Chapter 13.
Saturn man
Saturnus adalah
planet yang luas, besar dan memiliki cincin yang sangat indah. Planet itu
adalah planet yang cantik dengan banyak satelit yang mengelilinginya. Semakin
aku besar semakin pula aku menyukainya. Membayangkan bisa melihat banyak bulan
saat malam membuatku selalu ingin menghabiskan malam disana. Tentu saja ini
khayalan yang tidak masuk akal, tapi memikirkannya membuat hatiku senang. Aku
menyukainya sejak dulu.
Pria itu seperti
Saturnus, berhati besar, baik, dan memiliki wajah semanis cincinnya. Pria itu
seperti saturnus, datang dari tempat yang tak pernah aku duga sebelumnya, masuk
ke kehidupanku tiba-tiba, disaat semuanya tepat. Melihatnya membuatku terus
terngiang-ngiang kata-kata simbah dulu, Kita
tak pernah tahu apa itu cinta, yang simbah tahu jodoh akan Allah turunkan pada
saat yang tepat, siapapun orangnya, maka dialah cintamu, entah itu orang dari
masa lalu, masa ini, atau orang yang bahkan kamu temui suatu saat nanti. Ada
jalan yang tidak bisa kita rencanakan. Inikah jodoh itu?. Aku memikirkannya
terus menerus.
Seseorang dari
masa laluku?. Mungkin. Aku menghela nafas, memikirkan pertemuan kami yang tak
sengaja, tapi adakah kata tak sengaja yang sebenarnya, bukankah itu bagian dari
takdir. Benar, apapun yang kita perbuat sudah ada yang mengatur, toh jika saat
itu aku tidak datang ke acara syukuran temanku, aku bahkan tidak akan melihat
wajahnya saat ini. Aku meyakini, skenario Tuhanlah yang terbaik.
Waktu berjalan
dengan cepat, bertahun-tahun lalu aku masih terlibat dengan perasaanku sendiri,
perasaan yang tumbuh dan berkembang seiring dengan umurku yang terus beranjak.
Masa masa seragam putih abu-abu yang sangat aku suka. Mereka telah lewat,
meskipun bayangannya selalu mengisi pikiranku. Kadang aku merindukannya dan
ingin menjelajahi waktu, tapi hanya orang bodoh yang selalu ingin kembali ke
masa lalu. Karena jarum jam tidak akan pernah berputar ke kiri.
==
Aku tetaplah Yong,
meski dengan usia yang berbeda, dengan peran yang tak sama. Menapaki
jejak-jejak masa lalu membuat aku sadar aku telah melewati tahap-tahap penting
dalam hidupku. Lulus SMA, menanggalkan seragam putih abu-abuku, menuju jas
almamater, menghabiskan banyak waktuku menggeluti desain komunikasi visual yang
mencuri pikiranku. Melemparkan toga, dan menjelajahi meja-meja kerja,
menempatkanku menjadi kartunis. Pekerjaan yang sama sekali diluar pikiranku,
siapa sangka akhirnya aku bahkan tak berhubungan lagi dengan matematika, fisika
dan sebangsanya. Meskipun kadang aku rindu menggelutinya. Sudah enam tahun
lalu, mengingatkanku betapa senangnya pertama kali aku memakai seragam SMPku
setelah enam tahun bertahan dengan baju putih merah itu. Aku telah melewati banyak
fase dalam hidupku.
Ah, benar. Ini
adalah perjalanan yang menyenangkan. Berada di pesawat terbang, berpapasan
dengan awan yang bergerombol, disela lagit biru yang cerah. Hari ini matahari
bersemangat, menemani perjalananku ke Jepang, untuk sebuah short course kartun, komik, dan webtoon
di negeri itu, negeri dengan produksi komik yang luar biasa terkenal. Satu
tahun menghabiskan waktu disana, akankah terasa lama?, relatif mungkin. Yang
pasti ini jadi satu pengalaman yang penting dalam hidupku, bagaimana mungkin
aku tidak bersyukur. Dan seorang pria yang menungguku, ya..menungguku setahun
lagi.
Seseorang yang
membuat aku tersenyum dengan segala tingkahnya, selera humor yang baik,
Seseorang yang terlihat manis dengan jas yang dia pakai,dan terlihat keren dengan
gaya kasualnya, kaos, jumper, jeans dan sepatu kets biru tuanya. Seseorang yang
paling berani dari laki-laki manapun yang pernah aku temui.
===
Aku bertemu
dengannya ditempat yang tak aku pikirkan. Dirumah temanku saat syukuran
kelahiran anak pertamanya, dia menyapaku. Meski aku bahkan sama sekali tak
mengenal wajahnya.
“Hei, kamu Yong
kan??”, tanya seseorang itu memastikan, binar matanya cerah dan senyum
simpulnya yang hangat bersahabat.
“ia..maaf, siapa
ya?”, tanyaku kemudian. Aku memicingkan mataku, keheranan. Siapa orang ini aku
bakan tak mengenalnya, tapi dia seolah-olah mengenalku dengan baik.
“kamu lupa?..hei
kita kan pernah ketemu”, ujarnya kemudian. Mendesakku untuk mengingat-ingat
siapa nama pemilik wajah itu, mata menyipitnya yang manis.
Aku diam saja,
mengingatnya juga percuma, toh ingatanku memang buruk untuk mengingat nama dan
wajah orang lain. Penyakit yang sudah ada sejak dulu.
“ini aku
Dhika..”, ungkapnya tak sabaran menunggu loadingku
mengingat siapa dia.
“Dhika,
temnennya kulianya Ragil di Jogja, inget batik?,, ngumpul di alun-alun?..emang
udah lama banget sih, wajar kalo kamu udah lupa” cerocosnya dengan mimik wajah
yang menyenangkan.
Dhika?. Cowok
yang dulu seenaknya merangkul pundakku, dan manusia paling rame dikelompoknya
itu. Aku setengah tersenyum mengingatnya.
“Udah inget?..”,
tanyanya kemudian.
Aku mengangguk,
mengiyakannya. Pikiranku tertuju ke nama yang dia sebut
“Ragil, apa
kabarnya?”
“Dia....keenakan
melanglang buana ke luar negeri, “, jawabnya sambil bercanda.
Ooh..
==
Yong, aku suka kamu, sejak dulu. Sejak aku bahkan
belum tau seperti apa kamu, sejak Ragil selalu mencelotehkan nama kamu, gaya
kamu, sifat kamu dan kecuekan kamu. Semakin menjadi saat aku melihat kamu. Aku
merasa aku gila, tapi nyatanya memang seperti ini. Ada hal-hal yang memang
tidak bisa dijelaskan dengan nalar.
Tapi ini benar-benar sulit, terlalu banyak orang
yang suka kamu. Kamu tau betapa gilanya Ragil membicarakan kamu dari dulu, dan
tentang Petra juga. Aku merasa ikut gila, berani benar ada orang yang bisa
membuat orang-orang disekitarku seperti ini. Dan yang membuatku gila adalah aku sendiri bahkan menyukainya, menyukai
orang yang disukai sahabatku sendiri adalah hal paling gila yang pernah aku
pikirkan meskipun aku tahu sendiri Ragil punya orang yang sangat menyukainya,
Mya. Rasanya kepalaku meledak.Dan akhirnya aku memilih menjauh, berlari
meninggalkan apa yang selama ini aku pikirkan, menyendiri.
Aku menghela
nafas, kata-kata yang menohok diriku sendiri, melihatnya seperti aku sendiri
sedang berkaca pada cermin.
Tapi pada akirnya aku sadar, aku menyukaimu,
menyukai Yong bagaimanapun keadaanya. Bertemu lagi denganmu adalah sebuah
kesempatan, dan aku tidak akan membuangnya. Aku tidak akan menghindar lagi,
tidak akan lagi melawan hatiku sendiri. Aku akan membuatmu tahu apa yang aku
pikirkan. Aku sayang seseorang bernama Yong, Kamu.
==
“yong, apa boleh
aku mengikatmu?”, tanyanya dengan wajah serius.
Aku melihat
lingkaran, lingkaran saturnus.
Pria saturnus
itu, bukan khayalan. Dia datang dari tempat yang jauh, sangat jauh bahkan untuk
masuk kedalam pikiranku. Aku tak pernah berpikir ada kemungkinan seperti ini
dalam hidupku, tapi nyatanya dia hadir, terbang dari ujung pikiranku membawa
cincin saturnusnya dan memberikannya padaku, sesuatu yang sangat berharga yang
ia punya, hatinya. Bagaimana bisa aku melepaskan cincin saturnus ini, aku tak
bisa menolaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar