Rabu, 25 April 2012

Elementary school- 3

part 3 - my freak casper-

latar waktu...tahun 99'++an
-----

hari ini aku mau ngeluh soal adekku satu-satunya yang paling super duper kelakuannya. super duper nakal dan super duper unyu, sekarang umurnya udah lima tahun, gak seperti aku yang emoh masuk TK, dia lebih dulu masuk taman bocah-bocah yang ada di desaku. aku perjelas DESA, aku gak bakal nyeritain dia detailnya, tapi bebrapa point yang nunjukin kalo dia ternyata gak jauh beda anehnya daripada aku...Yaa!!! cepot,..ini kenyataannya, jadi terima saja, gak usah protes oke.
  1. aku sama cepot udah kayak anak kembar, kembar sial beda tahun lahir, kenapa dikatain kembar karena kami rajin ribut tiap hari, kebiasaan buruk yang bikin si mamah ikut mencak-mencak, atau teh lenong yang ikut uring-uringan, alesannya hal hal sepele, aku nyuruh dia, dia gak mau...oke dari kecil aku ternyata suka nyuruh-nyuruh..
  2. Si cepot udah mendiskriminasikan aku sejak kecil, gara-gara usia kita yang cuma beda dua tahun, otomatis si mamah dari kecil udah ninggalin aku gara-gara dia sibuk ngurus bayi casper yang satu ini, mau gak mau aku lebih sering diasuh sama tetangga...(tapi bukan berarti aku berubah jadi anak tetangga), see?, sepertinya aku memang sudah dewasa dari sejak kecil.
  3. Manusia casper yang satu ini erat banget kaiatannya sama susu Dancow, (sorry aku sebut merk), gara-gara ASI si mamah sempet tersendat, jadi gak bisa ngasih full ASI, otomatis susu formula yang jadi alternatifnya..(katanya orang-orang, aku sih mana ngerti.aku kan masih kecil...), dan gara-gara susu Dancow, aku jadi sering nyuri-nyuri susu bubuk itu buat dijadiin cemilan...(ini termasuk kasus pencurian gak yaa???? ).
  4. Dan dia punya kebiasaan super duper buruk yang bikin orang-orang geleng-geleng kepala, yaitu sering naek ojek sembarangan. ceritanya, casper ini hoby banget nyetopin ojek, terus dia naek keliling-keliling, sampe balik kerumah, dirumah si mamah tinggal ngeluarin isi dompet buat bayar tukang ojeknya..(herannya si mamah kok ya nyantei nyantei aja..), aku jadi mikir..gimana kalo kebiasaan buruk ini nemplok di anak-anak kecil tahun 2012...para penculik anak kayaknya lancar jaya ngembangin bisnis mereka. Hey cepot, beruntunglah kau hidup dijaman dulu...
  5. kebiasaan buruk lain yang bikin aku gedek setengah mati adalah, malem-malem, ngebangunin aku yang lagi pules-pulesnya tidur, pake acara maksa...cuma buat..Minta anterin pipis ke kamar mandi  !!!!, sial banget emang, dan dia termasuk anak yang pantang menyerah..dan berusaha sekuat tenaga sambil nahan kencing sampai aku bangun dan ogah-ogahan nganterin ke kamar mandi...
  6. dia takut sama yang namanya soang..bahasa indonesianya apa yaa..angsa kali, dia takut sama lehernya yang panjang dan paruhnya yang suka nyosor-nyosor, dan gara-gara TKnya ngelewatin ternak soang yang dilepas bebas gitu, tiap berangkat dan pulang ngelewatin tempat itu, dia sembungi dibelakang temen Tknya yang seorang Perempuan !!!!,, oh adek aku yang satu ini.....kenapa tingkahnya unyu-unyu amaaat...
  7. cara bangunin diat dari tidur gampang banget, tinggal raba telapak kakinya, matanya langsung melotot, dan mulutnya langsung uring-uringan....
kayaknyaa cukup segitu dulu cerita tentang ini anak....
dan tentang nama cepot....itu nama panggilan abadi kita, alasannya apa...gak usah dibahas kekekke....
nona besar aku gimana?...tunggu cerita selanjutnya...*evil laugh...

ttd - winampyon-

quote
lihatlah kelebihan dengan mata kanan anda, dan amatilah kekurangan dengan mata kiri anda, maka anda akan menemukan jalan untuk beriringan bersama keduanya.

Grandmarvelous -A thing called Fate- 15


Chapter 15. Ending, like a circle
“Ragil?”
Aku seolah tak percaya dengan apa yang kulihat, sosok itu benar-benar nyata, mimpi di siang bolong ternyata bukan omong kosong. Terjadi disaat yang tidak kuduga sama sekali.
Laki-laki itu sama kagetnya denganku, dia mengatupkan bibirnya yang sedari tadi menghembuskan uap-uap dingin dari mulutnya. Kami sama-sama menggelengkan kepala seolah tak percaya dengan kejadian yang baru kami alami ini, suatu kebetulan yang tak pernah aku pikirkan. Apakah Tokyo begitu sempit?, bukan, apakah dunia ini benar-benar selebar daun kelor?
“Yong, hei..”, ujarnya masih setengah tak percaya seperti juga aku.
“hei juga..kejutan “, jawabku sambil tersenyum.
“darimana?..kok bisa kita ketemu disini, di Tokyo?”, katanya lagi..
“abis jalan- jalan, liat Tokyo tower, aku lagi program course komik disini, dapet rejeki dari kantor”, jawabku menghilangkan sedikit kebingungannya.
“waw,, oke, aku masih pengen ngobrol banyak..nikmatin akhir summer disini lumayan menyenangkan..hari ini udah larut besok-besok aku ajak kamu ngobrol disela waktu kosongku”. Cerocosnya, aku tersenyum melihat antusiasnya, meskipun ada sedikit ruang yang menghampa.
“aku antar kamu pulang” ujarnya kemudian. Aku mengangguk, kami tak banyak bicara disepanjang perjalanan, sibuk dengan pikiran masing-masing yang berkecamuk, hingga sampai di dorm tempatku tinggal.
“udah sampai, “ kataku kemudian. Kami bertukar nomer telepon,
“I’ll call you later..”, katanya sambil melambaikan tangan, punggungnya menghilang dari pandanganku, aku menghela nafas panjang. Aku mengingat Dhika.
---
Aku menghabiskan waktu-waktu akhirku di Jepang dengan Ragil, disela waktu luangku usai pelaksanaan course yang melelahkan,serta diwaktu luang pekerjaannya yang sibuk ini awal musim gugur yang indah, angin mulai menghembuskan udara segarnya meski cukup dingin.
“Kapan kamu balik Indonesia?”, tanyanya kemudian.
“Akir bulan ini, jawabku kemudian, kamu berapa lama disini?”, aku balik bertanya.
“gak tahu, setahun, dua tahun atau bahkan lebih, tergantung perusahaan,”, jawabnya kemudian. Aku menganggukkan kepalaku.
Suasananya diam meski taman ini cukup ramai, aku mengayunkan ayunan perlahan, kakiku mengetuk-ngetuk tanah, sebuah taman kota yang tertata apik dekat kantornya.
“masalah yang dulu itu, sorry..tapi aku benar-benar serius”, katanya memulai pembicaraan, aku menghadapkan wajahku ke arahnya, aku tahu cepat atau lambat hal ini harus diselesaikan.
“aku tahu..tapi maaf banget, segimanapun rasa suka aku ke kamu kak, aku punya kak……”
“aku tahu…”, potongnya kemudian, “Dhika, kan?”, ujarnya memastikan. Aku mengangguk, mengiakan apa yang Ragil katakan.
“Aku suka kamu, dan perasaan itu gak berubah dari dulu, aku tak bisa banyak berkata, karena isinya sama dengan yang aku tuliskan, aku mengutuki diriku sendiri kenapa keadaannya seperti ini, menjadi egois itu sulit. Ah aku hanya menghela nafas, kamu benar-benar seperti racun yang perlahan membunuh.”, kata-katanya membuatku tak enak.
“Mya?..” tanyaku kemudian.
“kami baik, sangat baik. Sampai akhirnya aku dapat beasiswa S2 diluar, dia gak bisa menjaga hubungan long distance, dia seperti membaca isi pikiranku bahwa ada nama lain yang aku sediakan ruangnya dari dulu, bukan namanya. Dan long distance seperti menjadi pembenaran baginya untuk mulai menghilangkan jejaknya dari tapak langkahku, dan saat itu terjadi aku mengutuki lagi diriku, kenapa aku tidak bertindak egois dari dulu.”, helaan nafas beratnya terdengar ditelingaku.
“akhirnya aku putuskan untuk fokus pada karirku, sebagai pelarian, sebagai jalan untuk tetap mengingatmu, mengumpulkan sikap untuk mengejarmu, sampai akhirnya dipernikahan kakakmu…..”
“hal yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya bahwa seseorang bisa menggenggammu lebih dulu daripada aku, dan aku melihatnya, melihat sorot matanya aku selalu berfikir bahwa dia yang kamu pilih, dan saat itu pula aku memutuskan untuk kembali secepatnya, melihatmu membuat aku gila…”
“seandainya saja dulu kamu bilang, mungkin ceritanya lain, aku bahkan sama sekali tak suka Angga..”, jawabku kemudian.
“”aku tahu, menyesal tak mungkin di awal..tapi melihat kamu membuat aku tak bisa berfikir jernih, ada hal-hal yyang tak bisa aku kendalikan dengan nalarku, dan saat aku merenung, kesalahan terbesar semua ini adalah diriku sendiri.., andai aja waktu bisa berjalan mundur..”
“waktu gak bisa berjalan mundur, kita hanya bisa berjalan mundur melalui kenangan…”, ungkapku menjawab gumamannya, aku menarik nafas panjang..
“dan saat ini aku punya seseorang yang terbaik yang aku miliki, Dhika.”
“Dhika teman terbaikku, dia selalu bilang aku selalu ngalahin dia dalam segala hal, tapi untuk satu hal yang terpenting dalam hidupku, aku benar-benar sudah kalah telak darinya”.
“Jika Dhika orangnya, aku bahkan tak menyesal berjalan seperti keong untuk mengejar kamu,”.
“Aku suka kamu, tapi bahkan aku tidak bisa mengejar kamu dengan kuat, aku memang seharusnya kalah.”
“dan kamu kak, bakal nemu orang yang luar biasa untuk mengisi nama di ruang pikiranmu, percaya jodoh punya jalur yang tak pernah kita duga sebelumnya”
“semoga, tapi kamu masih tetap mau jadi cucunya kan?, dan jangan lupa, kamu masih punya hutang satu sketsa untukku”, pintanya kemudian.
“pasti, tapi maaf..sketsanya…..”,
“aku tau..kamu mesti buat sketsa dengan wajah baru yang ada dipikiranmu, bukan lagi aku., eh ngomong-ngomong, gimana kabarnya Petra?”, tanyanya kemudian, aku tertawa renyah..
“kakak aku, dia bahkan lebih asik ketimbang dudung..”,aku melanjutkan obrolanku,
“Ngomong-ngomong, aku lapar, kapan kita selesai ngobrolnya, jangan bilang ini upaya pengalihan kamu biar aku lupa mau ditraktir makan sushi sepuasnya?”, tanyaku setengah bercanda. Dia mengacak-acak rambutku dengan gemas,
“ayo, inget..jangan nambah porsi”, ujarnya. Aku tertawa lebar, kami berjalan beriringan meninggalkan jejak-jejak masa lalu.
Sebuah sketsa wajah yang aku bakar, apinya perlahan melahap tiap bagian kertasnya, menguburnya sebagai kenangan yang menyenangkan, melepaskannya, karena dia sudah melepaskanku. Dan karena aku sudah memilih.
 -----
 Waktu berlalu begit cepat, benar sepertinya bumi berputar makin cepat hingga aku tak sadar telah melalui seperempat abad hidupku dengan kenangan yang menyenangkan. Hari ini pernikahan Rima, bukan dengan Petra, dengan seorang pria kakak tingkatnya yang memiliki konsen sama, dibidang penelitian, keluarga scientis yang baru, aku bahkan tak bisa membayangkan sejenius apa anaknya nanti.
Petra mengagetkanku dengan menggandeng seseorang yang bahkan wajahnya sangat aku kenal, Ina, teman sekelasku di SMA dulu, anak pendiam dan sedikit kikuk, yang sekarang jadi seorang penulis novel dan kolom majalah. Bagaimana bisa? Kapan ketemunya?, mereka hanya tersenyum menanggapi kehebohan rasa penasaran kami.
Tapi tak ada yang lebih menghebohkan kedatangan Dias yang sendirian, Aku diam melihat ketidaknyamanan ini, kami semua membawa pasangan, sangat tidak nyaman melihatnya berjalan sendirian, hingga secara tiba-tiba seseorang merangkulkan tangannya di pundak Dias, seseorang yang membuatku mengerutkan dahi.
“Riffi?..yas lo?..Rim?..”, aku menolehkan pandangan tanda tanya kearah Rima, dia tersenyum simpul sambil mengangkat bahunya.
“Apaaa….!!!”, semua orang tertawa melihat kehebohanku, hal yang tak pernah kusangka sebelumnya. Dunia memang penuh tanda tanya yang tak perlu dicari jawabannya.
“Eh jangan masang muka gak percaya kayak gitu, Gue serius sama dia kak Yong..”, jawab Riffi diselingi selorohan yang lain, aku melihat mata Dias memancarakan rasa senang yang tulus, benar jika orang mengatakan Allah mengantarkan jodoh itu ketangan kita disaat yang tepat.
Aku mengingat Ragil, aku yakin seseorang akan mengisi hidupnya sebentar lagi, sebab Allah sudah menyiapkan seseorang terbaik yang akan menyempurnakan hidupnya.
Tiga orang yang paling mengisi hatiku, Petra, orang pertama yang aku suka. Ragil, orang pertama yang membuat aku jatuh cinta dan Dhika, orang pertama yang membuatku memutuskan memiliki seseorang sebagai pengisi hidupku. Bukankah aku sangat beruntung.
Dhika menggenggam tanganku, kami telah memutuskan menjalani hidup kami dan merencanakan kehidupan masa depan kami sebaik mungkin, tidak ada yang sempurna, hanya mencoba untuk selalu menjadi baik. Dan seperti itulah hidup, tidak pernah ada ujungnya, sebab akhir akan selalu jadi awal cerita yang baru, life is like a circle.

END.

PS: this is my first story...so please have fun reading..and leave a comment okay...im still learning a lot..:D

Grandmarvelous -A thing called Fate- 14


Chapter 14. Previous love story
Sedikit aneh membicarakan masa lalu, beberapa orang mungkin bertanya- tanya bagaimana dengan Petra?, bagaimana kelanjutan Ragil?, seolah ceritaku terputus begitu saja dan tiba-tiba aku muncul bertahun-tahun kemudian dengan cerita berbeda. Kehidupan yang terlalu muluk, tapi pada dasarnya masa lalu tak pernah hilang, selalu ada penghubung antara kehidupan lalu dengan saat ini, saat dimana aku berjalan dengan cerita yang baru. Tidak seperti itu, masa lalu yang mengantarku menemui ceritaku saat ini, seperti sebuah buku, aku hanya memulai jejak kakiku di buku baru, setelah halaman terakhir bukuku yang dulu penuh dengan coretan yang aku tulis, hingga tak ada tempat untuk aku menulis lagi.
---
Ini November yang dingin, di Negeri sakura. Suhu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dinegeri tropisku tercinta, paling-paling hujan deras yang disertai angin kencang, tapi untuk memegang butiran-butiran salju, jangan harap bisa melakukannya, kecuali di puncak pegunungan Cartenz atau mungkin Jayawijaya di Papua sana. Yang jelas salju tak seindah seperti yang terlihat, salju itu dingin, beku. Auranya menusuk ke tulang sumsumku.
Course baru dimulai dua hari lagi, baik sekali memberiku sedikit waktu istirahat dan beradaptasi dengan perubahan cuaca yang ekstrim. Aku sempat melihat tempat pelatihan akan dilaksanakan bersama rombongan peserta dari berbagai Negara, bercakap- cakap dengan campuran bahasa isyarat, meski hampir semua peserta bisa berbahasa Inggris, toh pihak penyelenggara course sendiri tulen menggunakan bahasa ibunya, yang membuat kami terbata-bata menjawab dalam bahasa Jepang. Kami tertawa mengingat kekonyolan kami bicara dengan logat yang aneh, aku tersenyum sambil melirik Inge, peserta course disampingku. Teman yang bahasanya paling aku mengerti, Bahasa Indonesia.
“Hei, mau jalan-jalan”, ajakku pada Inge setelah perkenalan sesama peserta yang menyenangkan tadi. Malam ini memang dingin, tapi rasanya malah membuatku makin ingin menjejakkan kakiku ditengah jalanan yang memutih tertutup salju, dan deretan pepohonan yang tak berdaun.
“Oh, Yong..no thanks, gue lebih milih tidur digulung selimut daripada ngebeku kedinginan”, jawabnya kemudian. Aku tersenyum.
“oke..aku keluar dulu, jalan-jalan sekitar dorm aja sih”, ujarku kemudian. Aku memakai jaket tebal,syal dan penutup kepala yang hangat. Perlengkapan musim dingin yang sengaja ku beli sebagai persiapan atas saran kakakku, Nanda yang masih aja petakilan walaupun udah punya istri yang baik, beruntungnya dia.
“ooh..benar-benar dingin..”, runtukku dalam hati. Aku menjejakkan langkah-langkah kakiku yang berat, tapak-tapak sepatu boot mengekor dibelakangku dengan rapi, udara dingin memang membuat perut mudah lapar, setelah beberapa saat aku memutuskan untuk singgah di sebuah minimarket kecil untuk makan ramen, makanan paling cocok dimakan ditengah hawa dingin yang menusuk.
Aku memesan kopi dan mie ramen instan, penjaga toko sepertinya mengerti maksudku meski aku bicara dengan bahasa isyarat. Benar, bahasa jepangku yang masih buruk membuatku merasa konyol untuk bercakap-cakap dengan mereka, meski aku sedikit paham apa yang mereka bicarakan.
“arigatou gozaimasu..”, ucapku kemudian saat ramen instanku sudah siap, aku membawanya ke bangku yang ada di ujung toko, Minimarket disini memang menyediakan tempat untuk menikmati makanan yang kita beli, cukup praktis karena aku tidak pergi jauh jauh hanya untuk makan.
“benar-benar bagus”, gumamku dalam hati. Aku melihat dengan jelas jalanan didepanku, salju-salju yang turun perlahan, dan langit hitamnya yang bersih, orang-orang berlalu lalang, pemandangan sederhana yang membuatku nyaman. Selesai menghangatkan perut, kuputuskan untuk berjalan lagi.
Sudah sejauh ini. Ah, kuputuskan untuk kembali ke dorm, sebelum malam larut, udara makin dingin dan sebelum Inge berfikir bahwa aku kesasar. Aku menginjakkan langkahku di jejak sebelumnya. Tiap jejaknya membawaku kembali ke tahun-tahunku sebelumnya, ke masa itu. Sebuah masa di waktu yang lalu.
---
“Kamu yakin?”.. tanyanya kemudian.
Aku mengiakan, Oh God, rasanya sangat memalukan, tapi memang kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulutku. Am I wrong?..thats stupid.
Pria itu seolah tak percaya, setelah setahun menunggu dengan sabar, sangat-sangat sabar akhirnya dia mendapat jawaban yang tak akan ia lupakan sepanjang hidupnya.             
“Kenapa Dhik, gak percaya?”, tanyaku kemudian. Aku melihatnya menggelengkan kepala dengan wajah penuh kejutan yang tidak bisa aku gambarkan, bibirnya bahkan belum ia tutup rapat sejak tadi, aku tersenyum simpul.
“Ini bukan bercandaanmu kan?”, tanyanya memastikan, sepertinya dia seolah takut bahwa ini adalah jokes garing yang aku lancarkan, benar hanya untuk menggodanya.
“absolutely bukan, kamu pikir aku becanda sama keputusan hidupku?”, jawabku kemudian, ini memang bukan hal yang mudah bahkan untuk diriku sendiri, tapi entah mengapa jantungku ikut berdegup kencang melihat ekspresi wajahnya, sejak kapan awalnya aku tak tahu, yang jelas dia membuatku perasaanku ini menjadi sederhana.
“oh, yong..itu gila..kepalaku mau meledak rasanya, hari ini aku gak nganter kamu balik, aku langsung pulang kerumah, dan menjauhi kantor sebelum orang-orang berpikir aku sinting”, jawabnya kemudian.
“bye..”, ujarnya kemudian. Aku melongo saat dia benar-benar pergi dari hadapanku saat itu juga, langkah kakinya riang seakan meloncat-loncat kegirangan. Aku bahkan tidak bisa menahan senyumku sendiri, dia mengejar dengan sabar dalam waktu yang lama, dan setelah mendapat jawabannya dia pergi dengan waktu yang sangat singkat. Cuma Dhika yang bisa begini, benar-benar hanya dia.
Aku memang telah mengambil sebuah keputusan, yang aku yakin tak akan aku sesali, keputusan untuk mengatakan kata yang pertama kalinya aku ucapkan didepannya.
“I like you Dhika, aku butuh kamu dalam hidupku”.
Kata yang membuatnya gila, dan membuatku sinting.
Bayangannya mengabur saat aku menjejakkan langkah-langkahku lebih jauh ke masa itu
----
Siang nanti pernikahan kakaku, Nanda. Meski aku tetap memanggilnya Dudung. Semua orang bahagia tentu saja, Mamah, Bapak,keluarga besarku, keluarga kak Resti calon kakak iparku, dan semua orang yang sibuk dengan acara ini. Keluarga simbahpun akan datang pagi ini, mataku mencari-cari sosok seseorang dengan punggung yang tak bisa aku lupakan. Apakah dia akan datang?.
“Heh bocah, setelah bertahun-tahun masih aja mikirin Ragil?”, seseorang menjewer telingaku pelan, seseorang yang hafal betul apa yang aku pikirkan, teman ributku, calon mempelai pria yang sleboran, Nanda. Aku tak bergeming, menghela nafas, melihatnya dengan tatapan datar.
“ia,..”, jawabku pelan.
“inget jangan ngerusak mood hari ini, meskipun nanti lo ketemu sama Ragil, masa lu mau sedih-sedihan di hari bahagia gue, udah cantik kayak gini mukanya yang seger dong, tuh ditungguin Angga diluar, temen-temenmu juga pada nunggu, Rima, Dias sama gerombolannya.”, katanya sambil menepuk-nepuk pipiku, kebiasaannya dari dulu.
“Atau lu mau gue ngomong ke Ragil langsung soal elo?.”, tanyanya kemudian.
“Jangan, gila apa..dia itu punya cewek tau..sembarangan banget”, jawabku menolak usulnya. Ini mah cari gara-gara namanya.
Ia menyeretku keluar, aku mengikutinya.  Angga tersenyum ke arahku, aku balik membalasnya. Laki-laki itu teman kuliah kakakku dulu, sesorang yang dikenalkan kakakku untuk mengusir bayangan Ragil dalam pikiranku, Nanda bilang, kalo aku gak mau terbuka buat ngenal orang lain gimana aku bisa menghapus keberadaan Ragil di otakku. Mungkin ada benarnya juga.
Hubungan kami baik, meskipun belum sampai pada tahap apapun, Angga juga datang saat aku wisuda meskipun peran pendamping wisudaku tetap aku serahkan pada partner ributku Nanda. Menyukai itu sulit, itulah sebabnya membiarkan dia lebih mudah aku lakukan.
“Kemana aja, tadi temen-temenmu ada disini?”, tanya Angga kemudian.
“liat calon pengentinnya”, jawabku mencari alasan. Masa ia aku mesti bicara jujur, manusia mana yang tega menggunakan prinsip jujur ditengah situasi macam ini.
Acara sudah dimulai. Aku mengikutinya dengan seksama, Angga memegang tanganku erat, sangat tidak nyaman, ingin rasanya aku berkelit dan melepaskan genggamannya, tapi tubuhku terlalu kaku, saat ujung mataku bertemu dengan sorot mata yang aku hafal. Mata kami saling bertatap, Ragil.
----
“Mau bertahan sampe kapan, apa lo mau nyoba nerima Angga?”
“Gue gak tau..gue gak bisa”,ujarku sambil menghambur ke pelukan dua sahabat setiaku, Rima dan Dias.    
----
Jejak langkahku mulai terhapus oleh salju salju yang turun, aku menarik nafas panjang, mataku mulai berkaca-kaca.   
Simbah meninggal….
Sebuah kabar yang membuatku tersentak. Aku bergegas menuju ke rumahnya, membolos dua mata kuliah hari ini. Pikiranku berkecamuk, mataku tak bisa aku tahan lagi. Aku menangis lirih.
Semua orang berkumpul di rumah tua yang punya kenangan ini, Ragil mengambil penerbangan tercepat dari Jakarta ke Jogja, anak-anak serta cucunya berkumpul, keluargaku dalam perjalanan ke Jogja, bahkan Myapun datang.
Aku terdiam, aku memang bukan cucunya, bukan keluarga intinya, tapi ada kenangan dimana aku bahkan tak bisa melupakan itu sedetikpun, kenangan yang membuatku menyukainya lebih dari apapun. Dia tetap nenek yang aku sayangi.
Aku melihat mereka,  Ragil yang menahan air matanya, Mya yang menggenggam tangannya erat, Aku memejamkan mataku. Rasanya aku ingin berlari dari sini, bagaimana mungkin terlintas pikiran seperti ini dalam keadaan duka. Aku beringsut menjauh, menyepi.
Begitulah perjalanan manusia, suatu saat nanti jejaknya akan terhapus takdir.
Simbah, bagaimana kabarmu disana…aku kangen.
Dan aku measih menjejakkan langkah-langkah baruku diatas hamparan salju.
---
“ lu bahkan lebih keren daripada kakak gue sendiri, gue suka sama lu..sangat-sangat suka”, kataku saat itu.
Dia tersenyum.
Aku benar-benar harus belajar mengerti perasaan. Ada hal-hal yang bahkan tak bisa aku pikir dengan nalar yang selama ini aku banggakan. Kalo suka ya suka, kenapa mesti dipersulit pikirku saat itu. Ya aku suka cowok itu, Petra.
Aku menjejakkan tahun terakhirku di SMA bersama dia, ditengah hubunganku yang tidak terlalu baik dengan Rima dan Dias, alasannya tak perlu aku bicarakan lagi. Kami masih berteman baik, meski tak sebaik dulu, seperti ada gap kasat mata yang membuat kami canggung.
Aku dan Petra menghabiskan banyak waktu yang menyenangkan. Dia pacarku?, mungkin ia atau mungkin saja tidak, aku hanya suka dia, jadi kenapa dipersulit, dia juga terbuka menerimaku dengan baik. Kadang-kadang aku heran kenapa hubungan orang-orang terlihat sangat rumit, bukankah sederhana itu menyenangkan.
Dia menjagaku dengan baik, kami hangout bersama, belajar bersama, main, menghabiskan waktu yang menyenangkan dengan hobby kami yang sama, pecinta komik, anime, manga dan sebangsanya meskipun aku sedikit beda selera musik dengannya. Kpop memang sudah mendarah daging sejak dulu di hatiku.
“ ini semua sketsaku?”, ujarnya sambil tersenyum saat aku memperlihatkan sketsa-sketsa yang aku buat sejak dulu, sketsa yang sudah lama tak sentuh semenjak kepulanganku dari liburan dulu.
“ia..aneh ya..”, tanyaku setengah malu, melihat ekspresinya yang tersenyum simpul.
“bagus kali..mirip sama aslinya,, bakat kamu keren..jadi komikus aja sekalian”, jawabnya sambil bergurau.
Aku tertawa, tapi fikiranku tertuju ke hal lain, sebuah surat yang terselip di buku sketsaku, dan sketsa wajah seseorang yang separuh jadi. Sangat mengganggu, benar-benar mengangguku, kenapa perasaanku sangat lain?. Aku bahkan tak bisa memahami diriku sendiri.
---
“Petra, apa gue salah?”, pertanyaanku yang dijawab dengan senyumnya yang manis.
“ Kamu itu gak salah, ini wajar aja, yang salah adalah bahwa kamu bahkan gak ngerti isi pikiranmu sendiri, paham’, jawabnya kemudian.
“tapi itu gak berarti gue gak suka lo, gue sangat suka lo, tapi kenapa pikiranku ke orang itu beda, gue bahkan gak tahu sebenarnya gue ini kenapa”..
“suka sama cinta itu beda Yong,..ada saat dimana kamu mesti mulai berfikir tentang itu, gak sesimple yang kita duga lho”, jawab Petra sok bijak, aku pura-pura mencibir.
“tapi lo gak marah sama gue?”, tanyaku lagi. Petra tertawa renyah,
“Ia, aku pengen banget marah sama kamu saat kamu cerita jujur bahwa ada orang yang membuat pikiranmu gak jernih, tapi aku gak bisa, aku gak bisa marah sama kamu, kamu itu jujur, dan sikap innocent kamu bahkan membuat aku beneran sangat nyaman”.
“gue gak ngerti?”
“ aku bahkan selalu berfikir kalo kamu itu adekku, ini aneh, aku bahkan bisa melakukan banyak hal sama kamu, dan semakin lama aku kenal kamu aku bahkan gak bisa memposisikan aku sendiri untuk suka kamu, aku terlalu sayang anak polos ini”,
“jadi..?”
“ aku seneng, you’re truly my cute sister”
“love you my best brother, lu bahkan lebih keren dari kakak gue sendiri”
 “Jadi, apa lu masih suka sama Rima?”, tanyaku kemudian.
“hmm…mungkin, kalopun ia, bakal ada jalannya sendiri, dan itu bukan karena kamu, kalopun bukan, masa depan terlalu sulit buat ditebak”, jawabannya yang menggantung, aku menangguk mengiakan. Benar, selalu ada jalan yang tak pernah kita duga yang diberikan Tuhan.
Kami berdua tersenyum senang, ada perasaan lega yang menjalar dihatiku, seperti sebuah perasaan saat aku menghirup aroma teh.
Aku tersenyum, Inge sudah tertidur pulas, aku memejamkan mata, esok ada jejak-jejak langkah baru yang akan aku lalui.

Grandmarvelous -A thing called Fate- 13


Chapter 13. Saturn man
Saturnus adalah planet yang luas, besar dan memiliki cincin yang sangat indah. Planet itu adalah planet yang cantik dengan banyak satelit yang mengelilinginya. Semakin aku besar semakin pula aku menyukainya. Membayangkan bisa melihat banyak bulan saat malam membuatku selalu ingin menghabiskan malam disana. Tentu saja ini khayalan yang tidak masuk akal, tapi memikirkannya membuat hatiku senang. Aku menyukainya sejak dulu.
Pria itu seperti Saturnus, berhati besar, baik, dan memiliki wajah semanis cincinnya. Pria itu seperti saturnus, datang dari tempat yang tak pernah aku duga sebelumnya, masuk ke kehidupanku tiba-tiba, disaat semuanya tepat. Melihatnya membuatku terus terngiang-ngiang kata-kata simbah dulu, Kita tak pernah tahu apa itu cinta, yang simbah tahu jodoh akan Allah turunkan pada saat yang tepat, siapapun orangnya, maka dialah cintamu, entah itu orang dari masa lalu, masa ini, atau orang yang bahkan kamu temui suatu saat nanti. Ada jalan yang tidak bisa kita rencanakan. Inikah jodoh itu?. Aku memikirkannya terus menerus.
Seseorang dari masa laluku?. Mungkin. Aku menghela nafas, memikirkan pertemuan kami yang tak sengaja, tapi adakah kata tak sengaja yang sebenarnya, bukankah itu bagian dari takdir. Benar, apapun yang kita perbuat sudah ada yang mengatur, toh jika saat itu aku tidak datang ke acara syukuran temanku, aku bahkan tidak akan melihat wajahnya saat ini. Aku meyakini, skenario Tuhanlah yang terbaik.
Waktu berjalan dengan cepat, bertahun-tahun lalu aku masih terlibat dengan perasaanku sendiri, perasaan yang tumbuh dan berkembang seiring dengan umurku yang terus beranjak. Masa masa seragam putih abu-abu yang sangat aku suka. Mereka telah lewat, meskipun bayangannya selalu mengisi pikiranku. Kadang aku merindukannya dan ingin menjelajahi waktu, tapi hanya orang bodoh yang selalu ingin kembali ke masa lalu. Karena jarum jam tidak akan pernah berputar ke kiri.
==
Aku tetaplah Yong, meski dengan usia yang berbeda, dengan peran yang tak sama. Menapaki jejak-jejak masa lalu membuat aku sadar aku telah melewati tahap-tahap penting dalam hidupku. Lulus SMA, menanggalkan seragam putih abu-abuku, menuju jas almamater, menghabiskan banyak waktuku menggeluti desain komunikasi visual yang mencuri pikiranku. Melemparkan toga, dan menjelajahi meja-meja kerja, menempatkanku menjadi kartunis. Pekerjaan yang sama sekali diluar pikiranku, siapa sangka akhirnya aku bahkan tak berhubungan lagi dengan matematika, fisika dan sebangsanya. Meskipun kadang aku rindu menggelutinya. Sudah enam tahun lalu, mengingatkanku betapa senangnya pertama kali aku memakai seragam SMPku setelah enam tahun bertahan dengan baju putih merah itu. Aku telah melewati banyak fase dalam hidupku.
Ah, benar. Ini adalah perjalanan yang menyenangkan. Berada di pesawat terbang, berpapasan dengan awan yang bergerombol, disela lagit biru yang cerah. Hari ini matahari bersemangat, menemani perjalananku ke Jepang, untuk sebuah short course kartun, komik, dan webtoon di negeri itu, negeri dengan produksi komik yang luar biasa terkenal. Satu tahun menghabiskan waktu disana, akankah terasa lama?, relatif mungkin. Yang pasti ini jadi satu pengalaman yang penting dalam hidupku, bagaimana mungkin aku tidak bersyukur. Dan seorang pria yang menungguku, ya..menungguku setahun lagi.
Seseorang yang membuat aku tersenyum dengan segala tingkahnya, selera humor yang baik, Seseorang yang terlihat manis dengan jas yang dia pakai,dan terlihat keren dengan gaya kasualnya, kaos, jumper, jeans dan sepatu kets biru tuanya. Seseorang yang paling berani dari laki-laki manapun yang pernah aku temui.
===
Aku bertemu dengannya ditempat yang tak aku pikirkan. Dirumah temanku saat syukuran kelahiran anak pertamanya, dia menyapaku. Meski aku bahkan sama sekali tak mengenal wajahnya.
“Hei, kamu Yong kan??”, tanya seseorang itu memastikan, binar matanya cerah dan senyum simpulnya yang hangat bersahabat.
“ia..maaf, siapa ya?”, tanyaku kemudian. Aku memicingkan mataku, keheranan. Siapa orang ini aku bakan tak mengenalnya, tapi dia seolah-olah mengenalku dengan baik.
“kamu lupa?..hei kita kan pernah ketemu”, ujarnya kemudian. Mendesakku untuk mengingat-ingat siapa nama pemilik wajah itu, mata menyipitnya yang manis.
Aku diam saja, mengingatnya juga percuma, toh ingatanku memang buruk untuk mengingat nama dan wajah orang lain. Penyakit yang sudah ada sejak dulu.
“ini aku Dhika..”, ungkapnya tak sabaran menunggu loadingku mengingat siapa dia.
“Dhika, temnennya kulianya Ragil di Jogja, inget batik?,, ngumpul di alun-alun?..emang udah lama banget sih, wajar kalo kamu udah lupa” cerocosnya dengan mimik wajah yang menyenangkan.
Dhika?. Cowok yang dulu seenaknya merangkul pundakku, dan manusia paling rame dikelompoknya itu. Aku setengah tersenyum mengingatnya.
“Udah inget?..”, tanyanya kemudian.
Aku mengangguk, mengiyakannya. Pikiranku tertuju ke nama yang dia sebut
“Ragil, apa kabarnya?”
“Dia....keenakan melanglang buana ke luar negeri, “, jawabnya sambil bercanda.
Ooh..
==
Yong, aku suka kamu, sejak dulu. Sejak aku bahkan belum tau seperti apa kamu, sejak Ragil selalu mencelotehkan nama kamu, gaya kamu, sifat kamu dan kecuekan kamu. Semakin menjadi saat aku melihat kamu. Aku merasa aku gila, tapi nyatanya memang seperti ini. Ada hal-hal yang memang tidak bisa dijelaskan dengan nalar.
Tapi ini benar-benar sulit, terlalu banyak orang yang suka kamu. Kamu tau betapa gilanya Ragil membicarakan kamu dari dulu, dan tentang Petra juga. Aku merasa ikut gila, berani benar ada orang yang bisa membuat orang-orang disekitarku seperti ini. Dan yang membuatku gila adalah aku sendiri bahkan menyukainya, menyukai orang yang disukai sahabatku sendiri adalah hal paling gila yang pernah aku pikirkan meskipun aku tahu sendiri Ragil punya orang yang sangat menyukainya, Mya. Rasanya kepalaku meledak.Dan akhirnya aku memilih menjauh, berlari meninggalkan apa yang selama ini aku pikirkan, menyendiri.
Aku menghela nafas, kata-kata yang menohok diriku sendiri, melihatnya seperti aku sendiri sedang berkaca pada cermin.
Tapi pada akirnya aku sadar, aku menyukaimu, menyukai Yong bagaimanapun keadaanya. Bertemu lagi denganmu adalah sebuah kesempatan, dan aku tidak akan membuangnya. Aku tidak akan menghindar lagi, tidak akan lagi melawan hatiku sendiri. Aku akan membuatmu tahu apa yang aku pikirkan. Aku sayang seseorang bernama Yong, Kamu.
==
“yong, apa boleh aku mengikatmu?”, tanyanya dengan wajah serius.
Aku melihat lingkaran, lingkaran saturnus.
Pria saturnus itu, bukan khayalan. Dia datang dari tempat yang jauh, sangat jauh bahkan untuk masuk kedalam pikiranku. Aku tak pernah berpikir ada kemungkinan seperti ini dalam hidupku, tapi nyatanya dia hadir, terbang dari ujung pikiranku membawa cincin saturnusnya dan memberikannya padaku, sesuatu yang sangat berharga yang ia punya, hatinya. Bagaimana bisa aku melepaskan cincin saturnus ini, aku tak bisa menolaknya.

Grandmarvelous -A thing called Fate- 12


Chapter 12. His letter
Dear yong,  anak kecil masa laluku
Apa kabar?, lucu ya rasanya nulis surat kayak gini, beda generasinya. tapi kamu sendiri yang bilang kamu suka baca surat. Aku gak tau kamu masih suka atau enggak, tapi aku putuskan untuk menulisnya.
Jangan tertawa baca suratku, aku sendiri bingung apa aku harus ketawa, sedih, marah atau bagaimana meluapkan emosiku. Tapi, bisakah kita balik sebentar ke masa lalu?. Sebentar saja.
Kamu selalu nanya kenapa namamu Yong?, masih bisa mengingatkah?..itu nama panggilan dariku, dulu saat kamu ingusan. Saat aku masih belajar membaca, enta kenapa aku selalu salah mengeja namamu, Moyong..dan panggilan Yong selalu keluar dari mulutku, toh kamu juga gak pernah marah, dan selalu menoleh saat aku memanggilmu Yong, anak kecil tahu apa?..
Apa kamu ketawa?..Aku selalu tersenyum mengingatnya.
Ini basa basi yang buruk ya, lama sekali aku gak liat kamu, dan harus aku akui kamu berubah banyak, berubah jadi anak cantik dengan gaya serampangannya. Apa aku mesti bicara jujur?. Mulutku benar-benar kaku melihat kamu setelah sejak awal kita ketemu, kamu tahu rasanya nervous akut?. Itu yang membuat aku gak berani untuk menyapa dan bicara ramah denganmu. Aku merasa konyol, saat kamu menggerutu, menganggapku robot.
Masih menertawakanku?
Maaf untuk waktu kemarin yang mungkin tak terlalu menyenangkan, gimana bisa aku bersikap baik kalau aku sendiri semakin hari semakin gugup melihat kamu. Benar, butuh waktu yang lama bahkan untuk sekedar menyapa. Tapi asal kamu tahu, aku selalu melihat kamu, melihat dengan seksama. Meskipun akhirnya semuanya mencair, kamu tau, itu adalah hari-hari paling menyenangkan dalam hidupku. Hei aku merasa kita dekat bukan?
Masih membaca?.. aku harap.
Yong, aku bicara jujur. Aku menyukaimu, sejak dulu mungkin. Menyukai gadis kecil yang cinta mati pada gambar Saturnus, yang terus memandang lingkaran cincinnya yang bahkan otaknya sendiri belum tahu apa itu. Apa kamu masih menyukainya?.aku selalu mengingatnya. Apa aku bisa jadi saturnus yang kamu kagumi?.
Tapi nyatanya saturnus itu jauh, aku bahkan tak bisa menggapainya. Kamu tahu rasanya saat kamu bilang kamu suka Petra?. Itu menyedihkan untukku, kenapa waktu kita tidak tepat?, kenapa kamu datang saat hati kamu memikirkan yang lain? Aku ingin menggantinya, tapi sepertinya kita berjalan di orbit masing-masing. Bisakah aku menyebrang ke orbitmu?. Menyakitkan melihat kamu bersedih, meskipun menyenangkan menghabiskan waktu untuk menghiburmu.
Rasanya dadaku sesak..
Yong, aku selalu bilang jujurlah sampai akhir. Tapi nyatanya aku sendiri tak bisa. Saat melihat kamu, aku ingin berlari ke arahmu, menuju kamu, sayangnya itu gak mungkin. Orang lain baru memasukkan namaku di hatinya, sebesar apapun rasa sayang aku ke kamu dan selama apapun itu, gak mungkin aku membuang orang lain dengan tiba-tiba, aku tau, kamu tentu lebih ngerti perasaan perempuan.
Apa yang aku lakukan ini salah?, ingin rasanya aku berubah menjadi egois dan menggenggam kamu.
Kenapa waktu kita tidak tepat?, aku selalu mengutuki itu saat melihat foto kecilmu dulu, aku menyimpannya, selalu. Bagiku gadis kecil itu tak pernah berubah.
Masih ingat permintaanku?, aku harap kamu mengingatnya. Aku menunggu itu.
Aku menyayangimu..robot ini diprogram untuk selalu memikirkanmu, bisakah suatu hari nanti kita bertemu disaat yang tepat?. Aku menunggunya, selalu. Untuk seseorang bernama Mayang.
PS : hei, apa kamu tau betapa sayangnya simbah sama kamu, dia bahkan menyukaimu melebihi aku, membicarakanmu terus-menerus, maukah kamu jadi cucunya?..
Aku berharap ia.
Still waiting you,
Ragil

==
Kring, ponselku bergetar, seseorang menghubungiku dengan suara riangnya.
“halo…”, ujarku menjawab panggilan itu,
“sayang, ayo..aku udah nunggu dibawah..hari ini kamu ke bandara, kamu gak lupa kan kalo hari ini kamu flight ke jepang?”, tanya suara itu kemudian.
“ ia aku turun..tunggu sebentar..”, jawabku sambil menutup telepon.
==
Aku tersenyum, melipat surat beberapa tahun lalu..melipat pesannya.

Grandmarvelous -A thing called Fate- 11


Chapter 11. Grandma’s  secret
Aku diam. Mengingat laju motor yang kembali menerobos angin pagi itu, aku masih mengingatnya lagi dan lagi. Hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengannya, liburan selesai dan bapak segera menjemputku besok. Ragil harus kembali ke kampusnya untuk ujian. Mahasiswa tingkat tiga bukannya memang sedang sibuk-sibuknya kan, aku bahkan tak sadar dia menghabiskan waktu sebelum ujian semesternya hanya dengan main-main menemani anak kecil.
Dia tak banyak bicara, aku lebih diam lagi. Melihat dia, punggungnya membuatku mengingat kata-kata yang diucapkan Mya dengan nada riang. Aku menggelengkan kepala, meruntuk dalam hati..benar apa kata Ragil, aku masih punya utang jujur ke Petra, biar bagaimanapun dia orang yang sudah dua tahun ini jadi bayangan mataku sendiri, aku tak ingin mempertimbangkan Rima, Petra dan yang lainnya, hanya jujur pada diri sendiri. Dan itu penting.
Seperti itulah sosoknya saat terakhir kali aku melihatnya, hanya merangkulkan tangannya kepundakku,
“dah yong, met balik lagi ke sekolah…aku balik dulu”, seperti itu saja yang ragil katakan.
“hhmm ya”, aku menganggukan kepalaku, membalasnya dengan ekspresi tak peduli juga.
Aku hanya bertemu dia seminggu. Tapi ini memang seminggu yang paling menyenangkan dalam hidupku sendiri.
==
Aku mulai mengepak baju-bajuku dan barang bawaan lainnya. Diam sejenak, aku mengamati kamar tua ini, suara simbah seperti biasanya ramai bicara dengan bi Mimin, aku mengabaikan pembicaraan mereka yang sibuk membungkus oleh-oleh untuk ku bawa. Tiba-tiba aku merasa masih ingin menambah liburanku disini.
Ini malam penghujung aku menghabiskan waktuku disini, hanya aku dan simbah. Kami berdua saja, aku memperhatikan wajahnya, rambut putihnya, kerutannya, badannya yang gemuk, dan langkahnya yang mulai ringkih. Sesaat aku merenung, bagaimana nanti aku menghabiskan umur tuaku, sendiriankah, sepikah, diamkah?. Dan aku melihat sorot tenangnya mulai berkaca-kaca saat dia memandangi album foto itu, sorot mata yang tertuju pada satu gambar yang tak terlalu baru.  Dia bahkan tak menyadariku yang ikut mengamati sosok di gambar itu. Seorang pria tua dengan senyum manis dan sorot mata yang lembut.
Simbah tersenyum melihatku, bukan dia yang seperti biasanya. Sambil terus memandangi fotonya, dia bicara seloah tahu apa isi kepalaku yang penuh dengan banyak pertanyaan.
“ itu simbah kakung..”, ujarnya kemudian.
Aku melihatnya dengan seksama, mengamati sososk pria berpostur tegap, dengan helaian rambut putih yang menghiasi kepalanya. Simbah bicara, membicarakan cerita
Laki-laki itu sudah meninggalkanku tiga bulan lalu, waktu yang sebentar mungkin bagi orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan banyak kegiatan. Tapi bagiku. Itu sangat lama. Tiap menitnya benar-benar semakin sepi, aku bahkan terus mengingatnya sepanjang waktu meskipun aku berusaha menghilangkannya. Aku mengikhlaskannya tentu saja, tak ada ganjalan apapun, hanya aku selalu berfikir apakah dia baik-baik saja disana, bagaimana kehidupannya. Apakah orang yang sudah meninggal bisa mendengar yang masih hidup?, apa dia bisa mendengarkanku?..Simbah menghela nafas, aku merapatkan dudukku padanya, iringanan nafasnya terdengar berat ditelingaku.
Aku bertemu dia, dulu saat jaman kemerdekaan. Dia seorang pejuang, tak ada yang istimewa. Aku membantu konsumsi para pejuang, memasak ala kadarnya di posko. Dia sepeti kebanyakan pemuda seusianya, membantu para pejuang di tempat kami. Dia tetangga desaku. Aku bahkan tidak  pernah berfikir dia yang akan jadi suamiku. Saat itu kehidupan sangat sederhana, tidak seperti sekarang, tidak ada namanya jatuh cinta. Orang-orang hanya berfikir tentang negara, tentang merdeka, tak pernah berfikir tentang kehidupannya masing-masing, dan jodoh itu seperti aliran air, mengalir begitu saja.
Laki-laki itu memilihku, dari begitu banyaknya pilihan, aku mengiyakan tentu, manut orang tua. Kami bahagia, tentu saja dengan keadaan sederhana kami, Menikah itu ibadah, dan seperti itulah isi kepalaku selamanya. Dia laki-laki yang terlalu baik untukku, bahkan untuk isi kepalaku yang sangat keras.
“Simbah mencintai mbah kakung?”, pertanyaan menggelitik yang ada dikepalaku. Pertanyaan anak bau kencur yang konyol untuk seorang nenek yang sudah menghabiskan seumur hidupnya bersama seorang pria yang luar biasa.
“Cinta?”, ujarnya tersenyum.
Aku tidak tahu apa itu cinta seumur hidupku. Orang-orang selalu mengatakannya dengan mudah, meski aku sendiri bahkan sampai saat ini tak tahu apa itu cinta yang sebenarnya. Aku hanya menempatkan posisiku sebagai istrinya, menghormatinya, menyayanginya. Aku senang melihatnya senang, begitupun sebaliknya, aku suka saat dia mengalah untukku, aku suka saat dia menahan diri untuk tidak marah ketika aku menggerutu, aku menyukai sifat sabarnya. Apakah itu cinta?.
Dia mendahuluiku pergi, apaka aku harus menangis, aku menahannya, kehilangan orang seperti dia menyakitkankah?, mataku berkaca-kaca meski aku tak ingin menangis, dadaku sesak dan terus-terusan menghela nafas. Orang-orang menangis, anak-anakku, cucukku, dan semua orang dekatku, aku meneteskan air mata sambil melihat mata tertutupnya. Aku memegang tangan keriputnya yang dingin, mengantarnya ketempat dia kembali. Dia meninggalkanku sendiri, aku terus memikirkannya, mengingatnya dalam hatiku.
“simbah kakung bahagia..”. ujarku kemudian, aku berkaca-kaca, menangis sesenggukan mendengar ceritanya. Menghabiskan sepanjang hidup dengan orang yang dicintai, seperti itukah cinta?. Kenapa begitu mengharukan?. Simbah mengelus-elus rambutku, membelaiku yang bersandar dipundak rapuhnya.
“Nduk..nduk, jangan nangis..istirahatlah..besok kamu pulang ke Bandung..”, ujarnya kemudian.
==
Kita tak pernah tahu apa itu cinta, yang simbah tahu jodoh akan Allah turunkan pada saat yang tepat, siapapun orangnya, maka dialah cintamu, entah itu orang dari masa lalu, masa ini, atau orang yang bahkan kamu temui suatu saat nanti. Ada jalan yang tidak bisa kita rencanakan.
Aku menghela nafas, deru kereta api semakin keras ketika melewati jembatan. Aku melihat aliran air keruh sungai dibawahkku, memikirkan malah berharga yang aku lewatkan bersama simbah, memikirkan raut mukanya yang tegar, rahasia cintanya yang sederhana. Satu malam yang ingin aku ulangi lagi dan lagi.
==
Aku memikirkan seminggu yang berharga ini, seminggu yang membuatku berubah untuk memaknai sesuatu yang lebih dalam. Aku menyukai kejujuran, meskipun kadang tak menyenangkan memang. Dan Ragil, ah manusia robot yang satu itu ternyata punya perasaan juga, memberiku pengalaman yang menyenangkan dalam beberapa hari kebelakang ini, meskipun…ah sudahlah, lupakan saja.
To Ragil.
[good luck for ur exam…fighting!!..:) ]. Send.
Sebuah pesan singkat yang kukirim untuknya, aku tersenyum sendiri. Memikirkan punggung lebar dan mata tajamnya. Ini konyol.
“Yong..hooy..”, bapak mengibas-ngibaskan tangannya kedepan mukaku, “ngelamun apaan, senyam-senyum sendiri”. Aku tersenyum, menggelengkan kepalaku setengah malu..
“gak papa…udah deh pak, yong mau tidur..”
Bapak mengerutkan dahi, kembali membaca koran yang beritanya tak pernah ganti topik, begitulah kasus di Indonesia, korupsi saja pembahasannya.
Aku punya poin yang harus diselesaikan dan itu nanti, clearkan sebalum semuanya memburuk.
===
Ini awal masuk sekolah yang sebenarnya masih dipengaruhi aura malas, sebagian anak bahkan memutuskan untuk membolos dan menambah jatah liburannya. Gosip dan celotehan pasca liburan tetap menjadi topik menarik, bahkan saat pelajaran sudah dimulai. Begitulah hari pertama setelah liburan, kondisinya tak pernah kondusif. Mengumpulkan nyawa untuk membuka buku sepertinya butuh perhatian ekstra dari para guru, aku pun bagian dari mayoritasnya.
“ini PRnya, silakan latihan di rumah untuk memperdalam materi ini, ingat kalian sudah kelas dua belas..sebentar lagi ujian nasional”,. Himbauan yang disambut oleh helaan dan gerutuan anak-anak kelas, seiring dengan bel istirahat yang mengaum kencang.
“Rima, Dias..ayo kantin, kita ngobrol..”, kataku memecah kebisan sejak pagi tadi. Raut wajah mereka memperlihatkan tanda tanya, meskipun tetap mengikutiku menuju kantin yang sudah dipenuhi oleh manusia-manusia putih abu-abu yang kelaparan.
“Kenapa yong?”..
Pada akhirnya kami bicara, masalah mereka berdua Rima dengan masalah riffi yang mengganggunya, dan Dias dengan masalah keluarganya yang membanding-bandingkannya dengan Rima. Ini hanya kesalahpahaman yang didiamkan. Tentu harus dipecahkan, dan satu-satunya jalan adalah dengan bicara, terus terang. Seperti kata Ragil, jika kamu mau jujur, maka jujurlah sampai akhir.
“Gimana, sekarang udah clear kan?.”, tanyaku kemudian setelah kami bicara panjang lebar.
Rima dan Dias mengangguk. Saling tersenyum satu sama lain,
“maaf ya Rim,”, ujar Dias kemudian. “tenang aja, aku juga gak mungkin jadian sama adekmu, riffi terlalu lucu untuk aku jadiin pacar, lagian aku gak mau jadi bahan ocehan fans-fansnya nanti.Seloroh dias mencairkan suasana..
“maafin aku juga ya yas, aku gak tahu kalo aku membuat kamu sulit, padahal asal kamu tahu kalo aku beneran iri sama gaya kamu yang keren ini”, kata Rima sambil tersenyum manis.
Aku menarik nafas lega, membiarkan semua terbuka apa adanya adalah sesuatu yang sangat melegakan. Kami tertawa sambil menghabiskan makan siang kami yang entah kenapa rasanya lebih enak dari biasanya.
“hei, kalian selalu bilang gue orang yang jujur dan apa adanya kan?”, ujarku menyela makan siang kami.
“ia..kenapa yong?.. kok lu aneh amat..”
Aku mempersiapkan mulutku, mengatur kata yang sederhana tapi sepertinya sulit untuk aku sampaikan
“seseorang nyuruh gue, untuk jujur.. kalo gue mau jujur, gue mesti jujur sampai akhir”, ujarku kemudian. Rima dan Dias memicingkan mata tanda heran, menunggu ucapanku selanjutnya.
“gue jalan sama Petra”
“gue jujur ngomong ke Petra kalo gue suka sama dia.”
“yong??”
===
Aku melihat reaksinya di ujung mataku. Aku dan mereka, kami diam.

Grandmarvelous -A thing called Fate- 10


Chapter 10. Ridiculous feeling..
Sepertinya aku memang harus menarik lagi kata-kataku tentang liburan yang membosankan, ini baik sekali, meskipun sedikit telat. Paling tidak aku bisa tertawa senang disini, dan lupakan saja pikiran yang mengganggu belakangan ini, siapa yang peduli.
Simbah masih tetap sama seperti biasanya, masih tetap cerewet, dan bicaranya jujurnya yang seringkali nyelekit. Aku tak peduli, sepertinya memang mulai terbiasa, santai sekali. Ah, aku jadi berharap punya waktu liburan lebih lama disini.
Ragil, Kak Ragil – meskipun sedikit aneh menyebutnya dengan panggilan seperti itu-, ternyata orang yang sangat welcome, masih membuatku berfikir bagaimana bisa waktu-waktu lalu orang itu begitu dingin, datar dan sama sekali tak peduli. Lucu sekali membandingkannya dengan saat ini, kami mengobrol banyak hal, obrolan yang menyenangkan, kecuali untuk satu hal yang paling tidak aku mengerti masalah elektro, apa itu, saat dia membicarakan kuliahnya, aku memilih mengabaikan sampai mulutnya berhenti bicara sendiri dan menepuk kepalaku.
 “rangkaiannya seperti ini,, buat di PCB wizard, coba saja belajar mikrokontroller, heeh Yong, perhatiin!!”, perintahnya. Cukup aku balas dengan mencibir, dan pergi.
Kak Ragil – lagi-lagi aku merasa konyol menyebut namanya- hangat, dia baik tentu aku tak dibayar hanya untuk memujinya sepenuh hati satu chapter ini, tapi bagaimana mungkin aku tidak mengucapkan terimakasih dengan tulus jika dia dengan baik hati mengajakku menikmati liburan yang tinggal sebentar saja, jalan-jalan, ke pantai, taman pintar, menyusup dikampusnya, beli batik tulis, ramai-ramai belajar membatik, mengunjungi banyak tempat. Ini liburan terlengkap yang pernah aku alami, jadi buat apa harus bayar mahal ikut wisata sekolah kalau ini bahkan liburan yang sempura. Benar, ini pertama kalinya aku bersyukur liburan di rumah simbah.
“Hei..masih menggambar lagi..”, tanyanya mengagetkanku yang sedang melukis sketsa, gambar-gambar dalam pikiranku yang ingin aku abadikan, bukan hanya sekedar foto.
“yoa..”
“buatin satu sketsa gambarku ya..”, ujarnya sambil tersenyum, menepuk pundakku.
Pikiranku buntu, kenapa aku berfikir dia begitu keren, detak jantungku tak karuan.
==
“ayo berangkat”, ajaknya.
Aku mengikuti, sekali lagi perjalanan motornya menembus jarak jauh lagi, menuju kota Jogjakarta. Hari ini seperti yang sudah direncanakan pergi ke sentra batik tulis di Jogjakarta, di Imogiri katanya. Aku sih gak tau mana itu tempatnya, Cuma mengikuti usulannya, gak ada masalah.
Pagi itu motor  terus melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, maklum saja jalanan masih sepi, siapapun melihat suasana seperti itu akan tanpa sadar melajukan motornya lebih cepat dari biasanya. Hawa masih sangat dingin, dan angin pagi berhembus kencang. Aku sedikit menggigil dibelakangnya.
Dibelakangnya, tentu saja. Melihat punggung lebarnya lagi sepanjang waktu yang terbungus jaket cokelatnya.lagi dan lagi. Semakin lama aku semakin menyukainya, sejak kapan?. Aku sendiri tidak tahu. Sepertinya nyaman sekali untuk bersandar, aku membayangkannya, senyum-senyum sendiri, seperti orang kurang waras. Tapi tentu saja, hanya membayangkannya, melakukannya?. Yang benar saja. Itu hal gila, dan aku gak mau membuatku terlihat seperti orang bodoh saat dia menoleh nantinya. Itu terlalu memalukan.
Dan wajah depannya?. Aku tak bisa membayangkan dengan jelas, tulang rahangnya yang tegas..hidungnya, yang ku ingat cuma satu, tatapan matanya yang menyipit tajam.
==
“Udah nyampe..” ujarnya. Aku turun dari motornya, ini parkiran kampusnya, tidak terlalu ramai seperti hari biasanya. Minggu tenang katanya, tapi tetap saja banyak mahasiswa berkeliaran dikampus melakukan banyak hal.
“Minggu tenang kok masih ngerjain tugas?”, tanyaku kemudian.
“oh..sebenernya udah kelar dari dulu, cuman karena kita ketagihan maen kesana makanya kita buat agenda lagi ke Bantul..”. jelasnya, aku hanya meng-oh-kan saja. Diam ditempat asing, meskipun aku cuek tapi ditempat asing ini benar-benar membuatku kikuk. Manusia-manusia teknik ini bahkan seratus kali lebih cuek dibanding aku.
“yuk, tuh anak-anak udah nungguin..”, aku mengekor dibelakangnya. Teman-temannya menyapa, mecoba bersikap ramah padaku, meskipun mayoritasnya adalah makhluk laki-laki, setidaknya masih ada beberapa cewek disana.
“oh, ini yang namanya Yong ya?..yang suka dibicarain ragil..cantik-cantik”, kata salah satu temannya bicara. Aku mengerutkan dahi, apaan sih si Ragil ngomong-ngomongi orang, dan heiii…cantik?, ga salah komen apa. Runtukku dalam hati.
“Yok berangkat..”, kata yang lain.
Rombongan motorpun melesat jauh meninggalkan ramainya jalannan pusat kampus ini, menuju daerah di sisi lain Jogjakarta.
==
“ ini potongan kainnya, buat polanya dulu..bebas aja, nanti nebatiknya pake canting, tuh lilinnya udah dipanaskan”, kata pekerjanya setelah kami mendengarkan penjelasan singkat tentang batik daerah sini, coraknya dan cara pembuatannya.
Aku mengamati setiap prosesnya, mulai dari kain putih polos, digambar polanya, kemudian mulai dibatik mengguratkan lilin panas itu dengan canting, diwarnai dengan pewarna alami, dihilangkan lilinnya,dikeringkan, dililin lagi, diwarnai lagi..sampai menjadi kain batik yang menghasilkan bentuk dan warna yang sesuai. Dilihat dari cara apapun ini bukan pekerjaan sembarangan, bagaimana mungkin kain putih yang awalnya polos itu bisa berubah jadi begitu indah. Aku benar-benar menyukainya.
“ ayo mulai..”, kata Ragil. Aku mengiakan, kalo soal desain mah gampang..aku kan emang dasarnya suka gambar, setelah liat pola-pola dikatalog, alhasil paling tidak gambarku paling bagus diantara mereka-mereka gerombolannya Ragil.
“waahh…bagus, bagus”, puji yang lain. Aku mulai membatik, sampai pada tahap ini aku menyerah, ternyata susah sekali, lilinnya ceceran kemana-mana, hasilnya berantakan. Aku melihat ibu-ibu yang membatik disebelahku, kenapa lancar banget?. Heran, sepertinya tanganku memang gak cocok pekerjaan macam ini. Bukan ahlinya. Sudahlah, menyerah saja.
==
“Ehh. Ayo pilih-pilih batik..”, aku melihat etalase batiknya, ada yang masih dalam bentuk kain, baju, sepatu batik, syal, taplak meja, bahkan sampai souvenir-souvenir kecil seperti canting, dompet , sapu tangan dan lain-lain. Pilihanku akhirnya jatuh pada kain batik warna merah marun dengan motif cantik, aku lupa namanya, sempat kulihat di katalaog tadi. Kemeja batik warna biru, rok cokelat, dan sebuah canting. Harganya lumayan memang, tapi melihat cara mereka membatik, aku sadar aku bukan membeli sebuah kain, tetapi nilai seni.
Dan hadiah lainnya, aku pulang dengan membawa potongan kain yang aku batik tadi, warnanya jadi biru dengan corak batik putih. Berantakan memang, tapi aku suka. Ini hadiah yang bagus.
“eh..ayo pulang, udah seharian disini..tar sore mampir alkid dulu..ngumpul-ngumpul, ya nggak Yong?”, Dhika, salah seorang teman Ragil merangkulkan tangannya ke pundakku, aku menolae. Eh?..
“ayo pulang..”, ragil mengulang ucapan Dhika, sambil mengangkat tangan Dhika dari pundakku. “gak usah petakilan”, lanjutnya kemudian. Yang lain hanya ikut tertawa renyah, Sialan.
Dan kamipun meninggalkan tempat yang nyaman itu, sepi, desa yang jauh dari keramaian, tapi menyimpan nilai yang sangat berharga. Melaju kembali ke pusat kota Jogjakarta, masih punya agenda. Menikmati sore menjelang malam di alun-alun selatan Jogjakarta.
==
“sorry Yong, ini udah malem, gak mungkin kalo kita pulang, daripada simbah khawatir..
“ jadi,?”, tanyaku kemudian. Benar terlalu asyik menghabiskan malam di alkid membuatku lupa bahwa rumah simbah jauh dari pusat kota Jogjakarta itu sendiri.
“kamu nginep ditempatnya Mya aja, aku izin sama simbah..”, ujarnya kemudian. Aku mengangguk mengiakan, bagaimana lagi. Menginap di kos temannya juga bukan masalah berat, semoga saja anaknya menyenangkan. Paling tidak aku punya teman rumpi.
“oke..”..
==
“hei, gil..”, seseorang menghampiri kami yang menunggu didepan gerbang sebuah rumah, merangkap sebagai kos-kosan
“ia, sorry ngerepotin, aku titip yong ya, jagain..”,
“oke, eh..kamu kan, hei anak yang dikereta itu kan??”, tanya gadis cantik itu memastikan. Aku melihat ke arahnya, memastikan dengan seksama, dan benar, dia orang yang duduk disampingku saat dikereta waktu itu,
“hai..”, sapaku sambil tersenyum.
“kalian saling kenal..?”, tanya ragil keheranan melihat kami berdua.
“udah..ceritanya nanti, pulang gih sana, mau nginep ditempatnya Aga kan, udah malem”. Jawab Mya, sekaligus mengusir secara halus Ragil pergi.
==
“ooh, jadi kamu yang diceritain Ragil dari kemarin..”, katanya saat kami mulai mengobrol, hari memang sudah malam, tapi nyatanya mataku pun masih belum mau ditutup.
“tadi gimana disana, rame gak?...”, tanyanya kemudian, “ aku mengiakan..” ia, asik banget..”, jawabku tersenyum, memikirkan hari ini yang melelahkan, dan seharian dibelakang punggung itu. Pikiranku mulai melantur.
“ah, saying banget aku gak ikut tadi, bentrok sih sama acara dikampus.”, ujarnya lagi tanpa ku tanya.
“eh, bentar emang dia cerita apa soal aku..”, tanyaku penasaran, aku menoleh ke arahnya memperhatikannya dengan wajah curiga..” gak ngomong yang aneh-aneh kan itu robot.?”
“hehe…enggak kok.., eh aku boleh tau..kamu itu sebenernya siapanya Ragil..dia bilang sepupunya,?”
“oh, yaa..anggap aja begitu..”, jawabku singkat. Lagian susah juga membicarakan silsilah keluarga, karena aku juga bukan bagian dari keluarganya kan. Seperti hanya orang asing yang sangat dekat dengan keluarganya..”kamu teman dekatnya Kak ragil ya?..”, tanyaku kemudian.
“aku pacarnya,”, jawabnya singkat disertai senyum sumringah.
Ragi itu cowok yang baik, aku bahkan sampai berfikir bagaimana mungin ada cowok sebaik dia, tak banyak bicara memang, sangat seperlunya untuk hal-hal yang kecil. Tapi itu sangat menyenangkan, dia selalu bicara apa adanya, selalu to the point, gak ada romantis-romantisnya, tapi yang mengherankan aku malah suka sikapnya yang seperti itu.. Sepertinya aku memang gila, mana bisa menyukai orang seperti itu, tapi kenyataannya kau bahkan benar-benar memikirkan cowok itu setiap hari..aku beruntung sepertinya….
Mya, bercerita banyak, tentang Ragil..ragil dan ragil sepanjang malam ini. Aku hanya mendengarkan, bagaimana cowok itu begitu istimewa. Aku tersenyum, setengah mengiakan, tapi kenapa ini..kenapa bahkan aku mulai merasa tidak enak. Semakin banyak kata yang keluar dari mulut Mya, semakin terasa pahit, menusuk-nusuk membuatku sangat tidak nyaman.  Ada apa sebenarnya, seperti ada sesuatu yang salah.
“eh..kita jadi teman baik ya..”, ujarnya tiba-tiba.
Aku mulai memejamkan mata, mencoba menutup telingaku juga meskipun tentu saja mustahil. Seperti ada perintah dalam otakku untuk menolak semua isi pembicaraan, aku tidak mau mendengarnya, tidak mau..
“hei..kamu udah ngantuk ya,,pasti capek..maaf aku terlalu semangat ngobrol,, tidurlah..”, suara samar-samar itu aku dengar.
Sepertinya aku tidak waras, Bagaimana mungkin dia dengan mudah masuk…..cowok itu…