Rabu, 25 April 2012

Grandmarvelous -A thing called Fate- 5


Chapter 5.  lets go…
Ini perjalanan yang melelahkan, berjam-jam dikereta Pasundan arah Bandung – Jogja, Surabaya sih tujuan akhirnya. Sedikit lebih baik daripada naik travel kupikir, kereta lebih menghibur sepertinya, dan lagi lebih murah. Lebih baik aku beli tiket ekonomi, biar isi dompetku lebih banyak. Sebenarnya mama gak setuju, bahaya katanya, khawatir. Tapi aku tak peduli, bagiku anggap saja sebagai syarat, toh aku juga bukan anak kecil lagi. Untuk apa buang-buang uang lebih banyak kalau suasana hatiku sedang tidak enak, sama-sama tidak menyenangkan. Setidaknya aku bisa sebentar pergi dari mereka, pergi dari mereka yang saling menutup diri satu sama lain, dan membuatku sakit dengan segudang perasaan yang aku sendiri tak paham sebenarnya apa.
Disa, kenapa mesti selalu Rima sih Yong?,,
Rima, Disa bikin gue pusing, kesel gue..
Petra, kenapa mesti begitu.
Dan kenapa mesti gue yang tahu semua ini, melihat dan mendengarnya  dengan jelas.
Aku terus memandangi kaca, melihat jauh ke titik terjauh yang bisa aku lihat. Rasanya suntuk, kenapa ini harus aku rasakan. Ini pertama kalinya aku seperti ini, rasanya aneh. Bahkan pikiranku sendiri tak bisa melarangku untuk terus merasa nafasku berat. Ayolah, cerita cinta monyet ternyata tidak menyenangkan. Aku mulai berfikir apa menyukai itu salah.
---
“aah….kebablasan..” ucapku panik meski pelan memang, tanpa aku sadar kereta yang aku naiki telah meninggalkan stasiun kereta tujuanku turun , Wates. Mana bisa aku bertindak bodoh seperti ini, lamunan yang kacau membuat aku bahkan tak bisa berfikir jernih dan sadar dimana seharusnya aku turun.
“kelewat ya, nanti turun di Lempuyangan aja mbak, bareng.,saya juga turun disana”. Seseorang yang duduk disebelahku menangkap kepanikanku. Meski sepanjang perjalanan tadi bahkan tak satu patah katapun  keluar dari mulutku hanya untuk sekedar menyapa. Pikiranku merubahku jadi seperti patung.
“ oh ia..makasih mbak”, jawabku kikuk. Aku termangu setengah khawatir memang. Sepertinya memang saatnya menghentikan lamunanku. Aku menengak air mineral, membasahi bibirku yang mulai kering dan badanku yang kegerahan.
“ Mya, “, dia mengulurkan tangannya, dengan raut wajah yang hangat. “ Mayang”, Aku balas mengulurkan tangan. Kami berjabat tangan dengan baik, sikapnya yang ramah membuatku tak merasa canggung, padahal biasanya aku agak anti orang yang baru aku kenal.
Aku akhirnya mamperhatikan sosoknya, hei dia sangat cantik kupikir. Objektif saja, penampilanya rapi dan feminim. Kalo orang seperti dia pasti banyak yang suka, dibandingkan denganku tentu kalah jauh, kaos rangkap jumper hijau tua kesayanganku, jeans, sepatu kets dan rambut pendek yang kukuncir serta poni belah pinggir yang tak rapi. Sedangkan dia, sangat menarik dengan kemeja krem yang dipadu sweater biru tua yang manis. Dengan sikapnya yang ramah, Ah selintas aku jadi merasa iri.
Dan akhirnya aku punya teman ngobrol yang menyenangkan di akhir perjalanan.
“hei gimana kamu pulangnya?, masih asing kan dijogja..”, tanyanya kemudian saat kami tiba dilempuyangan.
“oh tenang aja, tadi aku udah hubungi simbah, katanya nanti ada yang jemput..”, jawabku kemudian.
“oh, oke kalo gitu, aku duluan ya..temenku udah datang, kalo sempet maen ke kosku..kita kontak-kontakan lagi..”
‘ya,”..aku mengangguk, melambaikan tangan saat dia meninggalkan stasiun, dibonceng temannya yang menjemput. Aku masih menunggu, menunggu jemputan yang aku sendiri tak tahu siapa dan yang mana, apalagi waktu datangnya. Sudahlah sabar saja.
  --
Ponselku bunyi, setelah menunggu beberapa waktu. Nomer baru yang belum ada di kontak hpku.
“halo, maaf ini siapa?”
“Yong?, aku tunggu diparkiran”, jawab si penelpon singkat. Suaranya datar, dingin gak ada ramah-ramahnya.
Aku bergegas ke arah parkiran, “kayaknya dia”, pikirku dalam hati. Menghampiri seseorang yang berperawakan lumayan tinggi, melihat kearahku tanpa melepas helmnya. Mukanya kayak apa mana aku tahu.
“Ragil bukan?”, tanyaku memastikan. Soalnya kata simbah yang mau jemput aku itu Ragil namanya, gak tahu itu siapanya.
“Ia”, masih dengan nada datarnya, memberikanku helm. Aku masih terbengong-bengong melihat gayanya yang – sumpah, minta disiram air panas- dingin banget. Denger dari suaranya sih masih muda, ramah dikit kenapa sih, mahal kali ya disini.
“Ayo naik”, katanya.
Aku mengikuti. Dan motorpun melesat cepat, mengikuti jalanan yang aku sendiri tak tahu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar