Rabu, 25 April 2012

Grandmarvelous -A thing called Fate- 10


Chapter 10. Ridiculous feeling..
Sepertinya aku memang harus menarik lagi kata-kataku tentang liburan yang membosankan, ini baik sekali, meskipun sedikit telat. Paling tidak aku bisa tertawa senang disini, dan lupakan saja pikiran yang mengganggu belakangan ini, siapa yang peduli.
Simbah masih tetap sama seperti biasanya, masih tetap cerewet, dan bicaranya jujurnya yang seringkali nyelekit. Aku tak peduli, sepertinya memang mulai terbiasa, santai sekali. Ah, aku jadi berharap punya waktu liburan lebih lama disini.
Ragil, Kak Ragil – meskipun sedikit aneh menyebutnya dengan panggilan seperti itu-, ternyata orang yang sangat welcome, masih membuatku berfikir bagaimana bisa waktu-waktu lalu orang itu begitu dingin, datar dan sama sekali tak peduli. Lucu sekali membandingkannya dengan saat ini, kami mengobrol banyak hal, obrolan yang menyenangkan, kecuali untuk satu hal yang paling tidak aku mengerti masalah elektro, apa itu, saat dia membicarakan kuliahnya, aku memilih mengabaikan sampai mulutnya berhenti bicara sendiri dan menepuk kepalaku.
 “rangkaiannya seperti ini,, buat di PCB wizard, coba saja belajar mikrokontroller, heeh Yong, perhatiin!!”, perintahnya. Cukup aku balas dengan mencibir, dan pergi.
Kak Ragil – lagi-lagi aku merasa konyol menyebut namanya- hangat, dia baik tentu aku tak dibayar hanya untuk memujinya sepenuh hati satu chapter ini, tapi bagaimana mungkin aku tidak mengucapkan terimakasih dengan tulus jika dia dengan baik hati mengajakku menikmati liburan yang tinggal sebentar saja, jalan-jalan, ke pantai, taman pintar, menyusup dikampusnya, beli batik tulis, ramai-ramai belajar membatik, mengunjungi banyak tempat. Ini liburan terlengkap yang pernah aku alami, jadi buat apa harus bayar mahal ikut wisata sekolah kalau ini bahkan liburan yang sempura. Benar, ini pertama kalinya aku bersyukur liburan di rumah simbah.
“Hei..masih menggambar lagi..”, tanyanya mengagetkanku yang sedang melukis sketsa, gambar-gambar dalam pikiranku yang ingin aku abadikan, bukan hanya sekedar foto.
“yoa..”
“buatin satu sketsa gambarku ya..”, ujarnya sambil tersenyum, menepuk pundakku.
Pikiranku buntu, kenapa aku berfikir dia begitu keren, detak jantungku tak karuan.
==
“ayo berangkat”, ajaknya.
Aku mengikuti, sekali lagi perjalanan motornya menembus jarak jauh lagi, menuju kota Jogjakarta. Hari ini seperti yang sudah direncanakan pergi ke sentra batik tulis di Jogjakarta, di Imogiri katanya. Aku sih gak tau mana itu tempatnya, Cuma mengikuti usulannya, gak ada masalah.
Pagi itu motor  terus melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, maklum saja jalanan masih sepi, siapapun melihat suasana seperti itu akan tanpa sadar melajukan motornya lebih cepat dari biasanya. Hawa masih sangat dingin, dan angin pagi berhembus kencang. Aku sedikit menggigil dibelakangnya.
Dibelakangnya, tentu saja. Melihat punggung lebarnya lagi sepanjang waktu yang terbungus jaket cokelatnya.lagi dan lagi. Semakin lama aku semakin menyukainya, sejak kapan?. Aku sendiri tidak tahu. Sepertinya nyaman sekali untuk bersandar, aku membayangkannya, senyum-senyum sendiri, seperti orang kurang waras. Tapi tentu saja, hanya membayangkannya, melakukannya?. Yang benar saja. Itu hal gila, dan aku gak mau membuatku terlihat seperti orang bodoh saat dia menoleh nantinya. Itu terlalu memalukan.
Dan wajah depannya?. Aku tak bisa membayangkan dengan jelas, tulang rahangnya yang tegas..hidungnya, yang ku ingat cuma satu, tatapan matanya yang menyipit tajam.
==
“Udah nyampe..” ujarnya. Aku turun dari motornya, ini parkiran kampusnya, tidak terlalu ramai seperti hari biasanya. Minggu tenang katanya, tapi tetap saja banyak mahasiswa berkeliaran dikampus melakukan banyak hal.
“Minggu tenang kok masih ngerjain tugas?”, tanyaku kemudian.
“oh..sebenernya udah kelar dari dulu, cuman karena kita ketagihan maen kesana makanya kita buat agenda lagi ke Bantul..”. jelasnya, aku hanya meng-oh-kan saja. Diam ditempat asing, meskipun aku cuek tapi ditempat asing ini benar-benar membuatku kikuk. Manusia-manusia teknik ini bahkan seratus kali lebih cuek dibanding aku.
“yuk, tuh anak-anak udah nungguin..”, aku mengekor dibelakangnya. Teman-temannya menyapa, mecoba bersikap ramah padaku, meskipun mayoritasnya adalah makhluk laki-laki, setidaknya masih ada beberapa cewek disana.
“oh, ini yang namanya Yong ya?..yang suka dibicarain ragil..cantik-cantik”, kata salah satu temannya bicara. Aku mengerutkan dahi, apaan sih si Ragil ngomong-ngomongi orang, dan heiii…cantik?, ga salah komen apa. Runtukku dalam hati.
“Yok berangkat..”, kata yang lain.
Rombongan motorpun melesat jauh meninggalkan ramainya jalannan pusat kampus ini, menuju daerah di sisi lain Jogjakarta.
==
“ ini potongan kainnya, buat polanya dulu..bebas aja, nanti nebatiknya pake canting, tuh lilinnya udah dipanaskan”, kata pekerjanya setelah kami mendengarkan penjelasan singkat tentang batik daerah sini, coraknya dan cara pembuatannya.
Aku mengamati setiap prosesnya, mulai dari kain putih polos, digambar polanya, kemudian mulai dibatik mengguratkan lilin panas itu dengan canting, diwarnai dengan pewarna alami, dihilangkan lilinnya,dikeringkan, dililin lagi, diwarnai lagi..sampai menjadi kain batik yang menghasilkan bentuk dan warna yang sesuai. Dilihat dari cara apapun ini bukan pekerjaan sembarangan, bagaimana mungkin kain putih yang awalnya polos itu bisa berubah jadi begitu indah. Aku benar-benar menyukainya.
“ ayo mulai..”, kata Ragil. Aku mengiakan, kalo soal desain mah gampang..aku kan emang dasarnya suka gambar, setelah liat pola-pola dikatalog, alhasil paling tidak gambarku paling bagus diantara mereka-mereka gerombolannya Ragil.
“waahh…bagus, bagus”, puji yang lain. Aku mulai membatik, sampai pada tahap ini aku menyerah, ternyata susah sekali, lilinnya ceceran kemana-mana, hasilnya berantakan. Aku melihat ibu-ibu yang membatik disebelahku, kenapa lancar banget?. Heran, sepertinya tanganku memang gak cocok pekerjaan macam ini. Bukan ahlinya. Sudahlah, menyerah saja.
==
“Ehh. Ayo pilih-pilih batik..”, aku melihat etalase batiknya, ada yang masih dalam bentuk kain, baju, sepatu batik, syal, taplak meja, bahkan sampai souvenir-souvenir kecil seperti canting, dompet , sapu tangan dan lain-lain. Pilihanku akhirnya jatuh pada kain batik warna merah marun dengan motif cantik, aku lupa namanya, sempat kulihat di katalaog tadi. Kemeja batik warna biru, rok cokelat, dan sebuah canting. Harganya lumayan memang, tapi melihat cara mereka membatik, aku sadar aku bukan membeli sebuah kain, tetapi nilai seni.
Dan hadiah lainnya, aku pulang dengan membawa potongan kain yang aku batik tadi, warnanya jadi biru dengan corak batik putih. Berantakan memang, tapi aku suka. Ini hadiah yang bagus.
“eh..ayo pulang, udah seharian disini..tar sore mampir alkid dulu..ngumpul-ngumpul, ya nggak Yong?”, Dhika, salah seorang teman Ragil merangkulkan tangannya ke pundakku, aku menolae. Eh?..
“ayo pulang..”, ragil mengulang ucapan Dhika, sambil mengangkat tangan Dhika dari pundakku. “gak usah petakilan”, lanjutnya kemudian. Yang lain hanya ikut tertawa renyah, Sialan.
Dan kamipun meninggalkan tempat yang nyaman itu, sepi, desa yang jauh dari keramaian, tapi menyimpan nilai yang sangat berharga. Melaju kembali ke pusat kota Jogjakarta, masih punya agenda. Menikmati sore menjelang malam di alun-alun selatan Jogjakarta.
==
“sorry Yong, ini udah malem, gak mungkin kalo kita pulang, daripada simbah khawatir..
“ jadi,?”, tanyaku kemudian. Benar terlalu asyik menghabiskan malam di alkid membuatku lupa bahwa rumah simbah jauh dari pusat kota Jogjakarta itu sendiri.
“kamu nginep ditempatnya Mya aja, aku izin sama simbah..”, ujarnya kemudian. Aku mengangguk mengiakan, bagaimana lagi. Menginap di kos temannya juga bukan masalah berat, semoga saja anaknya menyenangkan. Paling tidak aku punya teman rumpi.
“oke..”..
==
“hei, gil..”, seseorang menghampiri kami yang menunggu didepan gerbang sebuah rumah, merangkap sebagai kos-kosan
“ia, sorry ngerepotin, aku titip yong ya, jagain..”,
“oke, eh..kamu kan, hei anak yang dikereta itu kan??”, tanya gadis cantik itu memastikan. Aku melihat ke arahnya, memastikan dengan seksama, dan benar, dia orang yang duduk disampingku saat dikereta waktu itu,
“hai..”, sapaku sambil tersenyum.
“kalian saling kenal..?”, tanya ragil keheranan melihat kami berdua.
“udah..ceritanya nanti, pulang gih sana, mau nginep ditempatnya Aga kan, udah malem”. Jawab Mya, sekaligus mengusir secara halus Ragil pergi.
==
“ooh, jadi kamu yang diceritain Ragil dari kemarin..”, katanya saat kami mulai mengobrol, hari memang sudah malam, tapi nyatanya mataku pun masih belum mau ditutup.
“tadi gimana disana, rame gak?...”, tanyanya kemudian, “ aku mengiakan..” ia, asik banget..”, jawabku tersenyum, memikirkan hari ini yang melelahkan, dan seharian dibelakang punggung itu. Pikiranku mulai melantur.
“ah, saying banget aku gak ikut tadi, bentrok sih sama acara dikampus.”, ujarnya lagi tanpa ku tanya.
“eh, bentar emang dia cerita apa soal aku..”, tanyaku penasaran, aku menoleh ke arahnya memperhatikannya dengan wajah curiga..” gak ngomong yang aneh-aneh kan itu robot.?”
“hehe…enggak kok.., eh aku boleh tau..kamu itu sebenernya siapanya Ragil..dia bilang sepupunya,?”
“oh, yaa..anggap aja begitu..”, jawabku singkat. Lagian susah juga membicarakan silsilah keluarga, karena aku juga bukan bagian dari keluarganya kan. Seperti hanya orang asing yang sangat dekat dengan keluarganya..”kamu teman dekatnya Kak ragil ya?..”, tanyaku kemudian.
“aku pacarnya,”, jawabnya singkat disertai senyum sumringah.
Ragi itu cowok yang baik, aku bahkan sampai berfikir bagaimana mungin ada cowok sebaik dia, tak banyak bicara memang, sangat seperlunya untuk hal-hal yang kecil. Tapi itu sangat menyenangkan, dia selalu bicara apa adanya, selalu to the point, gak ada romantis-romantisnya, tapi yang mengherankan aku malah suka sikapnya yang seperti itu.. Sepertinya aku memang gila, mana bisa menyukai orang seperti itu, tapi kenyataannya kau bahkan benar-benar memikirkan cowok itu setiap hari..aku beruntung sepertinya….
Mya, bercerita banyak, tentang Ragil..ragil dan ragil sepanjang malam ini. Aku hanya mendengarkan, bagaimana cowok itu begitu istimewa. Aku tersenyum, setengah mengiakan, tapi kenapa ini..kenapa bahkan aku mulai merasa tidak enak. Semakin banyak kata yang keluar dari mulut Mya, semakin terasa pahit, menusuk-nusuk membuatku sangat tidak nyaman.  Ada apa sebenarnya, seperti ada sesuatu yang salah.
“eh..kita jadi teman baik ya..”, ujarnya tiba-tiba.
Aku mulai memejamkan mata, mencoba menutup telingaku juga meskipun tentu saja mustahil. Seperti ada perintah dalam otakku untuk menolak semua isi pembicaraan, aku tidak mau mendengarnya, tidak mau..
“hei..kamu udah ngantuk ya,,pasti capek..maaf aku terlalu semangat ngobrol,, tidurlah..”, suara samar-samar itu aku dengar.
Sepertinya aku tidak waras, Bagaimana mungkin dia dengan mudah masuk…..cowok itu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar