Rabu, 25 April 2012

Grandmarvelous -A thing called Fate- 15


Chapter 15. Ending, like a circle
“Ragil?”
Aku seolah tak percaya dengan apa yang kulihat, sosok itu benar-benar nyata, mimpi di siang bolong ternyata bukan omong kosong. Terjadi disaat yang tidak kuduga sama sekali.
Laki-laki itu sama kagetnya denganku, dia mengatupkan bibirnya yang sedari tadi menghembuskan uap-uap dingin dari mulutnya. Kami sama-sama menggelengkan kepala seolah tak percaya dengan kejadian yang baru kami alami ini, suatu kebetulan yang tak pernah aku pikirkan. Apakah Tokyo begitu sempit?, bukan, apakah dunia ini benar-benar selebar daun kelor?
“Yong, hei..”, ujarnya masih setengah tak percaya seperti juga aku.
“hei juga..kejutan “, jawabku sambil tersenyum.
“darimana?..kok bisa kita ketemu disini, di Tokyo?”, katanya lagi..
“abis jalan- jalan, liat Tokyo tower, aku lagi program course komik disini, dapet rejeki dari kantor”, jawabku menghilangkan sedikit kebingungannya.
“waw,, oke, aku masih pengen ngobrol banyak..nikmatin akhir summer disini lumayan menyenangkan..hari ini udah larut besok-besok aku ajak kamu ngobrol disela waktu kosongku”. Cerocosnya, aku tersenyum melihat antusiasnya, meskipun ada sedikit ruang yang menghampa.
“aku antar kamu pulang” ujarnya kemudian. Aku mengangguk, kami tak banyak bicara disepanjang perjalanan, sibuk dengan pikiran masing-masing yang berkecamuk, hingga sampai di dorm tempatku tinggal.
“udah sampai, “ kataku kemudian. Kami bertukar nomer telepon,
“I’ll call you later..”, katanya sambil melambaikan tangan, punggungnya menghilang dari pandanganku, aku menghela nafas panjang. Aku mengingat Dhika.
---
Aku menghabiskan waktu-waktu akhirku di Jepang dengan Ragil, disela waktu luangku usai pelaksanaan course yang melelahkan,serta diwaktu luang pekerjaannya yang sibuk ini awal musim gugur yang indah, angin mulai menghembuskan udara segarnya meski cukup dingin.
“Kapan kamu balik Indonesia?”, tanyanya kemudian.
“Akir bulan ini, jawabku kemudian, kamu berapa lama disini?”, aku balik bertanya.
“gak tahu, setahun, dua tahun atau bahkan lebih, tergantung perusahaan,”, jawabnya kemudian. Aku menganggukkan kepalaku.
Suasananya diam meski taman ini cukup ramai, aku mengayunkan ayunan perlahan, kakiku mengetuk-ngetuk tanah, sebuah taman kota yang tertata apik dekat kantornya.
“masalah yang dulu itu, sorry..tapi aku benar-benar serius”, katanya memulai pembicaraan, aku menghadapkan wajahku ke arahnya, aku tahu cepat atau lambat hal ini harus diselesaikan.
“aku tahu..tapi maaf banget, segimanapun rasa suka aku ke kamu kak, aku punya kak……”
“aku tahu…”, potongnya kemudian, “Dhika, kan?”, ujarnya memastikan. Aku mengangguk, mengiakan apa yang Ragil katakan.
“Aku suka kamu, dan perasaan itu gak berubah dari dulu, aku tak bisa banyak berkata, karena isinya sama dengan yang aku tuliskan, aku mengutuki diriku sendiri kenapa keadaannya seperti ini, menjadi egois itu sulit. Ah aku hanya menghela nafas, kamu benar-benar seperti racun yang perlahan membunuh.”, kata-katanya membuatku tak enak.
“Mya?..” tanyaku kemudian.
“kami baik, sangat baik. Sampai akhirnya aku dapat beasiswa S2 diluar, dia gak bisa menjaga hubungan long distance, dia seperti membaca isi pikiranku bahwa ada nama lain yang aku sediakan ruangnya dari dulu, bukan namanya. Dan long distance seperti menjadi pembenaran baginya untuk mulai menghilangkan jejaknya dari tapak langkahku, dan saat itu terjadi aku mengutuki lagi diriku, kenapa aku tidak bertindak egois dari dulu.”, helaan nafas beratnya terdengar ditelingaku.
“akhirnya aku putuskan untuk fokus pada karirku, sebagai pelarian, sebagai jalan untuk tetap mengingatmu, mengumpulkan sikap untuk mengejarmu, sampai akhirnya dipernikahan kakakmu…..”
“hal yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya bahwa seseorang bisa menggenggammu lebih dulu daripada aku, dan aku melihatnya, melihat sorot matanya aku selalu berfikir bahwa dia yang kamu pilih, dan saat itu pula aku memutuskan untuk kembali secepatnya, melihatmu membuat aku gila…”
“seandainya saja dulu kamu bilang, mungkin ceritanya lain, aku bahkan sama sekali tak suka Angga..”, jawabku kemudian.
“”aku tahu, menyesal tak mungkin di awal..tapi melihat kamu membuat aku tak bisa berfikir jernih, ada hal-hal yyang tak bisa aku kendalikan dengan nalarku, dan saat aku merenung, kesalahan terbesar semua ini adalah diriku sendiri.., andai aja waktu bisa berjalan mundur..”
“waktu gak bisa berjalan mundur, kita hanya bisa berjalan mundur melalui kenangan…”, ungkapku menjawab gumamannya, aku menarik nafas panjang..
“dan saat ini aku punya seseorang yang terbaik yang aku miliki, Dhika.”
“Dhika teman terbaikku, dia selalu bilang aku selalu ngalahin dia dalam segala hal, tapi untuk satu hal yang terpenting dalam hidupku, aku benar-benar sudah kalah telak darinya”.
“Jika Dhika orangnya, aku bahkan tak menyesal berjalan seperti keong untuk mengejar kamu,”.
“Aku suka kamu, tapi bahkan aku tidak bisa mengejar kamu dengan kuat, aku memang seharusnya kalah.”
“dan kamu kak, bakal nemu orang yang luar biasa untuk mengisi nama di ruang pikiranmu, percaya jodoh punya jalur yang tak pernah kita duga sebelumnya”
“semoga, tapi kamu masih tetap mau jadi cucunya kan?, dan jangan lupa, kamu masih punya hutang satu sketsa untukku”, pintanya kemudian.
“pasti, tapi maaf..sketsanya…..”,
“aku tau..kamu mesti buat sketsa dengan wajah baru yang ada dipikiranmu, bukan lagi aku., eh ngomong-ngomong, gimana kabarnya Petra?”, tanyanya kemudian, aku tertawa renyah..
“kakak aku, dia bahkan lebih asik ketimbang dudung..”,aku melanjutkan obrolanku,
“Ngomong-ngomong, aku lapar, kapan kita selesai ngobrolnya, jangan bilang ini upaya pengalihan kamu biar aku lupa mau ditraktir makan sushi sepuasnya?”, tanyaku setengah bercanda. Dia mengacak-acak rambutku dengan gemas,
“ayo, inget..jangan nambah porsi”, ujarnya. Aku tertawa lebar, kami berjalan beriringan meninggalkan jejak-jejak masa lalu.
Sebuah sketsa wajah yang aku bakar, apinya perlahan melahap tiap bagian kertasnya, menguburnya sebagai kenangan yang menyenangkan, melepaskannya, karena dia sudah melepaskanku. Dan karena aku sudah memilih.
 -----
 Waktu berlalu begit cepat, benar sepertinya bumi berputar makin cepat hingga aku tak sadar telah melalui seperempat abad hidupku dengan kenangan yang menyenangkan. Hari ini pernikahan Rima, bukan dengan Petra, dengan seorang pria kakak tingkatnya yang memiliki konsen sama, dibidang penelitian, keluarga scientis yang baru, aku bahkan tak bisa membayangkan sejenius apa anaknya nanti.
Petra mengagetkanku dengan menggandeng seseorang yang bahkan wajahnya sangat aku kenal, Ina, teman sekelasku di SMA dulu, anak pendiam dan sedikit kikuk, yang sekarang jadi seorang penulis novel dan kolom majalah. Bagaimana bisa? Kapan ketemunya?, mereka hanya tersenyum menanggapi kehebohan rasa penasaran kami.
Tapi tak ada yang lebih menghebohkan kedatangan Dias yang sendirian, Aku diam melihat ketidaknyamanan ini, kami semua membawa pasangan, sangat tidak nyaman melihatnya berjalan sendirian, hingga secara tiba-tiba seseorang merangkulkan tangannya di pundak Dias, seseorang yang membuatku mengerutkan dahi.
“Riffi?..yas lo?..Rim?..”, aku menolehkan pandangan tanda tanya kearah Rima, dia tersenyum simpul sambil mengangkat bahunya.
“Apaaa….!!!”, semua orang tertawa melihat kehebohanku, hal yang tak pernah kusangka sebelumnya. Dunia memang penuh tanda tanya yang tak perlu dicari jawabannya.
“Eh jangan masang muka gak percaya kayak gitu, Gue serius sama dia kak Yong..”, jawab Riffi diselingi selorohan yang lain, aku melihat mata Dias memancarakan rasa senang yang tulus, benar jika orang mengatakan Allah mengantarkan jodoh itu ketangan kita disaat yang tepat.
Aku mengingat Ragil, aku yakin seseorang akan mengisi hidupnya sebentar lagi, sebab Allah sudah menyiapkan seseorang terbaik yang akan menyempurnakan hidupnya.
Tiga orang yang paling mengisi hatiku, Petra, orang pertama yang aku suka. Ragil, orang pertama yang membuat aku jatuh cinta dan Dhika, orang pertama yang membuatku memutuskan memiliki seseorang sebagai pengisi hidupku. Bukankah aku sangat beruntung.
Dhika menggenggam tanganku, kami telah memutuskan menjalani hidup kami dan merencanakan kehidupan masa depan kami sebaik mungkin, tidak ada yang sempurna, hanya mencoba untuk selalu menjadi baik. Dan seperti itulah hidup, tidak pernah ada ujungnya, sebab akhir akan selalu jadi awal cerita yang baru, life is like a circle.

END.

PS: this is my first story...so please have fun reading..and leave a comment okay...im still learning a lot..:D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar