Rabu, 25 April 2012

Grandmarvelous -A thing called Fate- 13


Chapter 13. Saturn man
Saturnus adalah planet yang luas, besar dan memiliki cincin yang sangat indah. Planet itu adalah planet yang cantik dengan banyak satelit yang mengelilinginya. Semakin aku besar semakin pula aku menyukainya. Membayangkan bisa melihat banyak bulan saat malam membuatku selalu ingin menghabiskan malam disana. Tentu saja ini khayalan yang tidak masuk akal, tapi memikirkannya membuat hatiku senang. Aku menyukainya sejak dulu.
Pria itu seperti Saturnus, berhati besar, baik, dan memiliki wajah semanis cincinnya. Pria itu seperti saturnus, datang dari tempat yang tak pernah aku duga sebelumnya, masuk ke kehidupanku tiba-tiba, disaat semuanya tepat. Melihatnya membuatku terus terngiang-ngiang kata-kata simbah dulu, Kita tak pernah tahu apa itu cinta, yang simbah tahu jodoh akan Allah turunkan pada saat yang tepat, siapapun orangnya, maka dialah cintamu, entah itu orang dari masa lalu, masa ini, atau orang yang bahkan kamu temui suatu saat nanti. Ada jalan yang tidak bisa kita rencanakan. Inikah jodoh itu?. Aku memikirkannya terus menerus.
Seseorang dari masa laluku?. Mungkin. Aku menghela nafas, memikirkan pertemuan kami yang tak sengaja, tapi adakah kata tak sengaja yang sebenarnya, bukankah itu bagian dari takdir. Benar, apapun yang kita perbuat sudah ada yang mengatur, toh jika saat itu aku tidak datang ke acara syukuran temanku, aku bahkan tidak akan melihat wajahnya saat ini. Aku meyakini, skenario Tuhanlah yang terbaik.
Waktu berjalan dengan cepat, bertahun-tahun lalu aku masih terlibat dengan perasaanku sendiri, perasaan yang tumbuh dan berkembang seiring dengan umurku yang terus beranjak. Masa masa seragam putih abu-abu yang sangat aku suka. Mereka telah lewat, meskipun bayangannya selalu mengisi pikiranku. Kadang aku merindukannya dan ingin menjelajahi waktu, tapi hanya orang bodoh yang selalu ingin kembali ke masa lalu. Karena jarum jam tidak akan pernah berputar ke kiri.
==
Aku tetaplah Yong, meski dengan usia yang berbeda, dengan peran yang tak sama. Menapaki jejak-jejak masa lalu membuat aku sadar aku telah melewati tahap-tahap penting dalam hidupku. Lulus SMA, menanggalkan seragam putih abu-abuku, menuju jas almamater, menghabiskan banyak waktuku menggeluti desain komunikasi visual yang mencuri pikiranku. Melemparkan toga, dan menjelajahi meja-meja kerja, menempatkanku menjadi kartunis. Pekerjaan yang sama sekali diluar pikiranku, siapa sangka akhirnya aku bahkan tak berhubungan lagi dengan matematika, fisika dan sebangsanya. Meskipun kadang aku rindu menggelutinya. Sudah enam tahun lalu, mengingatkanku betapa senangnya pertama kali aku memakai seragam SMPku setelah enam tahun bertahan dengan baju putih merah itu. Aku telah melewati banyak fase dalam hidupku.
Ah, benar. Ini adalah perjalanan yang menyenangkan. Berada di pesawat terbang, berpapasan dengan awan yang bergerombol, disela lagit biru yang cerah. Hari ini matahari bersemangat, menemani perjalananku ke Jepang, untuk sebuah short course kartun, komik, dan webtoon di negeri itu, negeri dengan produksi komik yang luar biasa terkenal. Satu tahun menghabiskan waktu disana, akankah terasa lama?, relatif mungkin. Yang pasti ini jadi satu pengalaman yang penting dalam hidupku, bagaimana mungkin aku tidak bersyukur. Dan seorang pria yang menungguku, ya..menungguku setahun lagi.
Seseorang yang membuat aku tersenyum dengan segala tingkahnya, selera humor yang baik, Seseorang yang terlihat manis dengan jas yang dia pakai,dan terlihat keren dengan gaya kasualnya, kaos, jumper, jeans dan sepatu kets biru tuanya. Seseorang yang paling berani dari laki-laki manapun yang pernah aku temui.
===
Aku bertemu dengannya ditempat yang tak aku pikirkan. Dirumah temanku saat syukuran kelahiran anak pertamanya, dia menyapaku. Meski aku bahkan sama sekali tak mengenal wajahnya.
“Hei, kamu Yong kan??”, tanya seseorang itu memastikan, binar matanya cerah dan senyum simpulnya yang hangat bersahabat.
“ia..maaf, siapa ya?”, tanyaku kemudian. Aku memicingkan mataku, keheranan. Siapa orang ini aku bakan tak mengenalnya, tapi dia seolah-olah mengenalku dengan baik.
“kamu lupa?..hei kita kan pernah ketemu”, ujarnya kemudian. Mendesakku untuk mengingat-ingat siapa nama pemilik wajah itu, mata menyipitnya yang manis.
Aku diam saja, mengingatnya juga percuma, toh ingatanku memang buruk untuk mengingat nama dan wajah orang lain. Penyakit yang sudah ada sejak dulu.
“ini aku Dhika..”, ungkapnya tak sabaran menunggu loadingku mengingat siapa dia.
“Dhika, temnennya kulianya Ragil di Jogja, inget batik?,, ngumpul di alun-alun?..emang udah lama banget sih, wajar kalo kamu udah lupa” cerocosnya dengan mimik wajah yang menyenangkan.
Dhika?. Cowok yang dulu seenaknya merangkul pundakku, dan manusia paling rame dikelompoknya itu. Aku setengah tersenyum mengingatnya.
“Udah inget?..”, tanyanya kemudian.
Aku mengangguk, mengiyakannya. Pikiranku tertuju ke nama yang dia sebut
“Ragil, apa kabarnya?”
“Dia....keenakan melanglang buana ke luar negeri, “, jawabnya sambil bercanda.
Ooh..
==
Yong, aku suka kamu, sejak dulu. Sejak aku bahkan belum tau seperti apa kamu, sejak Ragil selalu mencelotehkan nama kamu, gaya kamu, sifat kamu dan kecuekan kamu. Semakin menjadi saat aku melihat kamu. Aku merasa aku gila, tapi nyatanya memang seperti ini. Ada hal-hal yang memang tidak bisa dijelaskan dengan nalar.
Tapi ini benar-benar sulit, terlalu banyak orang yang suka kamu. Kamu tau betapa gilanya Ragil membicarakan kamu dari dulu, dan tentang Petra juga. Aku merasa ikut gila, berani benar ada orang yang bisa membuat orang-orang disekitarku seperti ini. Dan yang membuatku gila adalah aku sendiri bahkan menyukainya, menyukai orang yang disukai sahabatku sendiri adalah hal paling gila yang pernah aku pikirkan meskipun aku tahu sendiri Ragil punya orang yang sangat menyukainya, Mya. Rasanya kepalaku meledak.Dan akhirnya aku memilih menjauh, berlari meninggalkan apa yang selama ini aku pikirkan, menyendiri.
Aku menghela nafas, kata-kata yang menohok diriku sendiri, melihatnya seperti aku sendiri sedang berkaca pada cermin.
Tapi pada akirnya aku sadar, aku menyukaimu, menyukai Yong bagaimanapun keadaanya. Bertemu lagi denganmu adalah sebuah kesempatan, dan aku tidak akan membuangnya. Aku tidak akan menghindar lagi, tidak akan lagi melawan hatiku sendiri. Aku akan membuatmu tahu apa yang aku pikirkan. Aku sayang seseorang bernama Yong, Kamu.
==
“yong, apa boleh aku mengikatmu?”, tanyanya dengan wajah serius.
Aku melihat lingkaran, lingkaran saturnus.
Pria saturnus itu, bukan khayalan. Dia datang dari tempat yang jauh, sangat jauh bahkan untuk masuk kedalam pikiranku. Aku tak pernah berpikir ada kemungkinan seperti ini dalam hidupku, tapi nyatanya dia hadir, terbang dari ujung pikiranku membawa cincin saturnusnya dan memberikannya padaku, sesuatu yang sangat berharga yang ia punya, hatinya. Bagaimana bisa aku melepaskan cincin saturnus ini, aku tak bisa menolaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar