Chapter 8. That sight
Yess…yess..yess,
akhirnya aku bisa jalan-jalan yang sebenarnya di Jogja. Itu gara-gara aku
bilang mama pesen oleh-oleh batik buat orang rumah, sekaligus titipan belanjaan
rekan kerjanya. Aahh, senangnya akhirnya bisa melangkahkan kaki keluar rumah
kayu ini. Ya, ampun, aku bisa benar-benar tua sebelum waktunya kalo aku sampai
benar-benar menghabiskan waktu liburanku seluruhnya disini. Meskipun simbah
melarangku pergi sendiri naik bus, “Nduk, cah ayu ki ora ngerti jogja, nek
kesasar piye..dianterin Ragil..aman”, katanya. Dan alhasil, akhirnya mau gak
mau kepalaku yang sudah aku beton pake pasir dan semen dengan kualitas utama
akhirnya roboh juga, kepalaku mengangguk mengiakan sarannya. Bagaimanapun lebih
baik begini daripada tidak sama sekali. It
will be a boring time..im sure.
Begitulah untuk
waktu yang lumayan lama, aku berada dibelakang punggungnya, ditengah kebasan
angin yang terpecah laju motornya.
---
Malioboro
seperti itu saja, selalu ramai. Apalagi di musim liburan macam ini, semua orang
sepertinya tumpah ruah di sepanjang jalannya. Orang-orang berhimpitan hanya
untuk menyusuri jalan trotoar yang separuhnya sudah ditempati lapak lapak
pedagang, menjajakan dagangan yang identik satu sama lain, bahkan dengan harga
yang hamper sama. Sepertinya memang ada standarisasi antar pedagang, semacam
kesepakatan tak tertulis mungkin..
“Mau beli apa..?”,
tanyanya melihatku sedari tadi hanya jalan berkeliling tanpa membeli atau
menawar satu barangpun.
“Bingung., mau
beli apa.pilihannya kebanyakan”, jawabku masih
tengok kanan kiri, tak memperhatikan Ragil yang berdiri mengekorku
dibelakang dari tadi.
“ Beli kaos Buat
Nanda, buat mama bapakmu baju, atau kain batik, buat kamunya sendiri terserah,
baju, rok, dress atau apapun, celana batik lebih cocok kayaknya, semuanya kan
emang ada di Beringharjo kenapa pusing”, ujuarnya kemudian. Aku menoleh
kebelakang, mengerutkan dahiku, ini orang
ngomong plas plos aja sih kayak gak ada saringannya gumamku dalam hati.
Huuffhh, aku mendengus kesal.
“iaa..udah,
kasih tau mana tempat yang bagus, sekalian kamu yang nawar, tar yang milih
aku.”, jawabku ketus, wajar kali orang belanja kebingungan milih, ini orang
emang gak niat nganterin dan nemenin belanja. Apa gak tahu seninya berbelanja.
Tau gitu mending aku pergi sendiri kan tadi.
Akhirnya selesai
juga perburuan barang hari ini, meskuipun aku akui kalau dia memang jago milih
barang dan tempat yang bagus, naksir harga pasti juga. Tentu aja, mamanya kan
punya toko baju, kain atau semacamnya.
“udah kelar,
tinggal batik tulis pesenan temennya mama, aah aku bingung tadi milihnya,
lagian harganya mahal-mahal juga”, kataku sambil menenteng barang belanjaan.
“nyari dimana..?”
“Ya, disini
emang dijual juga…cuman kalau kamu bingung besok boleh ikut aku sama
temen-temenku ke sentra batik tulis di Imogiri, itu khas jogja.” tawarnya
kemudian,
“tapi emang jauh
dari sini, terserah mau beli disini juga gak papa…kamu kan yang mau beli, aku
Cuma nyaranin”
“itu acara
kampus kan?”
“tenang aja,
Cuma study buat materi kewirausahaan kok…maen aja ke sana..”
“ya udah besok
aja, sekarang aku dah laper..makan aja lah..”, ajakku mengingat kepalaku sudah
mulai nyut-nyutan akibat dehidrasi dan isi perutku sudah berseriosa ria
memantul-mantul dikulit lambungku.
“ jangan disini,
mahal.”, jawabnya singkat. Dasar manusia robot penuh perhitungan. Pelit.
---
“eh, besok gue
ikut kalian ke imogiti itu..tapi yang izin ke simbah kamu, ya.. jangan aku”
“Kenapa
emangnya, kamu aja lah, yang butuh kamu tho?..”, jawabnya santai,,
“ia..ia”
Ih,, benar-benar
menyebalkan. Dasar , kenapa robot kaku gak jelas macam itu harus hadir dimuka
bumi ini sih, dihadapanku pula, sebenernya gue salah apaan sih sampe dikasih
cobaan kayak gini. Kalo galak, galak sekalian, biar karakternya jelas. Yang
ini, kalo nurutin pepatah, diem itu katanya emas, tapi pengecualian untuk yang
satu ini. Sok cool amat sih jadi orang.
“Nikmatin
jalan-jalannya, kata nenek kamu gak ikut wisata sekolah, Cuma pengen liburan di
rumah simbah kan, ntar nyesel aklo gak dimanfaatin, “ ujarnya sambil bercanda.
Apa???, kalo aku bakal tahu nasib liburanku menyedihkan seperti ini sih,
mending gak milih dua-duanya, mending diem dirumah nonton tv seharian. Siapa
juga yang mau milih ikutan wisata sekolah, jika situasinya malah bikin aku
panas setegah mati. Dasar manusia sok tahu, gara-gara dia aku mengingatnya
lagi. Mengingat mereka semua, mengingat semua hal yang menyebalkan itu. Ragil
benar-benar membuatku harus menghela nafas dalam lagi saat ini.
“Ayo, katanya
kelaperan..cari tempat makan”, ajaknya dengan nada tanpa rasa bersalah. Padahal
mukaku sudah kutekuk hampir sembilan puluh derajat, apa manusia yang satu ini
memang sudah kehilangan sensitivitasnya, benar-benar gak peka.
“aissh…ia..”,
jawabku kesal.
Kami berjalan
keparkiran yang penuh sesak dengan barisan motor. Seorang tukang parker
mengeluarkan motornya dari tempat parkiran,
“jogja, lagi
musim liburan rame ya..dimana-mana gerombolan anak-anak sekolahan..liat
gayanya…”
Aku tertegun,
diseberang jalan itu…
Ragil menarik
tanganku, aku tergagap sementara waktu, “ ayo , pulang ujarnya lembut.
Motor melaju,
meninggalkan sepanjang jalan malioboro..
Pandangan itu mengganggu mataku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar