Rabu, 25 April 2012

Grandmarvelous -A thing called Fate- 4


Chapter 4. Scatter session!
Seumur hidupku aku gak pernah nyangka bahwa persahabatan itu bisa punya sisi yang tak terlihat, apa aku memang terlalu naïf. Well, kita bertiga berteman udah dua tahun ini, meskipun baru tahun ini bener-bener sekelas bertiga. Bohong banget seorang sahabat bisa terbuka pada sahabat lainnya, nyatanya tiap orang punya sisi yang tersembunyi yang tak ingin orang lain tahu, di setiap hati manusia ada brankas kecil yang kuncinya hanya dimiliki oleh si pemiliknya, isinya tentu rahasia hati, rahasia yang tiap orang pegang rapat untuk dirinya sendiri. Sampai dia sendiri memilih membukanya atau tetap menyimpannya dengan erat. Itu pilihan.
Aku kalut tentu saja. Mama sepertinya tak merespon protesku untuk tetap menolak liburan ke rumah simbah. Kekanak-kanakan katanya, gimana lagi. Bukannya memang haknya anak SMA ya buat liburan, kakakku udah balik lagi ke kamar kosnya di kompleks kos-kosan deket kampusnya. Bapak pergi dinas, tinggallah dirumah hanya aku dan mama, sayangnya aku sedang mengacungkan bendera perang dingin. Hawa rumah jadi sangat panas. Meski mama sikapnya terlihat biasa, cuek-cuek saja, tetap aku yang selalu kalah. Heran, bargaining power macam apa ini?.
Di kamar kesayanganku, kasur yang gak pernah rapi, deretan komik yang geletak memenuhi meja belajarku, Beast dengan fiction-nya yang mengalun di telingaku..
“yong..aku curhat ya…”
“curhat apaan…?, “ tanyaku setengah heran..tumben.
“ aku kadang gak tahan sama Rima, oke mungkin ini salah, karena kita temen. Bukan soal Rima nya, tapi keadaan yang bikin aku gak tahan. Lu tau kan kalo ortu aku sama ortunya Rima itu temen deket, aku juga udah kenal dia dari dulu, meskipun akrabnya ya pas SMA ini. Tapi rasanya dari dulu tetep sama, aku males dibanding-bandingin sama dia..”, Dias menghela nafas, aku diam gak bicara apa, mengrutkan kening.
“ awalnya sih nyaman-nyaman aja, kita kemana-mana bertiga, meskipun aku lebih sering berdua sama dia, gara-gara lu yang punya banyak hobby nyentrik dan suka maen sendiri, tapi lama-lama aku jadi kayak bodyguardnya, dia yang ngikut kemana-mana aku pergi. Belum lagi anak-anak cowok yang nanyain dia lewat aku, awalnya ngobrol enak, minta tolonglah apa lah, ujung-ujungnya tetep aja topik pembicaraannya balik lagi ke Rima. Aku cuma pengen aku juga dianggap sebagai diri sendiri, Dias. Bukan sebagai sobatnya Rima, Aku emang gak sempurna dibanding Rima yang cantik, cerdas. Aku cuma pengen diri aku apa adanya”.
“ Yas, lu tuh jangan berkecil hati, gak usah mikirin apa kata orang, lihat, lu jago olahraga, juru bicara yang paling keren yang aku kenal, hei..tim debat kita itu punya senjata paling ampuh yaitu lu, semua orang tahu itu..lihat aku yang gak punya kemampuan apa-apa, yang cuma bisa gambar, sketsa..amatiran, dengan nilai mata pelajaran yang standar pula..”
“ aku ngerti..kalo masalah lain aku masih bisa terima,. yang paling nyakitin, ortu aku suka banget banding-bandingin aku sama Rima, dia yang jago kimia lah, ikutan lomba ini lah..olimpiade ini lah..sampai-sampai aku ngerasa bahwa apa yang aku raih itu gak ada artinya..apakah aku emang mesti pinter eksak untuk dianggap cerdas sama keluarga aku...“kamu tau..aku masuk IPA, Cuma berharap bahwa ortu aku paham kalu aku masih bisa kayak Rima, meski gak secerdas dia.. lucu ya, kadang aku ngerasa aku konyol banget”
“yas, berfikir positif, jangan sampai bersikap kayak gini, aku percaya lu bisa jadi diri lu apa adanya., just be your self, kita punya kelebihan masing-masing, itu yang bikin hidup kita saling melengkapi..dunia yang heterogen itu menyenangkan..” hiburku kemudian yang sayangnya tak berpengaruh banyak.
“andai aku bisa kayak lu yong, bebas dengan apa yang lo punya..lo orang terjujur yang aku kenal..meskipun kadang banyak orang kira itu naïf karena terlalu polos sih”
“tentu…lu bisa nyontoh aku, dan bahkan jadi yang lebih baik dari aku…masa si biggis ini kalah sama tiang jemuran…”..kelakarku..dan buggh..dua buah bantal mendarat di mukaku.
“yong!!!, udah aku bilang…jangan manggil aku biggis!!!”
----
Hufft, Itu sisi lain Disa yang baru aku tahu, dibalik sikap kuatnya. Ternyata ada sisi tersembunyi yang baru aku tahu, sisi perasa, pemendamnya. Aku baru tahu apa yang selama ini dia pendam, dibalik mulutnya yang kebanyakan bicara, dibalik sikap cueknya yang terkesan tanpa beban. Dan dia memberikan sepersekian bagian kuncinya untuk membuka pintu brankas yang selama ini dia pendam. Aku tahu masih banyak ruang yang belum terang, hingga aku sendiri juga mulai bertanya-tanya seperti apa isiku yang sebenarnya?.
----
Siang itu,
Diperpustakaan aku melihat Petra tersenyum ke arahku, manis seperti biasanya. Tentu aku balas, meskipun kami tak mengobrol. Pantang membuat kegaduhan di perpustakaan, semua orang tahu itu. Apalagi penjaga perpustakaannya yang super jutek ibu Wasih siaga di meja kerjanya.
Bukankah ini senyumnya yang biasa, yang aku tunggu-tunggu, yang biasanya membuat nafasku lega, yang selalu membuatku kikuk, memerahkan pipiku dan sedetik kemudian menundukkan pandanganku setahun kebelakang ini.
Tapi kali ini lain, senyumku terasa hambar, entah karena apa aku sendiri tak tahu. Apa mungkin karena Rima, Dias, atau karena pikiranku sendiri yang kacau balau. Yang jelas ada yang tak beres memang di jaringan pikiranku. Kenapa ini begitu rumit.
Belum jelas masalah Dias dan Rima yang masih menggantung keadaannya, sekarang muncul lagi satu hal yang membuatku menggunakan tenaga dua kali lipat dari biasanya untuk menghela nafas. Apa sebenarnya yang mereka sembunyikan, kenapa lingkaran ini seperti putus di satu sisi yang aku sendiri tak tahu dimana dan kapan. Dan apakah aku begitu bodoh?.
Petra dan.., bagaimana bisa aku tak sadar. Mungkin benar jika aku memang punya sensitivitas yang sangat rendah hingga tak tahu yang sebenarnya terjadi disekitarku, Dia tentu saja. Dibanding dengan aku perbedaannya terlalu jauh sejarak bumi dan langit. Bagaimana aku bisa tidak menyadari bahwa berharap terlalu tinggi itu sangat menyakitkan saat jatuh. Dan sosok itu, daripada dengan cara seperti ini bukannya lebih baik bicara apa adanya, toh aku akan mundur teratur. Bukankah kamu lihat sketsa-sketsaku tentangnya?.
---
“ ma, aku jadi ke jogja, gak ikut liburan…”. Ujarku sambil menutup pintu kamarku. Mama menatapku dengan tatapan heran, kemudian tersenyum.
Sketsa-sketsa wajahnya masih tergeletak dimeja, memandangiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar