First Flight
Kami boarding sekitar pukul 05.50. Rombongan berjalan antri, sebelum petugas mengecek tiket kami. saya berjalan masuk ke pintu utama pesawat. Sekilas melihat koran, seperti biasanya tangan saya refleks langsung mengambilnya. Saya sendiri tidak tahu kenapa saya menyukai koran. tapi setiap melihatnya, tangan saya refleks langsung mengambil. Apalagi dengan embel-embel for free.
Saya dapat seat nomer 40 H, seat didekat lorong, dan disamping sayap pesawat. disebelah saya duduk teman satu kelompok saya Radit, dan disamping jendela adalah seat dosen pendamping kami. Anggota kelompok lain duduk dibelakang dan disamping saya.
Perjalanan Surabayya-Bandar Seri begawan mennghabiskan waktu seitar 1.45 menit, cukup singkat jika harus dibandingkan dengan perjalanan darat ataupun laut. Terimakasih untuk penemu pesawat terbang, saya salah satu manusia yang menikmati hasilnya.
Suara mesin cukup kencang, paling tidak membuat telinga saya sedikit pekak, seperti saran teman saya, saya makan permen untuk mengurangi kadar ketidaknyamanan selama dipesawat. Tapi sekali lagi, karena ini pertama kalinya untuk saya, saya menyukainya.
Jadwal makan akhirnya tiba, ada dua pilihan menu yang ditawarkan oleh pramugari. sebelum saya membahas makanan, saya sedikit mengulas pakaian pramugarinya, mereka cantik. dengan rok batik merah panjang, meskipun dengan belahan yang cukup tinggi sih, dan baju dengan lengan tida perempat berwarna krem. Atau sebaliknya, sebab ada dua jenis kostum yang saya lihat. Sepatu merekka bukan high heels, sendal flat dengan sedikit hak, sekitar 3 cm. Kerudung mereka berwarna krem gading, dengan kerudung bentuk peci, kemudian dibalut selendang tipis warna yang sama. cantik meskipun agak mengganggu karena leher mereka tetap tampak..
Lanjut ke makanan, menu yang ditawarkan ada dua macam telur dadar dan ayam sosis atau nasi goreng and fish. Karena lidah saya masih prefer ke nasi, akhirnya saya pilih nasi goreng and fish,.milk coffe, dan segelas orange juice.
Bagaimana rasanya?. saya pikir itu nasi goreng paling tidak enak yang pernah saya coba. Seperti nasi hambar dengan sedikit aroma mentega, dicampur bumbu yang saya tidak tahu apa, ikannya saya tidak tahu itu ikan apa, ikan fillet, dengan balutan tepung, digorenga tanpa bumbu, kemudian di beri saus berwarna, sejenis kecap dengan beberapa bumbu tambahan. Rasanya hambar. Ada tiga potong buah yang disajikan, nanas, jeruk dan semangka. yang ketiganya punya rasa yang asam. plus segelas orang juice yang rasanya luar biasa asam. Satu-satunya penawar bagi lidah saya adalah kopi susu yang agak pahit. sengaja saya tidak memasukkan gula, untuk menetralisir rasa yang tidak karuan di lidah saya..
Bagaimana dengan menu yang satunya, telur dadar dan sosis ayam, saya sempat mencicip menu teman disamping saya, dan rasanya sama saja. tidak enak, saya lebih suka telur dadar yang biasa saya beli di warung makan di jogja.
Ini pengalaman, makanan pertama yang membuat perut saya langsung sakit dan berkontraksi. Entah gara-gara makanannya, atau karena makanan yang asam yang saya minum.
Turun dari pesawat sekitar pukul 08.30 WIB, saya kemudian mengganti jarum jam tangan saya dengan menambahkan satu jam lebih cepat dari waktu biasanya. Selintas saya berfikir, ah yaa... dimana satu jam saya yang hilang.
Pemeriksaan di imigrasi cukup memakan waktu, sebab antrian cukup panjang, saat melewati x ray untuk memeriksa koper kami, seorang anggota kelompok lupa masih menggendong tas di pundaknya, petugas mengingatkan untuk mengecek tasnya, intonasinya sedikit tinggi, tapi begitu memang sudah sistem kerja petugas bandara, kami melewati pemeriksaan, keluar dari pintu dan bertemu dengan seseorang yang memegang kertas bertuliskan SEAMEO VOCTECH. bapak yang menjemput kami, jalannya sangat cepat, kami seperti setengah berlari mengejar bapaknya.
Udara brunai panas, berbeda dengan ruangan-ruangan yang dipenuhi AC, diluar ruangan panasnya cukup menyengat. kami menaikan koper dengan cepat. dan mobil segera berlalu meninggalkan bandara yang sedang dalam masa perbaikan itu.
Saya masih takjub, ini brunai !, saya suka infrastruktur jalannya yang mulus seperti jalan tol, bebas traffict light, macet, saya mengamati dari mobil. hingga mobil yang membawa kami berhenti di depan sebuah gedung, Seameo Voctech.
Kami sampai.
Perut saya sakit
Saya melihat jam tangan saya.
pukul 11.15.
next --- > cerita tentang banyak hal yang lebih detail. obrolan yang menyenangkan di Seameo Voctech :)
Sabtu, 15 Desember 2012
Senin, 10 Desember 2012
Memory of Brunei Darussalam
Keberangkatan
Kami berangkat hari Minggu tanggal 2 Desember, ditengah kegalauan saya melihat beberapa teman dekat saya yang melakasanakan wisuda pada hari Sabtu, setengah iri memang, tapi mengingat bahwa saya sendiri belum bisa lulus, saya akhirnya mengiklhaskan diri dan menganggap perjalanan kali ini sebagai hiburan untuk saya. Setiap orang bisa bahagia, dengan cara yang berbeda-beda.
Kami berangkat pukul 16.14, ditengah gerimis yang lumayan lebat. dua mobil mulai melaju meninggalkan Jogjakarta menuju Surabaya, perjalanannya berapa jam saya sendiri lupa tepatnya. yang jelas saat itu suhu udara agak dingin, dan badan saya agak kurang baik. Sebutir parasetamol cukup membantu saat itu,
mobil terus melaju, sesekali kami bercanda meskipun lebih sering tertidur. Sekitar pukul 19.30 kami berhenti di daerah Sragen, disalah satu masjid. Shalat, lalu mengisi perut kami yang mulai keroncongan dengan bekal yang dibawa salah satu anggota kelompok kami. Lama saya tertidur di mobil, udara dingin membuat saya agak menggigil, saya mengurung badan saya dengan jaket agar lebih hangat. Sekitar pukul 23.30 kami berhenti di salah satu SPBU di daerah Jombang, mengisi sudah sampai ke jawa timur ternyata. Artinya saya telah nelintasi tiga provinsi dalam satu malam hehehe... hebat ya, kapan lagi saya punya pengalaman seperti ini.
Kami tiba di bandara Internasional Juanda sekitar pukul 01.50 pagi, cuaca dingin dan kami masih mengantuk. sambil menunggu check in pada pukul 04.00 pagi. karena ini Flight pertama saya, saya menjalaninya sambil memikirkan saat-saat saya masih kecil, saya selalu berkoar-koar ingin naik pesawat, dan siapa sangka hari itu kesampaian. Anak kecil dalam diri saya meloncat-loncat kegirangan.
Penerbangan internasional ternyata cukup ketat
Itu salah satu kejadian yang dialami oleh teman kelompok saya, ketika dia memfoto bagian dalam keimigrasian di bandara, dia ditegur dengan keras, bahkan sedikit ancaman bahwa penerbangan untuknya akan dibatalkana, atau dia akan dipulangkan. Sedikit kejutan untuk kami sebenarnya, bagaimanapun permasalahan satu orang dalam kelompok adalah permasalahan satu kelompok itu sendiri.
Kejadian konyol lainnya, adalah dengan tas saya sendiri, saat masuk, kita berniat membawa bekal minum. karena tas ransel saya yang paling kosong, akhirnya tas saya dipenuhi beberapa botor air mineral gelas. Lucunya saat pengecekan, minuman tidak boleh masuk ke dalam, jadi mereka menggeledah tas saya dan tertawa saat melihat ada empat buah aqua gelas dan satu botol air mineral di tas saya. Saya malu?, tidak. Apa pedulinya, yang jelas tas saya sekarang jadi ringan.
Next---> My First Flight Experience.. With Royal Brunei Airlinies
Kami berangkat hari Minggu tanggal 2 Desember, ditengah kegalauan saya melihat beberapa teman dekat saya yang melakasanakan wisuda pada hari Sabtu, setengah iri memang, tapi mengingat bahwa saya sendiri belum bisa lulus, saya akhirnya mengiklhaskan diri dan menganggap perjalanan kali ini sebagai hiburan untuk saya. Setiap orang bisa bahagia, dengan cara yang berbeda-beda.
Kami berangkat pukul 16.14, ditengah gerimis yang lumayan lebat. dua mobil mulai melaju meninggalkan Jogjakarta menuju Surabaya, perjalanannya berapa jam saya sendiri lupa tepatnya. yang jelas saat itu suhu udara agak dingin, dan badan saya agak kurang baik. Sebutir parasetamol cukup membantu saat itu,
mobil terus melaju, sesekali kami bercanda meskipun lebih sering tertidur. Sekitar pukul 19.30 kami berhenti di daerah Sragen, disalah satu masjid. Shalat, lalu mengisi perut kami yang mulai keroncongan dengan bekal yang dibawa salah satu anggota kelompok kami. Lama saya tertidur di mobil, udara dingin membuat saya agak menggigil, saya mengurung badan saya dengan jaket agar lebih hangat. Sekitar pukul 23.30 kami berhenti di salah satu SPBU di daerah Jombang, mengisi sudah sampai ke jawa timur ternyata. Artinya saya telah nelintasi tiga provinsi dalam satu malam hehehe... hebat ya, kapan lagi saya punya pengalaman seperti ini.
Kami tiba di bandara Internasional Juanda sekitar pukul 01.50 pagi, cuaca dingin dan kami masih mengantuk. sambil menunggu check in pada pukul 04.00 pagi. karena ini Flight pertama saya, saya menjalaninya sambil memikirkan saat-saat saya masih kecil, saya selalu berkoar-koar ingin naik pesawat, dan siapa sangka hari itu kesampaian. Anak kecil dalam diri saya meloncat-loncat kegirangan.
Penerbangan internasional ternyata cukup ketat
Jangan mengambil foto di keimigrasian, atau anda akan ditegur dengan keras oleh petugas bandara
Itu salah satu kejadian yang dialami oleh teman kelompok saya, ketika dia memfoto bagian dalam keimigrasian di bandara, dia ditegur dengan keras, bahkan sedikit ancaman bahwa penerbangan untuknya akan dibatalkana, atau dia akan dipulangkan. Sedikit kejutan untuk kami sebenarnya, bagaimanapun permasalahan satu orang dalam kelompok adalah permasalahan satu kelompok itu sendiri.
Kejadian konyol lainnya, adalah dengan tas saya sendiri, saat masuk, kita berniat membawa bekal minum. karena tas ransel saya yang paling kosong, akhirnya tas saya dipenuhi beberapa botor air mineral gelas. Lucunya saat pengecekan, minuman tidak boleh masuk ke dalam, jadi mereka menggeledah tas saya dan tertawa saat melihat ada empat buah aqua gelas dan satu botol air mineral di tas saya. Saya malu?, tidak. Apa pedulinya, yang jelas tas saya sekarang jadi ringan.
Next---> My First Flight Experience.. With Royal Brunei Airlinies
Memory of Brunei Darussalam
Pra Keberangkatan
Ini pengalaman pribadi saya, tidak ada yang istimewa, tetapi karena saya cukup menyukai hal yang detail, dan meskipun saya senang mengamati, saya lebih senang menulis, so lets having fun with writing.
Siang itu, entah saya lupa hari apa, Rabu kalau tidak salah, saya sedang bertugas di perpus, ya pekerjaan sambilan saya ditengah kuliah saya yang sudah tidak ada, tinggal menghadapi proyek akhir dan skripsi yang gak rampung-rampung sebenarnya. Teman jaga saya tiba-tiba menawarkan pada saya untuk ikut mendaftar seleksi kunjungan akademik ke Brunei. Saat itu saya menganggap ajakan itu sebuah lelucon, mengingat kuliah saya sendiri yang sudah semester sembilan dan sudah harus lulus sebenarnya. Tapi, saya mengiakan saja, iseng begitu maksundnya, saya hanya ingin tahu bentuk interviewnya seperti apa sebab saya sendiri yakin saya tidak akan lolos melihat cap angkatan yang menempel dikening saya.
Hari Jumat saya disms oleh teman saya untuk mengikuti interview, tanpa persiapan apa-apa, saya kesana. Saya melihat mahasiswa yang datang cukup banyak, melihat raut wajah mereka, saya berfikir sepertinya hanya saya yang tidak melakukan persiapan apapun. Interview mengalir begitu saja, mungkin karena tanpa beban apapun saya jadi tidak merasa nervous, seperti obrolan biasa, hanya satu yang membuat saya tertawa adalah ketika ketiga orang pewawancara yang berbeda dan materi yang berbeda selalu kaget dengan satu hal, ya semester berapa sekarang?. ketika saya jawab sembilan mereka setengah tertawa. saya pun begitu. Sebab ternyata baru saya sadarai bahwa saya satu-satunya angkatan 2008 yang ikut seleksi ini. lucu ya.
Kami yang mengikuti seleksi di beritahu bahwa minggu depan tujuh mahasiswa yang lolos akan diumumkan di papan pengumuman KPLT.
Senin berlalu.... Selasa lewat, tidak ada kabar, saat itu kemudian saya berfikir ya sudah tidak ada kesempatan. Sampai pada hari Rabu, ketika saya sendiri santai di perpustakaan jurusan seperti biasanya. Teman saya mengabari, saya disuruh ke kplt untuk konfirmasi, kalau tidak jatah saya bisa dialihkan untuk orang lain. Saat itu hp saya ketinggalan, nomer telepon yang tertera di papan pengumuman bukan nomer telepon saya, bisa jadi mereka berfikir bahwa keberadaan saya benar-benar tidak jelas.
Mulut saya mau meladak saat itu karena kaget, dan begitulah.
Saya melewatkan audiensi dengan dekan
Saya melewatkan perkenalan dengan anggota kelompok yang lainnya
Saya melewatkan perkenalan dengan dosen pendamping kami
Saya melewatkan banyak hal.
Pertama kalinya saya bertemu dengan anggota kelompok yang lain saat pengurusan paspor, raut wajah mereka seperti bicara... oooh ini tho yang namanya wina. Saya sendiri agak canggung karena saya bukan orang yang gampang berinteraksi dengan orang baru.
Kami bertemu di beberapa rapat berikutnya, respon saya masih tetap sama, diam mengikuti yaa.... seperti itu lah, lama-lama saya jadi senang memperhatikan. Seperti biasanya. saya mengamati mereka, memperhatikan mereka satu persatu.
Sejak itulah saya memutuskan untuk jadi pengamat, pengamat dikelompok kami.
Itu awal ceritanya kunjungan ke SEAMEO- VOCTECH...kedepan. akan lebih banyak detil yang bicara :)
Ini pengalaman pribadi saya, tidak ada yang istimewa, tetapi karena saya cukup menyukai hal yang detail, dan meskipun saya senang mengamati, saya lebih senang menulis, so lets having fun with writing.
Siang itu, entah saya lupa hari apa, Rabu kalau tidak salah, saya sedang bertugas di perpus, ya pekerjaan sambilan saya ditengah kuliah saya yang sudah tidak ada, tinggal menghadapi proyek akhir dan skripsi yang gak rampung-rampung sebenarnya. Teman jaga saya tiba-tiba menawarkan pada saya untuk ikut mendaftar seleksi kunjungan akademik ke Brunei. Saat itu saya menganggap ajakan itu sebuah lelucon, mengingat kuliah saya sendiri yang sudah semester sembilan dan sudah harus lulus sebenarnya. Tapi, saya mengiakan saja, iseng begitu maksundnya, saya hanya ingin tahu bentuk interviewnya seperti apa sebab saya sendiri yakin saya tidak akan lolos melihat cap angkatan yang menempel dikening saya.
Hari Jumat saya disms oleh teman saya untuk mengikuti interview, tanpa persiapan apa-apa, saya kesana. Saya melihat mahasiswa yang datang cukup banyak, melihat raut wajah mereka, saya berfikir sepertinya hanya saya yang tidak melakukan persiapan apapun. Interview mengalir begitu saja, mungkin karena tanpa beban apapun saya jadi tidak merasa nervous, seperti obrolan biasa, hanya satu yang membuat saya tertawa adalah ketika ketiga orang pewawancara yang berbeda dan materi yang berbeda selalu kaget dengan satu hal, ya semester berapa sekarang?. ketika saya jawab sembilan mereka setengah tertawa. saya pun begitu. Sebab ternyata baru saya sadarai bahwa saya satu-satunya angkatan 2008 yang ikut seleksi ini. lucu ya.
Kami yang mengikuti seleksi di beritahu bahwa minggu depan tujuh mahasiswa yang lolos akan diumumkan di papan pengumuman KPLT.
Senin berlalu.... Selasa lewat, tidak ada kabar, saat itu kemudian saya berfikir ya sudah tidak ada kesempatan. Sampai pada hari Rabu, ketika saya sendiri santai di perpustakaan jurusan seperti biasanya. Teman saya mengabari, saya disuruh ke kplt untuk konfirmasi, kalau tidak jatah saya bisa dialihkan untuk orang lain. Saat itu hp saya ketinggalan, nomer telepon yang tertera di papan pengumuman bukan nomer telepon saya, bisa jadi mereka berfikir bahwa keberadaan saya benar-benar tidak jelas.
Mulut saya mau meladak saat itu karena kaget, dan begitulah.
Saya melewatkan audiensi dengan dekan
Saya melewatkan perkenalan dengan anggota kelompok yang lainnya
Saya melewatkan perkenalan dengan dosen pendamping kami
Saya melewatkan banyak hal.
Pertama kalinya saya bertemu dengan anggota kelompok yang lain saat pengurusan paspor, raut wajah mereka seperti bicara... oooh ini tho yang namanya wina. Saya sendiri agak canggung karena saya bukan orang yang gampang berinteraksi dengan orang baru.
Kami bertemu di beberapa rapat berikutnya, respon saya masih tetap sama, diam mengikuti yaa.... seperti itu lah, lama-lama saya jadi senang memperhatikan. Seperti biasanya. saya mengamati mereka, memperhatikan mereka satu persatu.
Sejak itulah saya memutuskan untuk jadi pengamat, pengamat dikelompok kami.
Itu awal ceritanya kunjungan ke SEAMEO- VOCTECH...kedepan. akan lebih banyak detil yang bicara :)
Minggu, 22 Juli 2012
poem #1
Kejar
Engkau yang teragung memandang kelu,
Apa?
tanyanya.
Aku terkesiap, menganga melihatnya memandang
Oh angin... engkau tahu aku riak
Tetapi dayamu yang besar akan menghancurkan
Aku mundur
Ledakanmu membuncah alas
Seandainya ini jalan
Sayangnya tak bercabang
Engkau melintas,
Aku tua meski aku muda
Tidak layak pula engkau memandang binar
Sebab aku baru akan terbang
Saat engkau telah hinggap di pucuk
Aku melesat mengarah
Bukan untuk ledakanmu
Tapi untuk mengejar aku.
Minggu, 06 Mei 2012
time to dizzy
About the theory--
banyak orang bilang teori itu lebih gampang dari aplikasi..."jangan omong doang, buktinya mana"...nyatanya gue malah berfikir sebaliknya, teori jauuuh lebih sulit daripada praktiknya. hal ini gue rasain setelah gue bersinggungan langsung sama namanya skripsi yang _sumpaah, bikin gue gedek setengah mati-.
Oke,, mungkin ada yang gak sependapat..tapi nyatanya yang gue alami, untuk sampai pada satu kesimpulan suatu tindakan bahkan ternyata butuh banyak banget teori..dan yang pasti bikin teori itu gak gampang!!!...
salut buat para pembuat teori.
salut buat para pembuat teori.
Nulis itu susah, terutama bagi gue yang terbiasa berkutat sama angka, yap karena gue kuliah di teknik..gak murni sih, pendidikan teknik tepatnya..otomatis keseharian gue bersinggungan sama hal-hal eksakta, yang bikin kemampuan bahasa gue makin lemah. dan ini masalah besar!!!
Kenapa gue bilang masalah besar, soalnya..jurusan gur juga berkaitan sama pendidikan..yap..Calon guru, kejuruan tepatnya. Yang membuat gue juga mesti belajar banyak ilmu-ilmu pendidikan dan sebagainya.
Lengkap banget kan!!!..._sampe mau mati rasanya kekkeke..-
Ahh..jadi OOT gini ternyata, back to the topic, di tulisan ini gue mau fokus ngebahas masalah teori yang ternyata lebih sulit dari praktiknya.
Oke..disini gue ngelist beberapa contoh teori yang bahkan mungkin sama sebagian oang bahkan belum pernah sama sekali masuk kepikiran...contohnya yang nyerempet-nyerempet skripsi gue aja deh...#efekgalauscriptsweat..(~,~)".
- BELAJAR.....siapa sih yang gak tau apa itu belajar, dari anak kecil sampe ibu-ibu cerewet juga tau itu kata...termasuk mamah gue yang getol baget nyuruh anaknya yang pemalas ini belajar...jadi apa sih artinya belajar?..kita cuman tahu praktiknya belajar itu baca buku, ngerjain PR, ngapalin materi, dan sebagainya..tanpa tau as ada orang tanya belajar itu apaan..kita gak bisa jawab, belajar ya belajar..Ribet amat sih, yang penting nilai gue baguus pas ujian. padahal diluar sana banyaaak banget yang tokoh yang ngungkapin teori belajar dari A sampe Z...mau tahuu?..silakan baca buku-buku tentang teori belajar, dan buat konklusinya sendiri.
- UJIAN....sumpah kayaknya tiap pelajar di Indonesia juga sensi banget sama kata yang satu ini, mulai dari ujian harian, mid semester, ujian akhir semester..atau bahkan ujian nasional..kita para sisiwa atau pelajar cuman punya dua komentar, ketawa seneng kalo soalnya gampang...sama nangis darah kalo nilainya kebakaran jenggot...(*gak gitu juga sih...),,..paling kalo soalnya susah kalian ngutuk2in guru yang ngasih soal yang gak bisa dikerjain. Padahal..sampe seorang guru ngeluarin soal ujian..itu prosesnya lamaa banget..mulai dari analisis butir soal..buat soal..validasi..dll,, sampe jadi itu soal layak dikasih ke murid..belum lagi ntar evaluasinya...aah masih panjang kayak kereta kalo ceritanya dilanjutin...jadi, persiapkan dengan baik kalo ujian..jadi soal yang dibuat dengan proses yang panjang itu gak percuma dan sia-sia...(*padahal gue juga gitu sih...)
- Remedial....whaaaa...kata ini lagi,, buat sebagian orang ini beneran kutukan...apalagi kalo remdier obligat..yang nemplok kayak parasit ditiap ulangan kalaian.. maksudnya..tiap ujian yang dilaksanain nilainyaa seberat batu karang..yang bikin kepala nunduk pilu..(*hiperbola again..kekekke..), Oke..kalian cuma tau remedial itu ujian ulang buat anak-anak (*termasuk gue juga) yang nilainya acak-acakan buat perbaikan nilai paling enggak..sampe ketuntasan minimal...dan keberadaannya kayak kutukan.. Eittss..padahal kalo diliat dari konsepnya..sampe itu muncul yang namanya kata remedial panjang banget loo...pertama dari konsep KTSP--> prinsip ketuntasan belajar (mastery learning)-->. dikaitin sama kesulitan belajar --> sampe adanya konsep pembelajaran remedial sebagai solusi --> belum lagi evaluasinya...soooo, liahat siklusnya...ribet kan?...buat nemu konsep Remedial yang kita pikir cuman gitu doang ternyata panjang jugaaa........
At least gue cuman mau sharing..bahwa berteori itu juga sulit..jadi hargai juga orang-orang yang berbicara,, daripada orang-orang yang hanya bisa berkomentar tanpa landasan....it just a waste..dan jangan memperbanyak sampah disekitar kita....jadilah lebih cerdas.
ttd. winampyon
quote :
bicaralah dengan rasional dan landasan yang jelas, sehingga apa yang anda ucapkan dapat anda pertanggungjawabkan..
Rabu, 25 April 2012
Elementary school- 3
part 3 - my freak casper-
latar waktu...tahun 99'++an
-----
hari ini aku mau ngeluh soal adekku satu-satunya yang paling super duper kelakuannya. super duper nakal dan super duper unyu, sekarang umurnya udah lima tahun, gak seperti aku yang emoh masuk TK, dia lebih dulu masuk taman bocah-bocah yang ada di desaku. aku perjelas DESA, aku gak bakal nyeritain dia detailnya, tapi bebrapa point yang nunjukin kalo dia ternyata gak jauh beda anehnya daripada aku...Yaa!!! cepot,..ini kenyataannya, jadi terima saja, gak usah protes oke.
- aku sama cepot udah kayak anak kembar, kembar sial beda tahun lahir, kenapa dikatain kembar karena kami rajin ribut tiap hari, kebiasaan buruk yang bikin si mamah ikut mencak-mencak, atau teh lenong yang ikut uring-uringan, alesannya hal hal sepele, aku nyuruh dia, dia gak mau...oke dari kecil aku ternyata suka nyuruh-nyuruh..
- Si cepot udah mendiskriminasikan aku sejak kecil, gara-gara usia kita yang cuma beda dua tahun, otomatis si mamah dari kecil udah ninggalin aku gara-gara dia sibuk ngurus bayi casper yang satu ini, mau gak mau aku lebih sering diasuh sama tetangga...(tapi bukan berarti aku berubah jadi anak tetangga), see?, sepertinya aku memang sudah dewasa dari sejak kecil.
- Manusia casper yang satu ini erat banget kaiatannya sama susu Dancow, (sorry aku sebut merk), gara-gara ASI si mamah sempet tersendat, jadi gak bisa ngasih full ASI, otomatis susu formula yang jadi alternatifnya..(katanya orang-orang, aku sih mana ngerti.aku kan masih kecil...), dan gara-gara susu Dancow, aku jadi sering nyuri-nyuri susu bubuk itu buat dijadiin cemilan...(ini termasuk kasus pencurian gak yaa???? ).
- Dan dia punya kebiasaan super duper buruk yang bikin orang-orang geleng-geleng kepala, yaitu sering naek ojek sembarangan. ceritanya, casper ini hoby banget nyetopin ojek, terus dia naek keliling-keliling, sampe balik kerumah, dirumah si mamah tinggal ngeluarin isi dompet buat bayar tukang ojeknya..(herannya si mamah kok ya nyantei nyantei aja..), aku jadi mikir..gimana kalo kebiasaan buruk ini nemplok di anak-anak kecil tahun 2012...para penculik anak kayaknya lancar jaya ngembangin bisnis mereka. Hey cepot, beruntunglah kau hidup dijaman dulu...
- kebiasaan buruk lain yang bikin aku gedek setengah mati adalah, malem-malem, ngebangunin aku yang lagi pules-pulesnya tidur, pake acara maksa...cuma buat..Minta anterin pipis ke kamar mandi !!!!, sial banget emang, dan dia termasuk anak yang pantang menyerah..dan berusaha sekuat tenaga sambil nahan kencing sampai aku bangun dan ogah-ogahan nganterin ke kamar mandi...
- dia takut sama yang namanya soang..bahasa indonesianya apa yaa..angsa kali, dia takut sama lehernya yang panjang dan paruhnya yang suka nyosor-nyosor, dan gara-gara TKnya ngelewatin ternak soang yang dilepas bebas gitu, tiap berangkat dan pulang ngelewatin tempat itu, dia sembungi dibelakang temen Tknya yang seorang Perempuan !!!!,, oh adek aku yang satu ini.....kenapa tingkahnya unyu-unyu amaaat...
- cara bangunin diat dari tidur gampang banget, tinggal raba telapak kakinya, matanya langsung melotot, dan mulutnya langsung uring-uringan....
kayaknyaa cukup segitu dulu cerita tentang ini anak....
dan tentang nama cepot....itu nama panggilan abadi kita, alasannya apa...gak usah dibahas kekekke....
nona besar aku gimana?...tunggu cerita selanjutnya...*evil laugh...
ttd - winampyon-
quote
lihatlah kelebihan dengan mata kanan anda, dan amatilah kekurangan dengan mata kiri anda, maka anda akan menemukan jalan untuk beriringan bersama keduanya.
Grandmarvelous -A thing called Fate- 15
Chapter 15.
Ending, like a circle
“Ragil?”
Aku seolah tak percaya
dengan apa yang kulihat, sosok itu benar-benar nyata, mimpi di siang bolong
ternyata bukan omong kosong. Terjadi disaat yang tidak kuduga sama sekali.
Laki-laki itu
sama kagetnya denganku, dia mengatupkan bibirnya yang sedari tadi menghembuskan
uap-uap dingin dari mulutnya. Kami sama-sama menggelengkan kepala seolah tak
percaya dengan kejadian yang baru kami alami ini, suatu kebetulan yang tak
pernah aku pikirkan. Apakah Tokyo begitu sempit?, bukan, apakah dunia ini
benar-benar selebar daun kelor?
“Yong, hei..”,
ujarnya masih setengah tak percaya seperti juga aku.
“hei
juga..kejutan “, jawabku sambil tersenyum.
“darimana?..kok
bisa kita ketemu disini, di Tokyo?”, katanya lagi..
“abis jalan-
jalan, liat Tokyo tower, aku lagi program course komik disini, dapet rejeki
dari kantor”, jawabku menghilangkan sedikit kebingungannya.
“waw,, oke, aku
masih pengen ngobrol banyak..nikmatin akhir summer disini lumayan
menyenangkan..hari ini udah larut besok-besok aku ajak kamu ngobrol disela
waktu kosongku”. Cerocosnya, aku tersenyum melihat antusiasnya, meskipun ada
sedikit ruang yang menghampa.
“aku antar kamu
pulang” ujarnya kemudian. Aku mengangguk, kami tak banyak bicara disepanjang
perjalanan, sibuk dengan pikiran masing-masing yang berkecamuk, hingga sampai
di dorm tempatku tinggal.
“udah sampai, “
kataku kemudian. Kami bertukar nomer telepon,
“I’ll call you
later..”, katanya sambil melambaikan tangan, punggungnya menghilang dari
pandanganku, aku menghela nafas panjang. Aku mengingat Dhika.
---
Aku menghabiskan
waktu-waktu akhirku di Jepang dengan Ragil, disela waktu luangku usai
pelaksanaan course yang melelahkan,serta
diwaktu luang pekerjaannya yang sibuk ini awal musim gugur yang indah, angin
mulai menghembuskan udara segarnya meski cukup dingin.
“Kapan kamu
balik Indonesia?”, tanyanya kemudian.
“Akir bulan ini,
jawabku kemudian, kamu berapa lama disini?”, aku balik bertanya.
“gak tahu,
setahun, dua tahun atau bahkan lebih, tergantung perusahaan,”, jawabnya
kemudian. Aku menganggukkan kepalaku.
Suasananya diam
meski taman ini cukup ramai, aku mengayunkan ayunan perlahan, kakiku
mengetuk-ngetuk tanah, sebuah taman kota yang tertata apik dekat kantornya.
“masalah yang
dulu itu, sorry..tapi aku benar-benar serius”, katanya memulai pembicaraan, aku
menghadapkan wajahku ke arahnya, aku tahu cepat atau lambat hal ini harus
diselesaikan.
“aku tahu..tapi
maaf banget, segimanapun rasa suka aku ke kamu kak, aku punya kak……”
“aku tahu…”,
potongnya kemudian, “Dhika, kan?”, ujarnya memastikan. Aku mengangguk, mengiakan
apa yang Ragil katakan.
“Aku suka kamu,
dan perasaan itu gak berubah dari dulu, aku tak bisa banyak berkata, karena
isinya sama dengan yang aku tuliskan, aku mengutuki diriku sendiri kenapa
keadaannya seperti ini, menjadi egois itu sulit. Ah aku hanya menghela nafas,
kamu benar-benar seperti racun yang perlahan membunuh.”, kata-katanya membuatku
tak enak.
“Mya?..” tanyaku
kemudian.
“kami baik,
sangat baik. Sampai akhirnya aku dapat beasiswa S2 diluar, dia gak bisa menjaga
hubungan long distance, dia seperti membaca isi pikiranku bahwa ada nama lain
yang aku sediakan ruangnya dari dulu, bukan namanya. Dan long distance seperti
menjadi pembenaran baginya untuk mulai menghilangkan jejaknya dari tapak
langkahku, dan saat itu terjadi aku mengutuki lagi diriku, kenapa aku tidak
bertindak egois dari dulu.”, helaan nafas beratnya terdengar ditelingaku.
“akhirnya aku
putuskan untuk fokus pada karirku, sebagai pelarian, sebagai jalan untuk tetap
mengingatmu, mengumpulkan sikap untuk mengejarmu, sampai akhirnya dipernikahan
kakakmu…..”
“hal yang tak
pernah aku pikirkan sebelumnya bahwa seseorang bisa menggenggammu lebih dulu
daripada aku, dan aku melihatnya, melihat sorot matanya aku selalu berfikir
bahwa dia yang kamu pilih, dan saat itu pula aku memutuskan untuk kembali
secepatnya, melihatmu membuat aku gila…”
“seandainya saja
dulu kamu bilang, mungkin ceritanya lain, aku bahkan sama sekali tak suka
Angga..”, jawabku kemudian.
“”aku tahu,
menyesal tak mungkin di awal..tapi melihat kamu membuat aku tak bisa berfikir
jernih, ada hal-hal yyang tak bisa aku kendalikan dengan nalarku, dan saat aku
merenung, kesalahan terbesar semua ini adalah diriku sendiri.., andai aja waktu
bisa berjalan mundur..”
“waktu gak bisa
berjalan mundur, kita hanya bisa berjalan mundur melalui kenangan…”, ungkapku
menjawab gumamannya, aku menarik nafas panjang..
“dan saat ini
aku punya seseorang yang terbaik yang aku miliki, Dhika.”
“Dhika teman
terbaikku, dia selalu bilang aku selalu ngalahin dia dalam segala hal, tapi
untuk satu hal yang terpenting dalam hidupku, aku benar-benar sudah kalah telak
darinya”.
“Jika Dhika
orangnya, aku bahkan tak menyesal berjalan seperti keong untuk mengejar kamu,”.
“Aku suka kamu,
tapi bahkan aku tidak bisa mengejar kamu dengan kuat, aku memang seharusnya kalah.”
“dan kamu kak,
bakal nemu orang yang luar biasa untuk mengisi nama di ruang pikiranmu, percaya
jodoh punya jalur yang tak pernah kita duga sebelumnya”
“semoga, tapi
kamu masih tetap mau jadi cucunya kan?, dan jangan lupa, kamu masih punya
hutang satu sketsa untukku”, pintanya kemudian.
“pasti, tapi
maaf..sketsanya…..”,
“aku tau..kamu
mesti buat sketsa dengan wajah baru yang ada dipikiranmu, bukan lagi aku., eh
ngomong-ngomong, gimana kabarnya Petra?”, tanyanya kemudian, aku tertawa
renyah..
“kakak aku, dia
bahkan lebih asik ketimbang dudung..”,aku melanjutkan obrolanku,
“Ngomong-ngomong,
aku lapar, kapan kita selesai ngobrolnya, jangan bilang ini upaya pengalihan
kamu biar aku lupa mau ditraktir makan sushi sepuasnya?”, tanyaku setengah
bercanda. Dia mengacak-acak rambutku dengan gemas,
“ayo,
inget..jangan nambah porsi”, ujarnya. Aku tertawa lebar, kami berjalan
beriringan meninggalkan jejak-jejak masa lalu.
Sebuah sketsa wajah yang aku bakar, apinya perlahan
melahap tiap bagian kertasnya, menguburnya sebagai kenangan yang menyenangkan,
melepaskannya, karena dia sudah melepaskanku. Dan karena aku sudah memilih.
-----
Waktu berlalu begit cepat, benar sepertinya bumi berputar makin cepat hingga aku tak sadar telah melalui seperempat abad hidupku dengan kenangan yang menyenangkan. Hari ini pernikahan Rima, bukan dengan Petra, dengan seorang pria kakak tingkatnya yang memiliki konsen sama, dibidang penelitian, keluarga scientis yang baru, aku bahkan tak bisa membayangkan sejenius apa anaknya nanti.
Waktu berlalu begit cepat, benar sepertinya bumi berputar makin cepat hingga aku tak sadar telah melalui seperempat abad hidupku dengan kenangan yang menyenangkan. Hari ini pernikahan Rima, bukan dengan Petra, dengan seorang pria kakak tingkatnya yang memiliki konsen sama, dibidang penelitian, keluarga scientis yang baru, aku bahkan tak bisa membayangkan sejenius apa anaknya nanti.
Petra
mengagetkanku dengan menggandeng seseorang yang bahkan wajahnya sangat aku
kenal, Ina, teman sekelasku di SMA dulu, anak pendiam dan sedikit kikuk, yang
sekarang jadi seorang penulis novel dan kolom majalah. Bagaimana bisa? Kapan
ketemunya?, mereka hanya tersenyum menanggapi kehebohan rasa penasaran kami.
Tapi tak ada
yang lebih menghebohkan kedatangan Dias yang sendirian, Aku diam melihat
ketidaknyamanan ini, kami semua membawa pasangan, sangat tidak nyaman
melihatnya berjalan sendirian, hingga secara tiba-tiba seseorang merangkulkan
tangannya di pundak Dias, seseorang yang membuatku mengerutkan dahi.
“Riffi?..yas
lo?..Rim?..”, aku menolehkan pandangan tanda tanya kearah Rima, dia tersenyum
simpul sambil mengangkat bahunya.
“Apaaa….!!!”, semua
orang tertawa melihat kehebohanku, hal yang tak pernah kusangka sebelumnya.
Dunia memang penuh tanda tanya yang tak perlu dicari jawabannya.
“Eh jangan
masang muka gak percaya kayak gitu, Gue serius sama dia kak Yong..”, jawab
Riffi diselingi selorohan yang lain, aku melihat mata Dias memancarakan rasa
senang yang tulus, benar jika orang mengatakan Allah mengantarkan jodoh itu
ketangan kita disaat yang tepat.
Aku mengingat
Ragil, aku yakin seseorang akan mengisi hidupnya sebentar lagi, sebab Allah sudah
menyiapkan seseorang terbaik yang akan menyempurnakan hidupnya.
Tiga orang yang
paling mengisi hatiku, Petra, orang pertama yang aku suka. Ragil, orang pertama
yang membuat aku jatuh cinta dan Dhika, orang pertama yang membuatku memutuskan
memiliki seseorang sebagai pengisi hidupku. Bukankah aku sangat beruntung.
Dhika
menggenggam tanganku, kami telah memutuskan menjalani hidup kami dan
merencanakan kehidupan masa depan kami sebaik mungkin, tidak ada yang sempurna,
hanya mencoba untuk selalu menjadi baik. Dan seperti itulah hidup, tidak pernah
ada ujungnya, sebab akhir akan selalu jadi awal cerita yang baru, life is like a circle.
END.
PS: this is my first story...so please have fun reading..and leave a comment okay...im still learning a lot..:D
Grandmarvelous -A thing called Fate- 14
Chapter 14.
Previous love story
Sedikit aneh
membicarakan masa lalu, beberapa orang mungkin bertanya- tanya bagaimana dengan
Petra?, bagaimana kelanjutan Ragil?, seolah ceritaku terputus begitu saja dan
tiba-tiba aku muncul bertahun-tahun kemudian dengan cerita berbeda. Kehidupan
yang terlalu muluk, tapi pada dasarnya masa lalu tak pernah hilang, selalu ada
penghubung antara kehidupan lalu dengan saat ini, saat dimana aku berjalan
dengan cerita yang baru. Tidak seperti itu, masa lalu yang mengantarku menemui
ceritaku saat ini, seperti sebuah buku, aku hanya memulai jejak kakiku di buku
baru, setelah halaman terakhir bukuku yang dulu penuh dengan coretan yang aku
tulis, hingga tak ada tempat untuk aku menulis lagi.
---
Ini November
yang dingin, di Negeri sakura. Suhu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya
dinegeri tropisku tercinta, paling-paling hujan deras yang disertai angin
kencang, tapi untuk memegang butiran-butiran salju, jangan harap bisa
melakukannya, kecuali di puncak pegunungan Cartenz atau mungkin Jayawijaya di
Papua sana. Yang jelas salju tak seindah seperti yang terlihat, salju itu
dingin, beku. Auranya menusuk ke tulang sumsumku.
Course baru dimulai dua hari lagi, baik sekali
memberiku sedikit waktu istirahat dan beradaptasi dengan perubahan cuaca yang
ekstrim. Aku sempat melihat tempat pelatihan akan dilaksanakan bersama
rombongan peserta dari berbagai Negara, bercakap- cakap dengan campuran bahasa
isyarat, meski hampir semua peserta bisa berbahasa Inggris, toh pihak
penyelenggara course sendiri tulen
menggunakan bahasa ibunya, yang membuat kami terbata-bata menjawab dalam bahasa
Jepang. Kami tertawa mengingat kekonyolan kami bicara dengan logat yang aneh,
aku tersenyum sambil melirik Inge, peserta course
disampingku. Teman yang bahasanya paling aku mengerti, Bahasa Indonesia.
“Hei, mau
jalan-jalan”, ajakku pada Inge setelah perkenalan sesama peserta yang
menyenangkan tadi. Malam ini memang dingin, tapi rasanya malah membuatku makin
ingin menjejakkan kakiku ditengah jalanan yang memutih tertutup salju, dan
deretan pepohonan yang tak berdaun.
“Oh, Yong..no
thanks, gue lebih milih tidur digulung selimut daripada ngebeku kedinginan”,
jawabnya kemudian. Aku tersenyum.
“oke..aku keluar
dulu, jalan-jalan sekitar dorm aja
sih”, ujarku kemudian. Aku memakai jaket tebal,syal dan penutup kepala yang
hangat. Perlengkapan musim dingin yang sengaja ku beli sebagai persiapan atas
saran kakakku, Nanda yang masih aja petakilan walaupun udah punya istri yang baik,
beruntungnya dia.
“ooh..benar-benar
dingin..”, runtukku dalam hati. Aku menjejakkan langkah-langkah kakiku yang
berat, tapak-tapak sepatu boot mengekor dibelakangku dengan rapi, udara dingin
memang membuat perut mudah lapar, setelah beberapa saat aku memutuskan untuk
singgah di sebuah minimarket kecil untuk makan ramen, makanan paling cocok
dimakan ditengah hawa dingin yang menusuk.
Aku memesan kopi
dan mie ramen instan, penjaga toko sepertinya mengerti maksudku meski aku
bicara dengan bahasa isyarat. Benar, bahasa jepangku yang masih buruk membuatku
merasa konyol untuk bercakap-cakap dengan mereka, meski aku sedikit paham apa
yang mereka bicarakan.
“arigatou
gozaimasu..”, ucapku kemudian saat ramen instanku sudah siap, aku membawanya ke
bangku yang ada di ujung toko, Minimarket disini memang menyediakan tempat
untuk menikmati makanan yang kita beli, cukup praktis karena aku tidak pergi
jauh jauh hanya untuk makan.
“benar-benar
bagus”, gumamku dalam hati. Aku melihat dengan jelas jalanan didepanku,
salju-salju yang turun perlahan, dan langit hitamnya yang bersih, orang-orang
berlalu lalang, pemandangan sederhana yang membuatku nyaman. Selesai
menghangatkan perut, kuputuskan untuk berjalan lagi.
Sudah sejauh
ini. Ah, kuputuskan untuk kembali ke dorm,
sebelum malam larut, udara makin dingin dan sebelum Inge berfikir bahwa aku
kesasar. Aku menginjakkan langkahku di jejak sebelumnya. Tiap jejaknya
membawaku kembali ke tahun-tahunku sebelumnya, ke masa itu. Sebuah masa di
waktu yang lalu.
---
“Kamu yakin?”..
tanyanya kemudian.
Aku mengiakan,
Oh God, rasanya sangat memalukan, tapi memang kata-kata itu mengalir begitu
saja dari mulutku. Am I wrong?..thats
stupid.
Pria itu seolah
tak percaya, setelah setahun menunggu dengan sabar, sangat-sangat sabar
akhirnya dia mendapat jawaban yang tak akan ia lupakan sepanjang hidupnya.
“Kenapa Dhik,
gak percaya?”, tanyaku kemudian. Aku melihatnya menggelengkan kepala dengan
wajah penuh kejutan yang tidak bisa aku gambarkan, bibirnya bahkan belum ia
tutup rapat sejak tadi, aku tersenyum simpul.
“Ini bukan
bercandaanmu kan?”, tanyanya memastikan, sepertinya dia seolah takut bahwa ini
adalah jokes garing yang aku lancarkan, benar hanya untuk menggodanya.
“absolutely
bukan, kamu pikir aku becanda sama keputusan hidupku?”, jawabku kemudian, ini
memang bukan hal yang mudah bahkan untuk diriku sendiri, tapi entah mengapa
jantungku ikut berdegup kencang melihat ekspresi wajahnya, sejak kapan awalnya
aku tak tahu, yang jelas dia membuatku perasaanku ini menjadi sederhana.
“oh, yong..itu
gila..kepalaku mau meledak rasanya, hari ini aku gak nganter kamu balik, aku
langsung pulang kerumah, dan menjauhi kantor sebelum orang-orang berpikir aku
sinting”, jawabnya kemudian.
“bye..”, ujarnya
kemudian. Aku melongo saat dia benar-benar pergi dari hadapanku saat itu juga,
langkah kakinya riang seakan meloncat-loncat kegirangan. Aku bahkan tidak bisa
menahan senyumku sendiri, dia mengejar dengan sabar dalam waktu yang lama, dan
setelah mendapat jawabannya dia pergi dengan waktu yang sangat singkat. Cuma
Dhika yang bisa begini, benar-benar hanya dia.
Aku memang telah
mengambil sebuah keputusan, yang aku yakin tak akan aku sesali, keputusan untuk
mengatakan kata yang pertama kalinya aku ucapkan didepannya.
“I like you
Dhika, aku butuh kamu dalam hidupku”.
Kata yang
membuatnya gila, dan membuatku sinting.
Bayangannya mengabur saat aku menjejakkan
langkah-langkahku lebih jauh ke masa itu
----
Siang nanti
pernikahan kakaku, Nanda. Meski aku tetap memanggilnya Dudung. Semua orang
bahagia tentu saja, Mamah, Bapak,keluarga besarku, keluarga kak Resti calon
kakak iparku, dan semua orang yang sibuk dengan acara ini. Keluarga simbahpun
akan datang pagi ini, mataku mencari-cari sosok seseorang dengan punggung yang
tak bisa aku lupakan. Apakah dia akan datang?.
“Heh bocah,
setelah bertahun-tahun masih aja mikirin Ragil?”, seseorang menjewer telingaku
pelan, seseorang yang hafal betul apa yang aku pikirkan, teman ributku, calon
mempelai pria yang sleboran, Nanda. Aku tak bergeming, menghela nafas,
melihatnya dengan tatapan datar.
“ia,..”, jawabku
pelan.
“inget jangan
ngerusak mood hari ini, meskipun nanti lo ketemu sama Ragil, masa lu mau
sedih-sedihan di hari bahagia gue, udah cantik kayak gini mukanya yang seger
dong, tuh ditungguin Angga diluar, temen-temenmu juga pada nunggu, Rima, Dias
sama gerombolannya.”, katanya sambil menepuk-nepuk pipiku, kebiasaannya dari
dulu.
“Atau lu mau gue
ngomong ke Ragil langsung soal elo?.”, tanyanya kemudian.
“Jangan, gila
apa..dia itu punya cewek tau..sembarangan banget”, jawabku menolak usulnya. Ini
mah cari gara-gara namanya.
Ia menyeretku
keluar, aku mengikutinya. Angga
tersenyum ke arahku, aku balik membalasnya. Laki-laki itu teman kuliah kakakku
dulu, sesorang yang dikenalkan kakakku untuk mengusir bayangan Ragil dalam
pikiranku, Nanda bilang, kalo aku gak mau terbuka buat ngenal orang lain gimana
aku bisa menghapus keberadaan Ragil di otakku. Mungkin ada benarnya juga.
Hubungan kami
baik, meskipun belum sampai pada tahap apapun, Angga juga datang saat aku
wisuda meskipun peran pendamping wisudaku tetap aku serahkan pada partner ributku
Nanda. Menyukai itu sulit, itulah sebabnya membiarkan dia lebih mudah aku
lakukan.
“Kemana aja,
tadi temen-temenmu ada disini?”, tanya Angga kemudian.
“liat calon
pengentinnya”, jawabku mencari alasan. Masa ia aku mesti bicara jujur, manusia
mana yang tega menggunakan prinsip jujur ditengah situasi macam ini.
Acara sudah
dimulai. Aku mengikutinya dengan seksama, Angga memegang tanganku erat, sangat
tidak nyaman, ingin rasanya aku berkelit dan melepaskan genggamannya, tapi
tubuhku terlalu kaku, saat ujung mataku bertemu dengan sorot mata yang aku
hafal. Mata kami saling bertatap, Ragil.
----
“Mau bertahan
sampe kapan, apa lo mau nyoba nerima Angga?”
“Gue gak
tau..gue gak bisa”,ujarku sambil menghambur ke pelukan dua sahabat setiaku,
Rima dan Dias.
----
Jejak langkahku mulai terhapus oleh salju salju yang turun, aku menarik nafas panjang, mataku mulai berkaca-kaca.
Jejak langkahku mulai terhapus oleh salju salju yang turun, aku menarik nafas panjang, mataku mulai berkaca-kaca.
Simbah
meninggal….
Sebuah kabar
yang membuatku tersentak. Aku bergegas menuju ke rumahnya, membolos dua mata
kuliah hari ini. Pikiranku berkecamuk, mataku tak bisa aku tahan lagi. Aku
menangis lirih.
Semua orang
berkumpul di rumah tua yang punya kenangan ini, Ragil mengambil penerbangan
tercepat dari Jakarta ke Jogja, anak-anak serta cucunya berkumpul, keluargaku
dalam perjalanan ke Jogja, bahkan Myapun datang.
Aku terdiam, aku
memang bukan cucunya, bukan keluarga intinya, tapi ada kenangan dimana aku
bahkan tak bisa melupakan itu sedetikpun, kenangan yang membuatku menyukainya
lebih dari apapun. Dia tetap nenek yang aku sayangi.
Aku melihat
mereka, Ragil yang menahan air matanya,
Mya yang menggenggam tangannya erat, Aku memejamkan mataku. Rasanya aku ingin
berlari dari sini, bagaimana mungkin terlintas pikiran seperti ini dalam
keadaan duka. Aku beringsut menjauh, menyepi.
Begitulah
perjalanan manusia, suatu saat nanti jejaknya akan terhapus takdir.
Simbah,
bagaimana kabarmu disana…aku kangen.
Dan aku measih menjejakkan langkah-langkah baruku
diatas hamparan salju.
---
“ lu bahkan
lebih keren daripada kakak gue sendiri, gue suka sama lu..sangat-sangat suka”,
kataku saat itu.
Dia tersenyum.
Aku benar-benar
harus belajar mengerti perasaan. Ada hal-hal yang bahkan tak bisa aku pikir
dengan nalar yang selama ini aku banggakan. Kalo suka ya suka, kenapa mesti
dipersulit pikirku saat itu. Ya aku suka cowok itu, Petra.
Aku menjejakkan
tahun terakhirku di SMA bersama dia, ditengah hubunganku yang tidak terlalu
baik dengan Rima dan Dias, alasannya tak perlu aku bicarakan lagi. Kami masih
berteman baik, meski tak sebaik dulu, seperti ada gap kasat mata yang membuat
kami canggung.
Aku dan Petra
menghabiskan banyak waktu yang menyenangkan. Dia pacarku?, mungkin ia atau
mungkin saja tidak, aku hanya suka dia, jadi kenapa dipersulit, dia juga
terbuka menerimaku dengan baik. Kadang-kadang aku heran kenapa hubungan
orang-orang terlihat sangat rumit, bukankah sederhana itu menyenangkan.
Dia menjagaku
dengan baik, kami hangout bersama, belajar bersama, main, menghabiskan waktu
yang menyenangkan dengan hobby kami yang sama, pecinta komik, anime, manga dan
sebangsanya meskipun aku sedikit beda selera musik dengannya. Kpop memang sudah
mendarah daging sejak dulu di hatiku.
“ ini semua
sketsaku?”, ujarnya sambil tersenyum saat aku memperlihatkan sketsa-sketsa yang
aku buat sejak dulu, sketsa yang sudah lama tak sentuh semenjak kepulanganku
dari liburan dulu.
“ia..aneh ya..”,
tanyaku setengah malu, melihat ekspresinya yang tersenyum simpul.
“bagus
kali..mirip sama aslinya,, bakat kamu keren..jadi komikus aja sekalian”,
jawabnya sambil bergurau.
Aku tertawa,
tapi fikiranku tertuju ke hal lain, sebuah surat yang terselip di buku
sketsaku, dan sketsa wajah seseorang yang separuh jadi. Sangat mengganggu,
benar-benar mengangguku, kenapa perasaanku sangat lain?. Aku bahkan tak bisa
memahami diriku sendiri.
---
“Petra, apa gue
salah?”, pertanyaanku yang dijawab dengan senyumnya yang manis.
“ Kamu itu gak
salah, ini wajar aja, yang salah adalah bahwa kamu bahkan gak ngerti isi
pikiranmu sendiri, paham’, jawabnya kemudian.
“tapi itu gak
berarti gue gak suka lo, gue sangat suka lo, tapi kenapa pikiranku ke orang itu
beda, gue bahkan gak tahu sebenarnya gue ini kenapa”..
“suka sama cinta
itu beda Yong,..ada saat dimana kamu mesti mulai berfikir tentang itu, gak
sesimple yang kita duga lho”, jawab Petra sok bijak, aku pura-pura mencibir.
“tapi lo gak
marah sama gue?”, tanyaku lagi. Petra tertawa renyah,
“Ia, aku pengen
banget marah sama kamu saat kamu cerita jujur bahwa ada orang yang membuat
pikiranmu gak jernih, tapi aku gak bisa, aku gak bisa marah sama kamu, kamu itu
jujur, dan sikap innocent kamu bahkan membuat aku beneran sangat nyaman”.
“gue gak
ngerti?”
“ aku bahkan
selalu berfikir kalo kamu itu adekku, ini aneh, aku bahkan bisa melakukan
banyak hal sama kamu, dan semakin lama aku kenal kamu aku bahkan gak bisa
memposisikan aku sendiri untuk suka kamu, aku terlalu sayang anak polos ini”,
“jadi..?”
“ aku seneng,
you’re truly my cute sister”
“love you my
best brother, lu bahkan lebih keren dari kakak gue sendiri”
“Jadi, apa lu masih suka sama Rima?”, tanyaku
kemudian.
“hmm…mungkin,
kalopun ia, bakal ada jalannya sendiri, dan itu bukan karena kamu, kalopun
bukan, masa depan terlalu sulit buat ditebak”, jawabannya yang menggantung, aku
menangguk mengiakan. Benar, selalu ada jalan yang tak pernah kita duga yang
diberikan Tuhan.
Kami berdua
tersenyum senang, ada perasaan lega yang menjalar dihatiku, seperti sebuah
perasaan saat aku menghirup aroma teh.
Aku tersenyum, Inge sudah tertidur pulas, aku
memejamkan mata, esok ada jejak-jejak langkah baru yang akan aku lalui.
Grandmarvelous -A thing called Fate- 13
Chapter 13.
Saturn man
Saturnus adalah
planet yang luas, besar dan memiliki cincin yang sangat indah. Planet itu
adalah planet yang cantik dengan banyak satelit yang mengelilinginya. Semakin
aku besar semakin pula aku menyukainya. Membayangkan bisa melihat banyak bulan
saat malam membuatku selalu ingin menghabiskan malam disana. Tentu saja ini
khayalan yang tidak masuk akal, tapi memikirkannya membuat hatiku senang. Aku
menyukainya sejak dulu.
Pria itu seperti
Saturnus, berhati besar, baik, dan memiliki wajah semanis cincinnya. Pria itu
seperti saturnus, datang dari tempat yang tak pernah aku duga sebelumnya, masuk
ke kehidupanku tiba-tiba, disaat semuanya tepat. Melihatnya membuatku terus
terngiang-ngiang kata-kata simbah dulu, Kita
tak pernah tahu apa itu cinta, yang simbah tahu jodoh akan Allah turunkan pada
saat yang tepat, siapapun orangnya, maka dialah cintamu, entah itu orang dari
masa lalu, masa ini, atau orang yang bahkan kamu temui suatu saat nanti. Ada
jalan yang tidak bisa kita rencanakan. Inikah jodoh itu?. Aku memikirkannya
terus menerus.
Seseorang dari
masa laluku?. Mungkin. Aku menghela nafas, memikirkan pertemuan kami yang tak
sengaja, tapi adakah kata tak sengaja yang sebenarnya, bukankah itu bagian dari
takdir. Benar, apapun yang kita perbuat sudah ada yang mengatur, toh jika saat
itu aku tidak datang ke acara syukuran temanku, aku bahkan tidak akan melihat
wajahnya saat ini. Aku meyakini, skenario Tuhanlah yang terbaik.
Waktu berjalan
dengan cepat, bertahun-tahun lalu aku masih terlibat dengan perasaanku sendiri,
perasaan yang tumbuh dan berkembang seiring dengan umurku yang terus beranjak.
Masa masa seragam putih abu-abu yang sangat aku suka. Mereka telah lewat,
meskipun bayangannya selalu mengisi pikiranku. Kadang aku merindukannya dan
ingin menjelajahi waktu, tapi hanya orang bodoh yang selalu ingin kembali ke
masa lalu. Karena jarum jam tidak akan pernah berputar ke kiri.
==
Aku tetaplah Yong,
meski dengan usia yang berbeda, dengan peran yang tak sama. Menapaki
jejak-jejak masa lalu membuat aku sadar aku telah melewati tahap-tahap penting
dalam hidupku. Lulus SMA, menanggalkan seragam putih abu-abuku, menuju jas
almamater, menghabiskan banyak waktuku menggeluti desain komunikasi visual yang
mencuri pikiranku. Melemparkan toga, dan menjelajahi meja-meja kerja,
menempatkanku menjadi kartunis. Pekerjaan yang sama sekali diluar pikiranku,
siapa sangka akhirnya aku bahkan tak berhubungan lagi dengan matematika, fisika
dan sebangsanya. Meskipun kadang aku rindu menggelutinya. Sudah enam tahun
lalu, mengingatkanku betapa senangnya pertama kali aku memakai seragam SMPku
setelah enam tahun bertahan dengan baju putih merah itu. Aku telah melewati banyak
fase dalam hidupku.
Ah, benar. Ini
adalah perjalanan yang menyenangkan. Berada di pesawat terbang, berpapasan
dengan awan yang bergerombol, disela lagit biru yang cerah. Hari ini matahari
bersemangat, menemani perjalananku ke Jepang, untuk sebuah short course kartun, komik, dan webtoon
di negeri itu, negeri dengan produksi komik yang luar biasa terkenal. Satu
tahun menghabiskan waktu disana, akankah terasa lama?, relatif mungkin. Yang
pasti ini jadi satu pengalaman yang penting dalam hidupku, bagaimana mungkin
aku tidak bersyukur. Dan seorang pria yang menungguku, ya..menungguku setahun
lagi.
Seseorang yang
membuat aku tersenyum dengan segala tingkahnya, selera humor yang baik,
Seseorang yang terlihat manis dengan jas yang dia pakai,dan terlihat keren dengan
gaya kasualnya, kaos, jumper, jeans dan sepatu kets biru tuanya. Seseorang yang
paling berani dari laki-laki manapun yang pernah aku temui.
===
Aku bertemu
dengannya ditempat yang tak aku pikirkan. Dirumah temanku saat syukuran
kelahiran anak pertamanya, dia menyapaku. Meski aku bahkan sama sekali tak
mengenal wajahnya.
“Hei, kamu Yong
kan??”, tanya seseorang itu memastikan, binar matanya cerah dan senyum
simpulnya yang hangat bersahabat.
“ia..maaf, siapa
ya?”, tanyaku kemudian. Aku memicingkan mataku, keheranan. Siapa orang ini aku
bakan tak mengenalnya, tapi dia seolah-olah mengenalku dengan baik.
“kamu lupa?..hei
kita kan pernah ketemu”, ujarnya kemudian. Mendesakku untuk mengingat-ingat
siapa nama pemilik wajah itu, mata menyipitnya yang manis.
Aku diam saja,
mengingatnya juga percuma, toh ingatanku memang buruk untuk mengingat nama dan
wajah orang lain. Penyakit yang sudah ada sejak dulu.
“ini aku
Dhika..”, ungkapnya tak sabaran menunggu loadingku
mengingat siapa dia.
“Dhika,
temnennya kulianya Ragil di Jogja, inget batik?,, ngumpul di alun-alun?..emang
udah lama banget sih, wajar kalo kamu udah lupa” cerocosnya dengan mimik wajah
yang menyenangkan.
Dhika?. Cowok
yang dulu seenaknya merangkul pundakku, dan manusia paling rame dikelompoknya
itu. Aku setengah tersenyum mengingatnya.
“Udah inget?..”,
tanyanya kemudian.
Aku mengangguk,
mengiyakannya. Pikiranku tertuju ke nama yang dia sebut
“Ragil, apa
kabarnya?”
“Dia....keenakan
melanglang buana ke luar negeri, “, jawabnya sambil bercanda.
Ooh..
==
Yong, aku suka kamu, sejak dulu. Sejak aku bahkan
belum tau seperti apa kamu, sejak Ragil selalu mencelotehkan nama kamu, gaya
kamu, sifat kamu dan kecuekan kamu. Semakin menjadi saat aku melihat kamu. Aku
merasa aku gila, tapi nyatanya memang seperti ini. Ada hal-hal yang memang
tidak bisa dijelaskan dengan nalar.
Tapi ini benar-benar sulit, terlalu banyak orang
yang suka kamu. Kamu tau betapa gilanya Ragil membicarakan kamu dari dulu, dan
tentang Petra juga. Aku merasa ikut gila, berani benar ada orang yang bisa
membuat orang-orang disekitarku seperti ini. Dan yang membuatku gila adalah aku sendiri bahkan menyukainya, menyukai
orang yang disukai sahabatku sendiri adalah hal paling gila yang pernah aku
pikirkan meskipun aku tahu sendiri Ragil punya orang yang sangat menyukainya,
Mya. Rasanya kepalaku meledak.Dan akhirnya aku memilih menjauh, berlari
meninggalkan apa yang selama ini aku pikirkan, menyendiri.
Aku menghela
nafas, kata-kata yang menohok diriku sendiri, melihatnya seperti aku sendiri
sedang berkaca pada cermin.
Tapi pada akirnya aku sadar, aku menyukaimu,
menyukai Yong bagaimanapun keadaanya. Bertemu lagi denganmu adalah sebuah
kesempatan, dan aku tidak akan membuangnya. Aku tidak akan menghindar lagi,
tidak akan lagi melawan hatiku sendiri. Aku akan membuatmu tahu apa yang aku
pikirkan. Aku sayang seseorang bernama Yong, Kamu.
==
“yong, apa boleh
aku mengikatmu?”, tanyanya dengan wajah serius.
Aku melihat
lingkaran, lingkaran saturnus.
Pria saturnus
itu, bukan khayalan. Dia datang dari tempat yang jauh, sangat jauh bahkan untuk
masuk kedalam pikiranku. Aku tak pernah berpikir ada kemungkinan seperti ini
dalam hidupku, tapi nyatanya dia hadir, terbang dari ujung pikiranku membawa
cincin saturnusnya dan memberikannya padaku, sesuatu yang sangat berharga yang
ia punya, hatinya. Bagaimana bisa aku melepaskan cincin saturnus ini, aku tak
bisa menolaknya.
Grandmarvelous -A thing called Fate- 12
Chapter 12. His
letter
Dear yong,
anak kecil masa laluku
Apa kabar?, lucu ya rasanya nulis surat kayak gini,
beda generasinya. tapi kamu sendiri yang bilang kamu suka baca surat. Aku gak
tau kamu masih suka atau enggak, tapi aku putuskan untuk menulisnya.
Jangan tertawa baca suratku, aku sendiri bingung apa
aku harus ketawa, sedih, marah atau bagaimana meluapkan emosiku. Tapi, bisakah
kita balik sebentar ke masa lalu?. Sebentar saja.
Kamu selalu nanya kenapa namamu Yong?, masih bisa
mengingatkah?..itu nama panggilan dariku, dulu saat kamu ingusan. Saat aku masih
belajar membaca, enta kenapa aku selalu salah mengeja namamu, Moyong..dan
panggilan Yong selalu keluar dari mulutku, toh kamu juga gak pernah marah, dan
selalu menoleh saat aku memanggilmu Yong, anak kecil tahu apa?..
Apa kamu ketawa?..Aku selalu tersenyum mengingatnya.
Ini basa basi yang buruk ya, lama sekali aku gak
liat kamu, dan harus aku akui kamu berubah banyak, berubah jadi anak cantik
dengan gaya serampangannya. Apa aku mesti bicara jujur?. Mulutku benar-benar
kaku melihat kamu setelah sejak awal kita ketemu, kamu tahu rasanya nervous
akut?. Itu yang membuat aku gak berani untuk menyapa dan bicara ramah denganmu.
Aku merasa konyol, saat kamu menggerutu, menganggapku robot.
Masih menertawakanku?
Maaf untuk waktu kemarin yang mungkin tak terlalu
menyenangkan, gimana bisa aku bersikap baik kalau aku sendiri semakin hari
semakin gugup melihat kamu. Benar, butuh waktu yang lama bahkan untuk sekedar
menyapa. Tapi asal kamu tahu, aku selalu melihat kamu, melihat dengan seksama. Meskipun
akhirnya semuanya mencair, kamu tau, itu adalah hari-hari paling menyenangkan
dalam hidupku. Hei aku merasa kita dekat bukan?
Masih membaca?.. aku harap.
Yong, aku bicara jujur. Aku menyukaimu, sejak dulu
mungkin. Menyukai gadis kecil yang cinta mati pada gambar Saturnus, yang terus
memandang lingkaran cincinnya yang bahkan otaknya sendiri belum tahu apa itu. Apa
kamu masih menyukainya?.aku selalu mengingatnya. Apa aku bisa jadi saturnus
yang kamu kagumi?.
Tapi nyatanya saturnus itu jauh, aku bahkan tak bisa
menggapainya. Kamu tahu rasanya saat kamu bilang kamu suka Petra?. Itu
menyedihkan untukku, kenapa waktu kita tidak tepat?, kenapa kamu datang saat
hati kamu memikirkan yang lain? Aku ingin menggantinya, tapi sepertinya kita
berjalan di orbit masing-masing. Bisakah aku menyebrang ke orbitmu?.
Menyakitkan melihat kamu bersedih, meskipun menyenangkan menghabiskan waktu
untuk menghiburmu.
Rasanya dadaku sesak..
Yong, aku selalu bilang jujurlah sampai akhir. Tapi
nyatanya aku sendiri tak bisa. Saat melihat kamu, aku ingin berlari ke arahmu,
menuju kamu, sayangnya itu gak mungkin. Orang lain baru memasukkan namaku di
hatinya, sebesar apapun rasa sayang aku ke kamu dan selama apapun itu, gak
mungkin aku membuang orang lain dengan tiba-tiba, aku tau, kamu tentu lebih ngerti
perasaan perempuan.
Apa yang aku lakukan ini salah?, ingin rasanya aku
berubah menjadi egois dan menggenggam kamu.
Kenapa waktu kita tidak tepat?, aku selalu mengutuki
itu saat melihat foto kecilmu dulu, aku menyimpannya, selalu. Bagiku gadis
kecil itu tak pernah berubah.
Masih ingat permintaanku?, aku harap kamu
mengingatnya. Aku menunggu itu.
Aku menyayangimu..robot ini diprogram untuk selalu
memikirkanmu, bisakah suatu hari nanti kita bertemu disaat yang tepat?. Aku
menunggunya, selalu. Untuk seseorang bernama Mayang.
PS : hei, apa kamu tau betapa sayangnya simbah sama
kamu, dia bahkan menyukaimu melebihi aku, membicarakanmu terus-menerus, maukah
kamu jadi cucunya?..
Aku berharap ia.
Still waiting you,
Ragil
==
Kring, ponselku
bergetar, seseorang menghubungiku dengan suara riangnya.
“halo…”, ujarku
menjawab panggilan itu,
“sayang,
ayo..aku udah nunggu dibawah..hari ini kamu ke bandara, kamu gak lupa kan kalo
hari ini kamu flight ke jepang?”,
tanya suara itu kemudian.
“ ia aku
turun..tunggu sebentar..”, jawabku sambil menutup telepon.
==
Aku tersenyum,
melipat surat beberapa tahun lalu..melipat pesannya.
Grandmarvelous -A thing called Fate- 11
Chapter 11. Grandma’s secret
Aku diam. Mengingat
laju motor yang kembali menerobos angin pagi itu, aku masih mengingatnya lagi
dan lagi. Hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengannya, liburan selesai
dan bapak segera menjemputku besok. Ragil harus kembali ke kampusnya untuk
ujian. Mahasiswa tingkat tiga bukannya memang sedang sibuk-sibuknya kan, aku
bahkan tak sadar dia menghabiskan waktu sebelum ujian semesternya hanya dengan
main-main menemani anak kecil.
Dia tak banyak
bicara, aku lebih diam lagi. Melihat dia, punggungnya membuatku mengingat
kata-kata yang diucapkan Mya dengan nada riang. Aku menggelengkan kepala,
meruntuk dalam hati..benar apa kata
Ragil, aku masih punya utang jujur ke Petra, biar bagaimanapun dia orang yang
sudah dua tahun ini jadi bayangan mataku sendiri, aku tak ingin
mempertimbangkan Rima, Petra dan yang lainnya, hanya jujur pada diri sendiri.
Dan itu penting.
Seperti itulah
sosoknya saat terakhir kali aku melihatnya, hanya merangkulkan tangannya
kepundakku,
“dah yong, met
balik lagi ke sekolah…aku balik dulu”, seperti itu saja yang ragil katakan.
“hhmm ya”, aku
menganggukan kepalaku, membalasnya dengan ekspresi tak peduli juga.
Aku hanya bertemu dia seminggu. Tapi ini memang
seminggu yang paling menyenangkan dalam hidupku sendiri.
==
Aku mulai
mengepak baju-bajuku dan barang bawaan lainnya. Diam sejenak, aku mengamati
kamar tua ini, suara simbah seperti biasanya ramai bicara dengan bi Mimin, aku
mengabaikan pembicaraan mereka yang sibuk membungkus oleh-oleh untuk ku bawa.
Tiba-tiba aku merasa masih ingin menambah liburanku disini.
Ini malam
penghujung aku menghabiskan waktuku disini, hanya aku dan simbah. Kami berdua
saja, aku memperhatikan wajahnya, rambut putihnya, kerutannya, badannya yang
gemuk, dan langkahnya yang mulai ringkih. Sesaat aku merenung, bagaimana nanti
aku menghabiskan umur tuaku, sendiriankah, sepikah, diamkah?. Dan aku melihat
sorot tenangnya mulai berkaca-kaca saat dia memandangi album foto itu, sorot
mata yang tertuju pada satu gambar yang tak terlalu baru. Dia bahkan tak menyadariku yang ikut
mengamati sosok di gambar itu. Seorang pria tua dengan senyum manis dan sorot
mata yang lembut.
Simbah tersenyum
melihatku, bukan dia yang seperti biasanya. Sambil terus memandangi fotonya,
dia bicara seloah tahu apa isi kepalaku yang penuh dengan banyak pertanyaan.
“ itu simbah
kakung..”, ujarnya kemudian.
Aku melihatnya
dengan seksama, mengamati sososk pria berpostur tegap, dengan helaian rambut
putih yang menghiasi kepalanya. Simbah bicara, membicarakan cerita
Laki-laki itu sudah meninggalkanku tiga bulan lalu,
waktu yang sebentar mungkin bagi orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan
banyak kegiatan. Tapi bagiku. Itu sangat lama. Tiap menitnya benar-benar
semakin sepi, aku bahkan terus mengingatnya sepanjang waktu meskipun aku
berusaha menghilangkannya. Aku mengikhlaskannya tentu saja, tak ada ganjalan
apapun, hanya aku selalu berfikir apakah dia baik-baik saja disana, bagaimana
kehidupannya. Apakah orang yang sudah meninggal bisa mendengar yang masih
hidup?, apa dia bisa mendengarkanku?..Simbah menghela nafas, aku merapatkan
dudukku padanya, iringanan nafasnya terdengar berat ditelingaku.
Aku bertemu dia, dulu saat jaman kemerdekaan. Dia
seorang pejuang, tak ada yang istimewa. Aku membantu konsumsi para pejuang,
memasak ala kadarnya di posko. Dia sepeti kebanyakan pemuda seusianya, membantu
para pejuang di tempat kami. Dia tetangga desaku. Aku bahkan tidak pernah berfikir dia yang akan jadi suamiku.
Saat itu kehidupan sangat sederhana, tidak seperti sekarang, tidak ada namanya
jatuh cinta. Orang-orang hanya berfikir tentang negara, tentang merdeka, tak
pernah berfikir tentang kehidupannya masing-masing, dan jodoh itu seperti
aliran air, mengalir begitu saja.
Laki-laki itu memilihku, dari begitu banyaknya
pilihan, aku mengiyakan tentu, manut orang tua. Kami bahagia, tentu saja dengan
keadaan sederhana kami, Menikah itu ibadah, dan seperti itulah isi kepalaku
selamanya. Dia laki-laki yang terlalu baik untukku, bahkan untuk isi kepalaku
yang sangat keras.
“Simbah
mencintai mbah kakung?”, pertanyaan menggelitik yang ada dikepalaku. Pertanyaan
anak bau kencur yang konyol untuk seorang nenek yang sudah menghabiskan seumur
hidupnya bersama seorang pria yang luar biasa.
“Cinta?”,
ujarnya tersenyum.
Aku tidak tahu apa itu cinta seumur hidupku.
Orang-orang selalu mengatakannya dengan mudah, meski aku sendiri bahkan sampai
saat ini tak tahu apa itu cinta yang sebenarnya. Aku hanya menempatkan posisiku
sebagai istrinya, menghormatinya, menyayanginya. Aku senang melihatnya senang,
begitupun sebaliknya, aku suka saat dia mengalah untukku, aku suka saat dia
menahan diri untuk tidak marah ketika aku menggerutu, aku menyukai sifat
sabarnya. Apakah itu cinta?.
Dia mendahuluiku pergi, apaka aku harus menangis,
aku menahannya, kehilangan orang seperti dia menyakitkankah?, mataku berkaca-kaca
meski aku tak ingin menangis, dadaku sesak dan terus-terusan menghela nafas.
Orang-orang menangis, anak-anakku, cucukku, dan semua orang dekatku, aku
meneteskan air mata sambil melihat mata tertutupnya. Aku memegang tangan
keriputnya yang dingin, mengantarnya ketempat dia kembali. Dia meninggalkanku
sendiri, aku terus memikirkannya, mengingatnya dalam hatiku.
“simbah kakung
bahagia..”. ujarku kemudian, aku berkaca-kaca, menangis sesenggukan mendengar
ceritanya. Menghabiskan sepanjang hidup dengan orang yang dicintai, seperti
itukah cinta?. Kenapa begitu mengharukan?. Simbah mengelus-elus rambutku,
membelaiku yang bersandar dipundak rapuhnya.
“Nduk..nduk,
jangan nangis..istirahatlah..besok kamu pulang ke Bandung..”, ujarnya kemudian.
==
Kita tak pernah tahu apa itu cinta, yang simbah tahu
jodoh akan Allah turunkan pada saat yang tepat, siapapun orangnya, maka dialah
cintamu, entah itu orang dari masa lalu, masa ini, atau orang yang bahkan kamu
temui suatu saat nanti. Ada jalan yang tidak bisa kita rencanakan.
Aku menghela
nafas, deru kereta api semakin keras ketika melewati jembatan. Aku melihat
aliran air keruh sungai dibawahkku, memikirkan malah berharga yang aku lewatkan
bersama simbah, memikirkan raut mukanya yang tegar, rahasia cintanya yang
sederhana. Satu malam yang ingin aku ulangi lagi dan lagi.
==
Aku memikirkan
seminggu yang berharga ini, seminggu yang membuatku berubah untuk memaknai
sesuatu yang lebih dalam. Aku menyukai kejujuran, meskipun kadang tak
menyenangkan memang. Dan Ragil, ah manusia robot yang satu itu ternyata punya
perasaan juga, memberiku pengalaman yang menyenangkan dalam beberapa hari
kebelakang ini, meskipun…ah sudahlah, lupakan saja.
To Ragil.
[good luck for ur exam…fighting!!..:) ]. Send.
Sebuah pesan
singkat yang kukirim untuknya, aku tersenyum sendiri. Memikirkan punggung lebar
dan mata tajamnya. Ini konyol.
“Yong..hooy..”,
bapak mengibas-ngibaskan tangannya kedepan mukaku, “ngelamun apaan,
senyam-senyum sendiri”. Aku tersenyum, menggelengkan kepalaku setengah malu..
“gak papa…udah
deh pak, yong mau tidur..”
Bapak
mengerutkan dahi, kembali membaca koran yang beritanya tak pernah ganti topik,
begitulah kasus di Indonesia, korupsi saja pembahasannya.
Aku punya poin
yang harus diselesaikan dan itu nanti, clearkan
sebalum semuanya memburuk.
===
Ini awal masuk
sekolah yang sebenarnya masih dipengaruhi aura malas, sebagian anak bahkan
memutuskan untuk membolos dan menambah jatah liburannya. Gosip dan celotehan
pasca liburan tetap menjadi topik menarik, bahkan saat pelajaran sudah dimulai.
Begitulah hari pertama setelah liburan, kondisinya tak pernah kondusif.
Mengumpulkan nyawa untuk membuka buku sepertinya butuh perhatian ekstra dari
para guru, aku pun bagian dari mayoritasnya.
“ini PRnya,
silakan latihan di rumah untuk memperdalam materi ini, ingat kalian sudah kelas
dua belas..sebentar lagi ujian nasional”,. Himbauan yang disambut oleh helaan
dan gerutuan anak-anak kelas, seiring dengan bel istirahat yang mengaum
kencang.
“Rima, Dias..ayo
kantin, kita ngobrol..”, kataku memecah kebisan sejak pagi tadi. Raut wajah
mereka memperlihatkan tanda tanya, meskipun tetap mengikutiku menuju kantin
yang sudah dipenuhi oleh manusia-manusia putih abu-abu yang kelaparan.
“Kenapa yong?”..
Pada akhirnya
kami bicara, masalah mereka berdua Rima dengan masalah riffi yang
mengganggunya, dan Dias dengan masalah keluarganya yang
membanding-bandingkannya dengan Rima. Ini hanya kesalahpahaman yang didiamkan.
Tentu harus dipecahkan, dan satu-satunya jalan adalah dengan bicara, terus
terang. Seperti kata Ragil, jika kamu mau jujur, maka jujurlah sampai akhir.
“Gimana,
sekarang udah clear kan?.”, tanyaku kemudian setelah kami bicara panjang lebar.
Rima dan Dias
mengangguk. Saling tersenyum satu sama lain,
“maaf ya Rim,”,
ujar Dias kemudian. “tenang aja, aku juga gak mungkin jadian sama adekmu, riffi
terlalu lucu untuk aku jadiin pacar, lagian aku gak mau jadi bahan ocehan
fans-fansnya nanti.Seloroh dias mencairkan suasana..
“maafin aku juga
ya yas, aku gak tahu kalo aku membuat kamu sulit, padahal asal kamu tahu kalo
aku beneran iri sama gaya kamu yang keren ini”, kata Rima sambil tersenyum
manis.
Aku menarik
nafas lega, membiarkan semua terbuka apa adanya adalah sesuatu yang sangat
melegakan. Kami tertawa sambil menghabiskan makan siang kami yang entah kenapa
rasanya lebih enak dari biasanya.
“hei, kalian
selalu bilang gue orang yang jujur dan apa adanya kan?”, ujarku menyela makan
siang kami.
“ia..kenapa
yong?.. kok lu aneh amat..”
Aku
mempersiapkan mulutku, mengatur kata yang sederhana tapi sepertinya sulit untuk
aku sampaikan
“seseorang
nyuruh gue, untuk jujur.. kalo gue mau jujur, gue mesti jujur sampai akhir”,
ujarku kemudian. Rima dan Dias memicingkan mata tanda heran, menunggu ucapanku
selanjutnya.
“gue jalan sama
Petra”
“gue jujur
ngomong ke Petra kalo gue suka sama dia.”
“yong??”
===
Aku melihat
reaksinya di ujung mataku. Aku dan mereka, kami diam.
Langganan:
Komentar (Atom)