Chapter 15.
Ending, like a circle
“Ragil?”
Aku seolah tak percaya
dengan apa yang kulihat, sosok itu benar-benar nyata, mimpi di siang bolong
ternyata bukan omong kosong. Terjadi disaat yang tidak kuduga sama sekali.
Laki-laki itu
sama kagetnya denganku, dia mengatupkan bibirnya yang sedari tadi menghembuskan
uap-uap dingin dari mulutnya. Kami sama-sama menggelengkan kepala seolah tak
percaya dengan kejadian yang baru kami alami ini, suatu kebetulan yang tak
pernah aku pikirkan. Apakah Tokyo begitu sempit?, bukan, apakah dunia ini
benar-benar selebar daun kelor?
“Yong, hei..”,
ujarnya masih setengah tak percaya seperti juga aku.
“hei
juga..kejutan “, jawabku sambil tersenyum.
“darimana?..kok
bisa kita ketemu disini, di Tokyo?”, katanya lagi..
“abis jalan-
jalan, liat Tokyo tower, aku lagi program course komik disini, dapet rejeki
dari kantor”, jawabku menghilangkan sedikit kebingungannya.
“waw,, oke, aku
masih pengen ngobrol banyak..nikmatin akhir summer disini lumayan
menyenangkan..hari ini udah larut besok-besok aku ajak kamu ngobrol disela
waktu kosongku”. Cerocosnya, aku tersenyum melihat antusiasnya, meskipun ada
sedikit ruang yang menghampa.
“aku antar kamu
pulang” ujarnya kemudian. Aku mengangguk, kami tak banyak bicara disepanjang
perjalanan, sibuk dengan pikiran masing-masing yang berkecamuk, hingga sampai
di dorm tempatku tinggal.
“udah sampai, “
kataku kemudian. Kami bertukar nomer telepon,
“I’ll call you
later..”, katanya sambil melambaikan tangan, punggungnya menghilang dari
pandanganku, aku menghela nafas panjang. Aku mengingat Dhika.
---
Aku menghabiskan
waktu-waktu akhirku di Jepang dengan Ragil, disela waktu luangku usai
pelaksanaan course yang melelahkan,serta
diwaktu luang pekerjaannya yang sibuk ini awal musim gugur yang indah, angin
mulai menghembuskan udara segarnya meski cukup dingin.
“Kapan kamu
balik Indonesia?”, tanyanya kemudian.
“Akir bulan ini,
jawabku kemudian, kamu berapa lama disini?”, aku balik bertanya.
“gak tahu,
setahun, dua tahun atau bahkan lebih, tergantung perusahaan,”, jawabnya
kemudian. Aku menganggukkan kepalaku.
Suasananya diam
meski taman ini cukup ramai, aku mengayunkan ayunan perlahan, kakiku
mengetuk-ngetuk tanah, sebuah taman kota yang tertata apik dekat kantornya.
“masalah yang
dulu itu, sorry..tapi aku benar-benar serius”, katanya memulai pembicaraan, aku
menghadapkan wajahku ke arahnya, aku tahu cepat atau lambat hal ini harus
diselesaikan.
“aku tahu..tapi
maaf banget, segimanapun rasa suka aku ke kamu kak, aku punya kak……”
“aku tahu…”,
potongnya kemudian, “Dhika, kan?”, ujarnya memastikan. Aku mengangguk, mengiakan
apa yang Ragil katakan.
“Aku suka kamu,
dan perasaan itu gak berubah dari dulu, aku tak bisa banyak berkata, karena
isinya sama dengan yang aku tuliskan, aku mengutuki diriku sendiri kenapa
keadaannya seperti ini, menjadi egois itu sulit. Ah aku hanya menghela nafas,
kamu benar-benar seperti racun yang perlahan membunuh.”, kata-katanya membuatku
tak enak.
“Mya?..” tanyaku
kemudian.
“kami baik,
sangat baik. Sampai akhirnya aku dapat beasiswa S2 diluar, dia gak bisa menjaga
hubungan long distance, dia seperti membaca isi pikiranku bahwa ada nama lain
yang aku sediakan ruangnya dari dulu, bukan namanya. Dan long distance seperti
menjadi pembenaran baginya untuk mulai menghilangkan jejaknya dari tapak
langkahku, dan saat itu terjadi aku mengutuki lagi diriku, kenapa aku tidak
bertindak egois dari dulu.”, helaan nafas beratnya terdengar ditelingaku.
“akhirnya aku
putuskan untuk fokus pada karirku, sebagai pelarian, sebagai jalan untuk tetap
mengingatmu, mengumpulkan sikap untuk mengejarmu, sampai akhirnya dipernikahan
kakakmu…..”
“hal yang tak
pernah aku pikirkan sebelumnya bahwa seseorang bisa menggenggammu lebih dulu
daripada aku, dan aku melihatnya, melihat sorot matanya aku selalu berfikir
bahwa dia yang kamu pilih, dan saat itu pula aku memutuskan untuk kembali
secepatnya, melihatmu membuat aku gila…”
“seandainya saja
dulu kamu bilang, mungkin ceritanya lain, aku bahkan sama sekali tak suka
Angga..”, jawabku kemudian.
“”aku tahu,
menyesal tak mungkin di awal..tapi melihat kamu membuat aku tak bisa berfikir
jernih, ada hal-hal yyang tak bisa aku kendalikan dengan nalarku, dan saat aku
merenung, kesalahan terbesar semua ini adalah diriku sendiri.., andai aja waktu
bisa berjalan mundur..”
“waktu gak bisa
berjalan mundur, kita hanya bisa berjalan mundur melalui kenangan…”, ungkapku
menjawab gumamannya, aku menarik nafas panjang..
“dan saat ini
aku punya seseorang yang terbaik yang aku miliki, Dhika.”
“Dhika teman
terbaikku, dia selalu bilang aku selalu ngalahin dia dalam segala hal, tapi
untuk satu hal yang terpenting dalam hidupku, aku benar-benar sudah kalah telak
darinya”.
“Jika Dhika
orangnya, aku bahkan tak menyesal berjalan seperti keong untuk mengejar kamu,”.
“Aku suka kamu,
tapi bahkan aku tidak bisa mengejar kamu dengan kuat, aku memang seharusnya kalah.”
“dan kamu kak,
bakal nemu orang yang luar biasa untuk mengisi nama di ruang pikiranmu, percaya
jodoh punya jalur yang tak pernah kita duga sebelumnya”
“semoga, tapi
kamu masih tetap mau jadi cucunya kan?, dan jangan lupa, kamu masih punya
hutang satu sketsa untukku”, pintanya kemudian.
“pasti, tapi
maaf..sketsanya…..”,
“aku tau..kamu
mesti buat sketsa dengan wajah baru yang ada dipikiranmu, bukan lagi aku., eh
ngomong-ngomong, gimana kabarnya Petra?”, tanyanya kemudian, aku tertawa
renyah..
“kakak aku, dia
bahkan lebih asik ketimbang dudung..”,aku melanjutkan obrolanku,
“Ngomong-ngomong,
aku lapar, kapan kita selesai ngobrolnya, jangan bilang ini upaya pengalihan
kamu biar aku lupa mau ditraktir makan sushi sepuasnya?”, tanyaku setengah
bercanda. Dia mengacak-acak rambutku dengan gemas,
“ayo,
inget..jangan nambah porsi”, ujarnya. Aku tertawa lebar, kami berjalan
beriringan meninggalkan jejak-jejak masa lalu.
Sebuah sketsa wajah yang aku bakar, apinya perlahan
melahap tiap bagian kertasnya, menguburnya sebagai kenangan yang menyenangkan,
melepaskannya, karena dia sudah melepaskanku. Dan karena aku sudah memilih.
-----
Waktu berlalu begit cepat, benar sepertinya bumi berputar makin cepat hingga aku tak sadar telah melalui seperempat abad hidupku dengan kenangan yang menyenangkan. Hari ini pernikahan Rima, bukan dengan Petra, dengan seorang pria kakak tingkatnya yang memiliki konsen sama, dibidang penelitian, keluarga scientis yang baru, aku bahkan tak bisa membayangkan sejenius apa anaknya nanti.
Waktu berlalu begit cepat, benar sepertinya bumi berputar makin cepat hingga aku tak sadar telah melalui seperempat abad hidupku dengan kenangan yang menyenangkan. Hari ini pernikahan Rima, bukan dengan Petra, dengan seorang pria kakak tingkatnya yang memiliki konsen sama, dibidang penelitian, keluarga scientis yang baru, aku bahkan tak bisa membayangkan sejenius apa anaknya nanti.
Petra
mengagetkanku dengan menggandeng seseorang yang bahkan wajahnya sangat aku
kenal, Ina, teman sekelasku di SMA dulu, anak pendiam dan sedikit kikuk, yang
sekarang jadi seorang penulis novel dan kolom majalah. Bagaimana bisa? Kapan
ketemunya?, mereka hanya tersenyum menanggapi kehebohan rasa penasaran kami.
Tapi tak ada
yang lebih menghebohkan kedatangan Dias yang sendirian, Aku diam melihat
ketidaknyamanan ini, kami semua membawa pasangan, sangat tidak nyaman
melihatnya berjalan sendirian, hingga secara tiba-tiba seseorang merangkulkan
tangannya di pundak Dias, seseorang yang membuatku mengerutkan dahi.
“Riffi?..yas
lo?..Rim?..”, aku menolehkan pandangan tanda tanya kearah Rima, dia tersenyum
simpul sambil mengangkat bahunya.
“Apaaa….!!!”, semua
orang tertawa melihat kehebohanku, hal yang tak pernah kusangka sebelumnya.
Dunia memang penuh tanda tanya yang tak perlu dicari jawabannya.
“Eh jangan
masang muka gak percaya kayak gitu, Gue serius sama dia kak Yong..”, jawab
Riffi diselingi selorohan yang lain, aku melihat mata Dias memancarakan rasa
senang yang tulus, benar jika orang mengatakan Allah mengantarkan jodoh itu
ketangan kita disaat yang tepat.
Aku mengingat
Ragil, aku yakin seseorang akan mengisi hidupnya sebentar lagi, sebab Allah sudah
menyiapkan seseorang terbaik yang akan menyempurnakan hidupnya.
Tiga orang yang
paling mengisi hatiku, Petra, orang pertama yang aku suka. Ragil, orang pertama
yang membuat aku jatuh cinta dan Dhika, orang pertama yang membuatku memutuskan
memiliki seseorang sebagai pengisi hidupku. Bukankah aku sangat beruntung.
Dhika
menggenggam tanganku, kami telah memutuskan menjalani hidup kami dan
merencanakan kehidupan masa depan kami sebaik mungkin, tidak ada yang sempurna,
hanya mencoba untuk selalu menjadi baik. Dan seperti itulah hidup, tidak pernah
ada ujungnya, sebab akhir akan selalu jadi awal cerita yang baru, life is like a circle.
END.
PS: this is my first story...so please have fun reading..and leave a comment okay...im still learning a lot..:D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar