku
selanjutnya.
“gue jalan sama
Petra”
“gue jujur
ngomong ke Petra kalo gue suka sama dia.”
“yong??”
===
Aku melihat
reaksinya di ujung mataku. Aku dan mereka, kami diam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar