Chapter 10. Ridiculous
feeling..
Sepertinya aku
memang harus menarik lagi kata-kataku tentang liburan yang membosankan, ini
baik sekali, meskipun sedikit telat. Paling tidak aku bisa tertawa senang
disini, dan lupakan saja pikiran yang mengganggu belakangan ini, siapa yang
peduli.
Simbah masih
tetap sama seperti biasanya, masih tetap cerewet, dan bicaranya jujurnya yang
seringkali nyelekit. Aku tak peduli, sepertinya memang mulai terbiasa, santai
sekali. Ah, aku jadi berharap punya waktu liburan lebih lama disini.
Ragil, Kak Ragil
– meskipun sedikit aneh menyebutnya dengan panggilan seperti itu-, ternyata
orang yang sangat welcome, masih
membuatku berfikir bagaimana bisa waktu-waktu lalu orang itu begitu dingin,
datar dan sama sekali tak peduli. Lucu sekali membandingkannya dengan saat ini,
kami mengobrol banyak hal, obrolan yang menyenangkan, kecuali untuk satu hal
yang paling tidak aku mengerti masalah elektro, apa itu, saat dia membicarakan
kuliahnya, aku memilih mengabaikan sampai mulutnya berhenti bicara sendiri dan
menepuk kepalaku.
“rangkaiannya seperti ini,, buat di PCB
wizard, coba saja belajar mikrokontroller, heeh Yong, perhatiin!!”,
perintahnya. Cukup aku balas dengan mencibir, dan pergi.
Kak Ragil –
lagi-lagi aku merasa konyol menyebut namanya- hangat, dia baik tentu aku tak
dibayar hanya untuk memujinya sepenuh hati satu chapter ini, tapi bagaimana
mungkin aku tidak mengucapkan terimakasih dengan tulus jika dia dengan baik
hati mengajakku menikmati liburan yang tinggal sebentar saja, jalan-jalan, ke
pantai, taman pintar, menyusup dikampusnya, beli batik tulis, ramai-ramai
belajar membatik, mengunjungi banyak tempat. Ini liburan terlengkap yang pernah
aku alami, jadi buat apa harus bayar mahal ikut wisata sekolah kalau ini bahkan
liburan yang sempura. Benar, ini pertama kalinya aku bersyukur liburan di rumah
simbah.
“Hei..masih
menggambar lagi..”, tanyanya mengagetkanku yang sedang melukis sketsa, gambar-gambar
dalam pikiranku yang ingin aku abadikan, bukan hanya sekedar foto.
“yoa..”
“buatin satu
sketsa gambarku ya..”, ujarnya sambil tersenyum, menepuk pundakku.
Pikiranku buntu,
kenapa aku berfikir dia begitu keren, detak jantungku tak karuan.
==
“ayo berangkat”,
ajaknya.
Aku mengikuti,
sekali lagi perjalanan motornya menembus jarak jauh lagi, menuju kota
Jogjakarta. Hari ini seperti yang sudah direncanakan pergi ke sentra batik
tulis di Jogjakarta, di Imogiri katanya. Aku sih gak tau mana itu tempatnya,
Cuma mengikuti usulannya, gak ada masalah.
Pagi itu
motor terus melaju dengan kecepatan yang
cukup tinggi, maklum saja jalanan masih sepi, siapapun melihat suasana seperti
itu akan tanpa sadar melajukan motornya lebih cepat dari biasanya. Hawa masih
sangat dingin, dan angin pagi berhembus kencang. Aku sedikit menggigil
dibelakangnya.
Dibelakangnya,
tentu saja. Melihat punggung lebarnya lagi sepanjang waktu yang terbungus jaket
cokelatnya.lagi dan lagi. Semakin lama aku semakin menyukainya, sejak kapan?.
Aku sendiri tidak tahu. Sepertinya nyaman sekali untuk bersandar, aku
membayangkannya, senyum-senyum sendiri, seperti orang kurang waras. Tapi tentu
saja, hanya membayangkannya, melakukannya?. Yang benar saja. Itu hal gila, dan
aku gak mau membuatku terlihat seperti orang bodoh saat dia menoleh nantinya. Itu
terlalu memalukan.
Dan wajah
depannya?. Aku tak bisa membayangkan dengan jelas, tulang rahangnya yang
tegas..hidungnya, yang ku ingat cuma satu, tatapan matanya yang menyipit tajam.
==
“Udah nyampe..”
ujarnya. Aku turun dari motornya, ini parkiran kampusnya, tidak terlalu ramai
seperti hari biasanya. Minggu tenang katanya, tapi tetap saja banyak mahasiswa
berkeliaran dikampus melakukan banyak hal.
“Minggu tenang
kok masih ngerjain tugas?”, tanyaku kemudian.
“oh..sebenernya
udah kelar dari dulu, cuman karena kita ketagihan maen kesana makanya kita buat
agenda lagi ke Bantul..”. jelasnya, aku hanya meng-oh-kan saja. Diam ditempat
asing, meskipun aku cuek tapi ditempat asing ini benar-benar membuatku kikuk.
Manusia-manusia teknik ini bahkan seratus kali lebih cuek dibanding aku.
“yuk, tuh
anak-anak udah nungguin..”, aku mengekor dibelakangnya. Teman-temannya menyapa,
mecoba bersikap ramah padaku, meskipun mayoritasnya adalah makhluk laki-laki,
setidaknya masih ada beberapa cewek disana.
“oh, ini yang
namanya Yong ya?..yang suka dibicarain ragil..cantik-cantik”, kata salah satu
temannya bicara. Aku mengerutkan dahi, apaan
sih si Ragil ngomong-ngomongi orang, dan heiii…cantik?, ga salah komen apa.
Runtukku dalam hati.
“Yok
berangkat..”, kata yang lain.
Rombongan
motorpun melesat jauh meninggalkan ramainya jalannan pusat kampus ini, menuju
daerah di sisi lain Jogjakarta.
==
“ ini potongan
kainnya, buat polanya dulu..bebas aja, nanti nebatiknya pake canting, tuh
lilinnya udah dipanaskan”, kata pekerjanya setelah kami mendengarkan penjelasan
singkat tentang batik daerah sini, coraknya dan cara pembuatannya.
Aku mengamati
setiap prosesnya, mulai dari kain putih polos, digambar polanya, kemudian mulai
dibatik mengguratkan lilin panas itu dengan canting, diwarnai dengan pewarna
alami, dihilangkan lilinnya,dikeringkan, dililin lagi, diwarnai lagi..sampai
menjadi kain batik yang menghasilkan bentuk dan warna yang sesuai. Dilihat dari
cara apapun ini bukan pekerjaan sembarangan, bagaimana mungkin kain putih yang
awalnya polos itu bisa berubah jadi begitu indah. Aku benar-benar menyukainya.
“ ayo mulai..”,
kata Ragil. Aku mengiakan, kalo soal desain mah gampang..aku kan emang dasarnya
suka gambar, setelah liat pola-pola dikatalog, alhasil paling tidak gambarku
paling bagus diantara mereka-mereka gerombolannya Ragil.
“waahh…bagus,
bagus”, puji yang lain. Aku mulai membatik, sampai pada tahap ini aku menyerah,
ternyata susah sekali, lilinnya ceceran kemana-mana, hasilnya berantakan. Aku
melihat ibu-ibu yang membatik disebelahku, kenapa lancar banget?. Heran,
sepertinya tanganku memang gak cocok pekerjaan macam ini. Bukan ahlinya.
Sudahlah, menyerah saja.
==
“Ehh. Ayo
pilih-pilih batik..”, aku melihat etalase batiknya, ada yang masih dalam bentuk
kain, baju, sepatu batik, syal, taplak meja, bahkan sampai souvenir-souvenir
kecil seperti canting, dompet , sapu tangan dan lain-lain. Pilihanku akhirnya
jatuh pada kain batik warna merah marun dengan motif cantik, aku lupa namanya,
sempat kulihat di katalaog tadi. Kemeja batik warna biru, rok cokelat, dan
sebuah canting. Harganya lumayan memang, tapi melihat cara mereka membatik, aku
sadar aku bukan membeli sebuah kain, tetapi nilai seni.
Dan hadiah
lainnya, aku pulang dengan membawa potongan kain yang aku batik tadi, warnanya
jadi biru dengan corak batik putih. Berantakan memang, tapi aku suka. Ini
hadiah yang bagus.
“eh..ayo pulang,
udah seharian disini..tar sore mampir alkid dulu..ngumpul-ngumpul, ya nggak
Yong?”, Dhika, salah seorang teman Ragil merangkulkan tangannya ke pundakku,
aku menolae. Eh?..
“ayo pulang..”,
ragil mengulang ucapan Dhika, sambil mengangkat tangan Dhika dari pundakku.
“gak usah petakilan”, lanjutnya kemudian. Yang lain hanya ikut tertawa renyah,
Sialan.
Dan kamipun
meninggalkan tempat yang nyaman itu, sepi, desa yang jauh dari keramaian, tapi
menyimpan nilai yang sangat berharga. Melaju kembali ke pusat kota Jogjakarta,
masih punya agenda. Menikmati sore menjelang malam di alun-alun selatan
Jogjakarta.
==
“sorry Yong, ini
udah malem, gak mungkin kalo kita pulang, daripada simbah khawatir..
“ jadi,?”,
tanyaku kemudian. Benar terlalu asyik menghabiskan malam di alkid membuatku
lupa bahwa rumah simbah jauh dari pusat kota Jogjakarta itu sendiri.
“kamu nginep
ditempatnya Mya aja, aku izin sama simbah..”, ujarnya kemudian. Aku mengangguk
mengiakan, bagaimana lagi. Menginap di kos temannya juga bukan masalah berat,
semoga saja anaknya menyenangkan. Paling tidak aku punya teman rumpi.
“oke..”..
==
“hei, gil..”,
seseorang menghampiri kami yang menunggu didepan gerbang sebuah rumah,
merangkap sebagai kos-kosan
“ia, sorry
ngerepotin, aku titip yong ya, jagain..”,
“oke, eh..kamu
kan, hei anak yang dikereta itu kan??”, tanya gadis cantik itu memastikan. Aku
melihat ke arahnya, memastikan dengan seksama, dan benar, dia orang yang duduk
disampingku saat dikereta waktu itu,
“hai..”, sapaku
sambil tersenyum.
“kalian saling
kenal..?”, tanya ragil keheranan melihat kami berdua.
“udah..ceritanya
nanti, pulang gih sana, mau nginep ditempatnya Aga kan, udah malem”. Jawab Mya,
sekaligus mengusir secara halus Ragil pergi.
==
“ooh, jadi kamu
yang diceritain Ragil dari kemarin..”, katanya saat kami mulai mengobrol, hari
memang sudah malam, tapi nyatanya mataku pun masih belum mau ditutup.
“tadi gimana
disana, rame gak?...”, tanyanya kemudian, “ aku mengiakan..” ia, asik
banget..”, jawabku tersenyum, memikirkan hari ini yang melelahkan, dan seharian
dibelakang punggung itu. Pikiranku mulai melantur.
“ah, saying
banget aku gak ikut tadi, bentrok sih sama acara dikampus.”, ujarnya lagi tanpa
ku tanya.
“eh, bentar emang
dia cerita apa soal aku..”, tanyaku penasaran, aku menoleh ke arahnya
memperhatikannya dengan wajah curiga..” gak ngomong yang aneh-aneh kan itu
robot.?”
“hehe…enggak
kok.., eh aku boleh tau..kamu itu sebenernya siapanya Ragil..dia bilang
sepupunya,?”
“oh, yaa..anggap
aja begitu..”, jawabku singkat. Lagian susah juga membicarakan silsilah
keluarga, karena aku juga bukan bagian dari keluarganya kan. Seperti hanya
orang asing yang sangat dekat dengan keluarganya..”kamu teman dekatnya Kak
ragil ya?..”, tanyaku kemudian.
“aku pacarnya,”,
jawabnya singkat disertai senyum sumringah.
Ragi itu cowok yang baik, aku bahkan sampai berfikir
bagaimana mungin ada cowok sebaik dia, tak banyak bicara memang, sangat
seperlunya untuk hal-hal yang kecil. Tapi itu sangat menyenangkan, dia selalu
bicara apa adanya, selalu to the point, gak ada romantis-romantisnya, tapi yang
mengherankan aku malah suka sikapnya yang seperti itu.. Sepertinya aku memang
gila, mana bisa menyukai orang seperti itu, tapi kenyataannya kau bahkan
benar-benar memikirkan cowok itu setiap hari..aku beruntung sepertinya….
Mya, bercerita
banyak, tentang Ragil..ragil dan ragil sepanjang malam ini. Aku hanya
mendengarkan, bagaimana cowok itu begitu istimewa. Aku tersenyum, setengah
mengiakan, tapi kenapa ini..kenapa bahkan aku mulai merasa tidak enak. Semakin
banyak kata yang keluar dari mulut Mya, semakin terasa pahit, menusuk-nusuk
membuatku sangat tidak nyaman. Ada apa
sebenarnya, seperti ada sesuatu yang salah.
“eh..kita jadi
teman baik ya..”, ujarnya tiba-tiba.
Aku mulai
memejamkan mata, mencoba menutup telingaku juga meskipun tentu saja mustahil.
Seperti ada perintah dalam otakku untuk menolak semua isi pembicaraan, aku
tidak mau mendengarnya, tidak mau..
“hei..kamu udah
ngantuk ya,,pasti capek..maaf aku terlalu semangat ngobrol,, tidurlah..”, suara
samar-samar itu aku dengar.
Sepertinya aku tidak waras, Bagaimana mungkin dia
dengan mudah masuk…..cowok itu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar