Chapter 4. Scatter
session!
Seumur hidupku
aku gak pernah nyangka bahwa persahabatan itu bisa punya sisi yang tak
terlihat, apa aku memang terlalu naïf. Well, kita bertiga berteman udah dua
tahun ini, meskipun baru tahun ini bener-bener sekelas bertiga. Bohong banget
seorang sahabat bisa terbuka pada sahabat lainnya, nyatanya tiap orang punya
sisi yang tersembunyi yang tak ingin orang lain tahu, di setiap hati manusia
ada brankas kecil yang kuncinya hanya dimiliki oleh si pemiliknya, isinya tentu
rahasia hati, rahasia yang tiap orang pegang rapat untuk dirinya sendiri.
Sampai dia sendiri memilih membukanya atau tetap menyimpannya dengan erat. Itu
pilihan.
Aku kalut tentu
saja. Mama sepertinya tak merespon protesku untuk tetap menolak liburan ke
rumah simbah. Kekanak-kanakan katanya, gimana lagi. Bukannya memang haknya anak
SMA ya buat liburan, kakakku udah balik lagi ke kamar kosnya di kompleks kos-kosan
deket kampusnya. Bapak pergi dinas, tinggallah dirumah hanya aku dan mama, sayangnya
aku sedang mengacungkan bendera perang dingin. Hawa rumah jadi sangat panas.
Meski mama sikapnya terlihat biasa, cuek-cuek saja, tetap aku yang selalu
kalah. Heran, bargaining power macam
apa ini?.
Di kamar kesayanganku, kasur yang gak pernah rapi,
deretan komik yang geletak memenuhi meja belajarku, Beast dengan fiction-nya
yang mengalun di telingaku..
“yong..aku
curhat ya…”
“curhat apaan…?,
“ tanyaku setengah heran..tumben.
“ aku kadang gak
tahan sama Rima, oke mungkin ini salah, karena kita temen. Bukan soal Rima nya,
tapi keadaan yang bikin aku gak tahan. Lu tau kan kalo ortu aku sama ortunya
Rima itu temen deket, aku juga udah kenal dia dari dulu, meskipun akrabnya ya
pas SMA ini. Tapi rasanya dari dulu tetep sama, aku males dibanding-bandingin
sama dia..”, Dias menghela nafas, aku diam gak bicara apa, mengrutkan kening.
“ awalnya sih
nyaman-nyaman aja, kita kemana-mana bertiga, meskipun aku lebih sering berdua
sama dia, gara-gara lu yang punya banyak hobby nyentrik dan suka maen sendiri,
tapi lama-lama aku jadi kayak bodyguardnya,
dia yang ngikut kemana-mana aku pergi. Belum lagi anak-anak cowok yang nanyain
dia lewat aku, awalnya ngobrol enak, minta tolonglah apa lah, ujung-ujungnya
tetep aja topik pembicaraannya balik lagi ke Rima. Aku cuma pengen aku juga
dianggap sebagai diri sendiri, Dias. Bukan sebagai sobatnya Rima, Aku emang gak
sempurna dibanding Rima yang cantik, cerdas. Aku cuma pengen diri aku apa
adanya”.
“ Yas, lu tuh
jangan berkecil hati, gak usah mikirin apa kata orang, lihat, lu jago olahraga,
juru bicara yang paling keren yang aku kenal, hei..tim debat kita itu punya
senjata paling ampuh yaitu lu, semua orang tahu itu..lihat aku yang gak punya
kemampuan apa-apa, yang cuma bisa gambar, sketsa..amatiran, dengan nilai mata
pelajaran yang standar pula..”
“ aku ngerti..kalo
masalah lain aku masih bisa terima,. yang paling nyakitin, ortu aku suka banget
banding-bandingin aku sama Rima, dia yang jago kimia lah, ikutan lomba ini
lah..olimpiade ini lah..sampai-sampai aku ngerasa bahwa apa yang aku raih itu
gak ada artinya..apakah aku emang mesti pinter eksak untuk dianggap cerdas sama
keluarga aku...“kamu tau..aku masuk IPA, Cuma berharap bahwa ortu aku paham kalu
aku masih bisa kayak Rima, meski gak secerdas dia.. lucu ya, kadang aku ngerasa
aku konyol banget”
“yas, berfikir
positif, jangan sampai bersikap kayak gini, aku percaya lu bisa jadi diri lu
apa adanya., just be your self, kita punya
kelebihan masing-masing, itu yang bikin hidup kita saling melengkapi..dunia
yang heterogen itu menyenangkan..” hiburku kemudian yang sayangnya tak
berpengaruh banyak.
“andai aku bisa
kayak lu yong, bebas dengan apa yang lo punya..lo orang terjujur yang aku
kenal..meskipun kadang banyak orang kira itu naïf karena terlalu polos sih”
“tentu…lu bisa
nyontoh aku, dan bahkan jadi yang lebih baik dari aku…masa si biggis ini kalah
sama tiang jemuran…”..kelakarku..dan buggh..dua buah bantal mendarat di mukaku.
“yong!!!, udah aku
bilang…jangan manggil aku biggis!!!”
----
Hufft, Itu sisi
lain Disa yang baru aku tahu, dibalik sikap kuatnya. Ternyata ada sisi
tersembunyi yang baru aku tahu, sisi perasa, pemendamnya. Aku baru tahu apa
yang selama ini dia pendam, dibalik mulutnya yang kebanyakan bicara, dibalik
sikap cueknya yang terkesan tanpa beban. Dan dia memberikan sepersekian bagian
kuncinya untuk membuka pintu brankas yang selama ini dia pendam. Aku tahu masih
banyak ruang yang belum terang, hingga aku sendiri juga mulai bertanya-tanya
seperti apa isiku yang sebenarnya?.
----
Siang itu,
Diperpustakaan
aku melihat Petra tersenyum ke arahku, manis seperti biasanya. Tentu aku balas,
meskipun kami tak mengobrol. Pantang membuat kegaduhan di perpustakaan, semua
orang tahu itu. Apalagi penjaga perpustakaannya yang super jutek ibu Wasih
siaga di meja kerjanya.
Bukankah ini
senyumnya yang biasa, yang aku tunggu-tunggu, yang biasanya membuat nafasku
lega, yang selalu membuatku kikuk, memerahkan pipiku dan sedetik kemudian
menundukkan pandanganku setahun kebelakang ini.
Tapi kali ini
lain, senyumku terasa hambar, entah karena apa aku sendiri tak tahu. Apa
mungkin karena Rima, Dias, atau karena pikiranku sendiri yang kacau balau. Yang
jelas ada yang tak beres memang di jaringan pikiranku. Kenapa ini begitu rumit.
Belum jelas
masalah Dias dan Rima yang masih menggantung keadaannya, sekarang muncul lagi
satu hal yang membuatku menggunakan tenaga dua kali lipat dari biasanya untuk
menghela nafas. Apa sebenarnya yang mereka sembunyikan, kenapa lingkaran ini
seperti putus di satu sisi yang aku sendiri tak tahu dimana dan kapan. Dan
apakah aku begitu bodoh?.
Petra dan..,
bagaimana bisa aku tak sadar. Mungkin benar jika aku memang punya sensitivitas
yang sangat rendah hingga tak tahu yang sebenarnya terjadi disekitarku, Dia tentu
saja. Dibanding dengan aku perbedaannya terlalu jauh sejarak bumi dan langit.
Bagaimana aku bisa tidak menyadari bahwa berharap terlalu tinggi itu sangat menyakitkan
saat jatuh. Dan sosok itu, daripada dengan cara seperti ini bukannya lebih baik
bicara apa adanya, toh aku akan mundur teratur. Bukankah kamu lihat
sketsa-sketsaku tentangnya?.
---
“ ma, aku jadi
ke jogja, gak ikut liburan…”. Ujarku sambil menutup pintu kamarku. Mama
menatapku dengan tatapan heran, kemudian tersenyum.
Sketsa-sketsa
wajahnya masih tergeletak dimeja, memandangiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar