Rabu, 25 April 2012

Grandmarvelous -A thing called Fate- 8


Chapter 8.  That sight
Yess…yess..yess, akhirnya aku bisa jalan-jalan yang sebenarnya di Jogja. Itu gara-gara aku bilang mama pesen oleh-oleh batik buat orang rumah, sekaligus titipan belanjaan rekan kerjanya. Aahh, senangnya akhirnya bisa melangkahkan kaki keluar rumah kayu ini. Ya, ampun, aku bisa benar-benar tua sebelum waktunya kalo aku sampai benar-benar menghabiskan waktu liburanku seluruhnya disini. Meskipun simbah melarangku pergi sendiri naik bus, “Nduk, cah ayu ki ora ngerti jogja, nek kesasar piye..dianterin Ragil..aman”, katanya. Dan alhasil, akhirnya mau gak mau kepalaku yang sudah aku beton pake pasir dan semen dengan kualitas utama akhirnya roboh juga, kepalaku mengangguk mengiakan sarannya. Bagaimanapun lebih baik begini daripada tidak sama sekali. It will be a boring time..im sure.
Begitulah untuk waktu yang lumayan lama, aku berada dibelakang punggungnya, ditengah kebasan angin yang terpecah laju motornya.
---
Malioboro seperti itu saja, selalu ramai. Apalagi di musim liburan macam ini, semua orang sepertinya tumpah ruah di sepanjang jalannya. Orang-orang berhimpitan hanya untuk menyusuri jalan trotoar yang separuhnya sudah ditempati lapak lapak pedagang, menjajakan dagangan yang identik satu sama lain, bahkan dengan harga yang hamper sama. Sepertinya memang ada standarisasi antar pedagang, semacam kesepakatan tak tertulis mungkin..
“Mau beli apa..?”, tanyanya melihatku sedari tadi hanya jalan berkeliling tanpa membeli atau menawar satu barangpun.
“Bingung., mau beli apa.pilihannya kebanyakan”, jawabku masih  tengok kanan kiri, tak memperhatikan Ragil yang berdiri mengekorku dibelakang dari tadi.
“ Beli kaos Buat Nanda, buat mama bapakmu baju, atau kain batik, buat kamunya sendiri terserah, baju, rok, dress atau apapun, celana batik lebih cocok kayaknya, semuanya kan emang ada di Beringharjo kenapa pusing”, ujuarnya kemudian. Aku menoleh kebelakang, mengerutkan dahiku, ini orang ngomong plas plos aja sih kayak gak ada saringannya gumamku dalam hati. Huuffhh, aku mendengus kesal.
“iaa..udah, kasih tau mana tempat yang bagus, sekalian kamu yang nawar, tar yang milih aku.”, jawabku ketus, wajar kali orang belanja kebingungan milih, ini orang emang gak niat nganterin dan nemenin belanja. Apa gak tahu seninya berbelanja. Tau gitu mending aku pergi sendiri kan tadi.
Akhirnya selesai juga perburuan barang hari ini, meskuipun aku akui kalau dia memang jago milih barang dan tempat yang bagus, naksir harga pasti juga. Tentu aja, mamanya kan punya toko baju, kain atau semacamnya.
“udah kelar, tinggal batik tulis pesenan temennya mama, aah aku bingung tadi milihnya, lagian harganya mahal-mahal juga”, kataku sambil menenteng barang belanjaan. “nyari dimana..?”
“Ya, disini emang dijual juga…cuman kalau kamu bingung besok boleh ikut aku sama temen-temenku ke sentra batik tulis di Imogiri, itu khas jogja.” tawarnya kemudian,
“tapi emang jauh dari sini, terserah mau beli disini juga gak papa…kamu kan yang mau beli, aku Cuma nyaranin”
“itu acara kampus kan?”
“tenang aja, Cuma study buat materi kewirausahaan kok…maen aja ke sana..”
“ya udah besok aja, sekarang aku dah laper..makan aja lah..”, ajakku mengingat kepalaku sudah mulai nyut-nyutan akibat dehidrasi dan isi perutku sudah berseriosa ria memantul-mantul dikulit lambungku.
“ jangan disini, mahal.”, jawabnya singkat. Dasar manusia robot penuh perhitungan. Pelit.
---
“eh, besok gue ikut kalian ke imogiti itu..tapi yang izin ke simbah kamu, ya.. jangan aku”
“Kenapa emangnya, kamu aja lah, yang butuh kamu tho?..”, jawabnya santai,,
“ia..ia”
Ih,, benar-benar menyebalkan. Dasar , kenapa robot kaku gak jelas macam itu harus hadir dimuka bumi ini sih, dihadapanku pula, sebenernya gue salah apaan sih sampe dikasih cobaan kayak gini. Kalo galak, galak sekalian, biar karakternya jelas. Yang ini, kalo nurutin pepatah, diem itu katanya emas, tapi pengecualian untuk yang satu ini. Sok cool amat sih jadi orang.
“Nikmatin jalan-jalannya, kata nenek kamu gak ikut wisata sekolah, Cuma pengen liburan di rumah simbah kan, ntar nyesel aklo gak dimanfaatin, “ ujarnya sambil bercanda. Apa???, kalo aku bakal tahu nasib liburanku menyedihkan seperti ini sih, mending gak milih dua-duanya, mending diem dirumah nonton tv seharian. Siapa juga yang mau milih ikutan wisata sekolah, jika situasinya malah bikin aku panas setegah mati. Dasar manusia sok tahu, gara-gara dia aku mengingatnya lagi. Mengingat mereka semua, mengingat semua hal yang menyebalkan itu. Ragil benar-benar membuatku harus menghela nafas dalam lagi saat ini.
“Ayo, katanya kelaperan..cari tempat makan”, ajaknya dengan nada tanpa rasa bersalah. Padahal mukaku sudah kutekuk hampir sembilan puluh derajat, apa manusia yang satu ini memang sudah kehilangan sensitivitasnya, benar-benar gak peka.
“aissh…ia..”, jawabku kesal.
Kami berjalan keparkiran yang penuh sesak dengan barisan motor. Seorang tukang parker mengeluarkan motornya dari tempat parkiran, 
“jogja, lagi musim liburan rame ya..dimana-mana gerombolan anak-anak sekolahan..liat gayanya…”
Aku tertegun, diseberang jalan itu…
Ragil menarik tanganku, aku tergagap sementara waktu, “ ayo , pulang ujarnya lembut.
Motor melaju, meninggalkan sepanjang jalan malioboro..
Pandangan itu mengganggu mataku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar