Chapter 7. Side of age
Umur kayaknya
jadi masalah yang penting juga ya untuk dikomentari dalam suatu hubungan. Well,
mungkin memang terlalu banyak populasi manusia didunia berbanding lurus dengan
jumlah mulut dan pikiran yang tersampaikan. Bahkan hal-hal sepelepun jadi
sorotan untuk bahan obrolan, ya memang dasarnya manusia begitu kali.
Idealnya sih
harus cowok yang lebih tua, katanya sih biar prianya lebih dewasa, jadi lebih
bisa ngemong, ngalah, sabar dan apapun istilahnya untuk statement ini. Aku sih gak terlalu peduli, hanya kebanyakan orang
berfikir seperti itu. Tapi bukannya itu subjektif ya, bergantung pada
individunya masing-masing. Contohnya Nandung, kakakku yang satu-satunya ini
bahkan punya kelakuan yang lebih petakilan daripada aku, bukan membandingkan
tapi banyak juga temen-temen sekolahku yang bahkan pola pikirnya lebih dewasa,
Petra contohnya, ahh..aku mulai memikirkannya lagi. Baiklah, ini bukan soal
aku, nandung atau petra..ini soal cerita lainnya, cerita tentang – ah, apa ia
aku juga harus meminjam istilah aneh ini- brownies
Aku termangu di
tengah hujan yang mengguyur lumayan deras siang itu, suara televisi yang aku
tonton bahkan mulai kalah saing dengan butiran hujan yang melemparkan dirinya
ke genteng dan tanah-tanah basah, terpecah menjadi butir-butir kecil yang tak
lama berkumpul jadi genangan air, mengamati hujan membuatku bahkan tak tahu
jalan cerita film yang aku tonton. Simbah sibuk didapur membuat bubur kacang
katanya, dan si Robot autis itu menyasarkan pandangannya entah kemana,masih tak
bersuara dengan sepasang headset yang dia tempelkan dilubang telinganya. Lagu
seperti apa yang ia dengarkan, aku mulai membayangkan. Ah, apa-apaan ini..kenapa kata-kata dan pikiranku jadi sok melankolis
begini, gara-gara hujan ini?. Payah, mana bisa nyalahin hujan.
----
Ketika kami bertiga berkumpul, saat aku menggila
dengan tumpukan komikku, Dias asik mendengarkan musik dengan mulut penuh
makanannya dan Rima yang diem dapur nyiapin makan siang.
“Kak Rim..Rima”,
seseorang memanggil si pemilik rumah sambil mengetuk pintu. Aku menoleh, Dias
masih tak bergeming dengan sumber suara tadi. Ini anak emang beneran gak denger apa pura-pura gak denger.
“Rimm, ada yang
ngetuk pintu…manggil-manggil kamu, pintunya dikunci”, teriakku
“bukain yong,
adekku paling..”
“yaa..”, aku
mengiyakan. “Dias, yaaas…”, aku menepuk punggung Dias keras, Dias menoleh,
mencopot headset yang ia pakai, setengah manyun bertanya setengah complain
padaku
“ apaan sih
Yong?..”
“bukain pintu,
tanggung, gue lagi baca komik yaa…kasian adeknya Rima”,sahutku setengah nyengir
kuda, sedikit menunjukkan wajah innocent menghindari tampang sebahnya Dias.
“ia..lu tuh ya,
merentah mulu…”, omelnya sambil beranjak menuju pintu, saat Dias membukakan
pintu, sosok didepannya menatap heran, sebelum sempat bertanya apa-apa Dias
menjawab isi kepala bocah kelas sepuluh SMA itu.
“gue
temennya…Rima dibelakang”, ujar Dias
santai..
Anak itu ber oh
tanpa mengucapkan kata balasan apapun, berlalu menuju kamarnya dan menutup
pintunya.
---
“ ooh..jadi kak
Dias, pernah ikutan Pekan Olah Raga Pelajar juga kan, pantesan kayaknya aku
pernah liat dimana gitu”, Kata Riffi sambil mengunyah makan siangnya saat itu,
Dias mengangguk mengiakan.
“lu juga ikut?”
“ia..di basket.
Kak Dias cabang aletik kan, sprint,”, tanyanya memastikan.
“ia..lihat aja
ni kulit gosong keseringan panas-panasan.”
Aku
memperhatikan keduanya, obrolannya cocok dan nyambung satu sama lain. Punya
postur yang sama meski ternyata Riffi tetap lebih bongsor dibanding Dias,
badannya tinggi, kulinya yang agak cokelat kemerahan, dan gaya bicaranya yang
santai, ditambah lagi anak olahraga. Pasti jadi bahan kecengan anak-anak di
sekolahnya.
Aku dan Rima
mendengarkan saja obrolan pertama kalinya mereka, cukup jadi kambing budek
mendengarkan mereka membicarakan topik yang sama sekali tak aku mengerti.
---
“Yong, Riffi
suka banget sama Dias, gimana coba?”.
Kata-kata itu
membuatku diam, heh..suka sejak kapan Riffi suka sama teman kakaknya sendiri.
Kalau dipikir-pikir, memang sih mereka cocok. Punya hobby yang sama, obrolannya
nyambung dan lagi kadang-kadang mereka jogging bareng kalo lagi car free day, atau lagi libur. Tapi,
masalah suka. Pikiranku sama sekali belum sampai kearah sana.
“Masa ia, sejak
kapan…Cuma ngefans kali..cocok aja, lagian hobby mereka sama”, ujarku
menetralkan.
“tadinya gue jug
mikir gitu..awalnya dia ngobrol-ngobrol,, tanya-tanya Dias..ya gue pikir karena
kesukaan mereka sama, tapi akhir-akhir ini sikapnya berubah…”
“maksud lo?”
“ia, dia bilang
terus terang ke gue kalo dia suka sama Dias, sejak awal ketemu dan
ngobrol-ngobrol dirumah dulu yang bareng lo juga…”, Rima menghela
nafas..melanjutkan bicaranya yang terpotong, aku mendengarkan, seperti biasa,
cukup mendengarkan dengan seksama.
“itu sebabnya
dia sering jemput gue akhir-akhir ini, cuma pengen liat Dias juga, tiap pulang
yang ditanyain Dias, apa-apa Dias, bahkan kalo papa sama mama lagi ngobrolin
keluarganya Dias, Riffi ikut-ikutan nimbrung. Dia mohon ke gue buat ngomong ke
Dias, nanya Riffi itu orangnya gimana dan segala macemnya. Gue mesti jadi
mata-matanya, nyebelin banget rasanya.”
“Dias udah tau?,
“
“aku udah
ngomong ke Dias, bilang kalo adek gue suka sama dia..meskipun gue sendiri
merasa aneh ngomongnya”
“terus
tanggapannya Dias?”
“Dias cuma
ngomong…Rima, ya ampun Riffi itu anak kecil, lagian dia itu juga kaak adek gue
sendiri…udaah, becandaanmu tuh lucu amat sih..”
“Dias, nganggap
itu becandaan, lagian juga gak mungkin kali Dias suka sama adek gue, dan lagi
gue gak bisa ngebayangin juga kalo dias itu pacarnya Riffi..”
Dias pacarnya Riffi,, aku juga gak bisa ngebayangin
kalo sampai ia beneran.
“Riffi nekat mau
bilang langsung Yong”
-----
“yong, dipanggil
simbah, bubur kacang udah mateng”. Suara itu membuyarkan lamunanku, aku
mendongakkan kepalaku, melihat Ragil dengan posturnya yang tampak sudah
membalikkan badan, mataku melihat kearahnya, punggungnya lebar.
Aku mengikutinya
dari belakang, hujan masih turun dengan deras, Desember memang selalu kelebihan
air setiap saatnya.
Dan aku masih terus bertanya dalam hati, kenapa aku
harus tahu cerita-cerita mereka?
Itu yang tadi bicara benar-benar Ragil?.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar