Chapter 5. lets go…
Ini perjalanan
yang melelahkan, berjam-jam dikereta Pasundan arah Bandung – Jogja, Surabaya sih
tujuan akhirnya. Sedikit lebih baik daripada naik travel kupikir, kereta lebih
menghibur sepertinya, dan lagi lebih murah. Lebih baik aku beli tiket ekonomi,
biar isi dompetku lebih banyak. Sebenarnya mama gak setuju, bahaya katanya,
khawatir. Tapi aku tak peduli, bagiku anggap saja sebagai syarat, toh aku juga
bukan anak kecil lagi. Untuk apa buang-buang uang lebih banyak kalau suasana
hatiku sedang tidak enak, sama-sama tidak menyenangkan. Setidaknya aku bisa
sebentar pergi dari mereka, pergi dari mereka yang saling menutup diri satu
sama lain, dan membuatku sakit dengan segudang perasaan yang aku sendiri tak
paham sebenarnya apa.
Disa, kenapa mesti selalu Rima sih Yong?,,
Rima, Disa bikin gue pusing, kesel gue..
Petra, kenapa mesti begitu.
Dan kenapa mesti gue yang tahu semua ini, melihat
dan mendengarnya dengan jelas.
Aku terus
memandangi kaca, melihat jauh ke titik terjauh yang bisa aku lihat. Rasanya
suntuk, kenapa ini harus aku rasakan. Ini pertama kalinya aku seperti ini,
rasanya aneh. Bahkan pikiranku sendiri tak bisa melarangku untuk terus merasa
nafasku berat. Ayolah, cerita cinta monyet ternyata tidak menyenangkan. Aku
mulai berfikir apa menyukai itu salah.
---
“aah….kebablasan..”
ucapku panik meski pelan memang, tanpa aku sadar kereta yang aku naiki telah
meninggalkan stasiun kereta tujuanku turun , Wates. Mana bisa aku bertindak
bodoh seperti ini, lamunan yang kacau membuat aku bahkan tak bisa berfikir
jernih dan sadar dimana seharusnya aku turun.
“kelewat ya,
nanti turun di Lempuyangan aja mbak, bareng.,saya juga turun disana”. Seseorang
yang duduk disebelahku menangkap kepanikanku. Meski sepanjang perjalanan tadi
bahkan tak satu patah katapun keluar
dari mulutku hanya untuk sekedar menyapa. Pikiranku merubahku jadi seperti
patung.
“ oh ia..makasih
mbak”, jawabku kikuk. Aku termangu setengah khawatir memang. Sepertinya memang
saatnya menghentikan lamunanku. Aku menengak air mineral, membasahi bibirku
yang mulai kering dan badanku yang kegerahan.
“ Mya, “, dia
mengulurkan tangannya, dengan raut wajah yang hangat. “ Mayang”, Aku balas
mengulurkan tangan. Kami berjabat tangan dengan baik, sikapnya yang ramah
membuatku tak merasa canggung, padahal biasanya aku agak anti orang yang baru
aku kenal.
Aku akhirnya
mamperhatikan sosoknya, hei dia sangat cantik kupikir. Objektif saja,
penampilanya rapi dan feminim. Kalo orang seperti dia pasti banyak yang suka,
dibandingkan denganku tentu kalah jauh, kaos rangkap jumper hijau tua
kesayanganku, jeans, sepatu kets dan rambut pendek yang kukuncir serta poni
belah pinggir yang tak rapi. Sedangkan dia, sangat menarik dengan kemeja krem
yang dipadu sweater biru tua yang manis. Dengan sikapnya yang ramah, Ah
selintas aku jadi merasa iri.
Dan akhirnya aku
punya teman ngobrol yang menyenangkan di akhir perjalanan.
“hei gimana kamu
pulangnya?, masih asing kan dijogja..”, tanyanya kemudian saat kami tiba
dilempuyangan.
“oh tenang aja,
tadi aku udah hubungi simbah, katanya nanti ada yang jemput..”, jawabku
kemudian.
“oh, oke kalo
gitu, aku duluan ya..temenku udah datang, kalo sempet maen ke kosku..kita
kontak-kontakan lagi..”
‘ya,”..aku
mengangguk, melambaikan tangan saat dia meninggalkan stasiun, dibonceng
temannya yang menjemput. Aku masih menunggu, menunggu jemputan yang aku sendiri
tak tahu siapa dan yang mana, apalagi waktu datangnya. Sudahlah sabar saja.
--
Ponselku bunyi,
setelah menunggu beberapa waktu. Nomer baru yang belum ada di kontak hpku.
“halo, maaf ini
siapa?”
“Yong?, aku
tunggu diparkiran”, jawab si penelpon singkat. Suaranya datar, dingin gak ada
ramah-ramahnya.
Aku bergegas ke
arah parkiran, “kayaknya dia”, pikirku dalam hati. Menghampiri seseorang yang
berperawakan lumayan tinggi, melihat kearahku tanpa melepas helmnya. Mukanya
kayak apa mana aku tahu.
“Ragil bukan?”,
tanyaku memastikan. Soalnya kata simbah yang mau jemput aku itu Ragil namanya,
gak tahu itu siapanya.
“Ia”, masih
dengan nada datarnya, memberikanku helm. Aku masih terbengong-bengong melihat
gayanya yang – sumpah, minta disiram air panas- dingin banget. Denger dari
suaranya sih masih muda, ramah dikit kenapa sih, mahal kali ya disini.
“Ayo naik”,
katanya.
Aku mengikuti.
Dan motorpun melesat cepat, mengikuti jalanan yang aku sendiri tak tahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar