Rabu, 25 April 2012

Grandmarvelous -A thing called Fate- 7


Chapter 7. Side of age
Umur kayaknya jadi masalah yang penting juga ya untuk dikomentari dalam suatu hubungan. Well, mungkin memang terlalu banyak populasi manusia didunia berbanding lurus dengan jumlah mulut dan pikiran yang tersampaikan. Bahkan hal-hal sepelepun jadi sorotan untuk bahan obrolan, ya memang dasarnya manusia begitu kali.
Idealnya sih harus cowok yang lebih tua, katanya sih biar prianya lebih dewasa, jadi lebih bisa ngemong, ngalah, sabar dan apapun istilahnya untuk statement ini. Aku sih gak terlalu peduli, hanya kebanyakan orang berfikir seperti itu. Tapi bukannya itu subjektif ya, bergantung pada individunya masing-masing. Contohnya Nandung, kakakku yang satu-satunya ini bahkan punya kelakuan yang lebih petakilan daripada aku, bukan membandingkan tapi banyak juga temen-temen sekolahku yang bahkan pola pikirnya lebih dewasa, Petra contohnya, ahh..aku mulai memikirkannya lagi. Baiklah, ini bukan soal aku, nandung atau petra..ini soal cerita lainnya, cerita tentang – ah, apa ia aku juga harus meminjam istilah aneh ini- brownies
Aku termangu di tengah hujan yang mengguyur lumayan deras siang itu, suara televisi yang aku tonton bahkan mulai kalah saing dengan butiran hujan yang melemparkan dirinya ke genteng dan tanah-tanah basah, terpecah menjadi butir-butir kecil yang tak lama berkumpul jadi genangan air, mengamati hujan membuatku bahkan tak tahu jalan cerita film yang aku tonton. Simbah sibuk didapur membuat bubur kacang katanya, dan si Robot autis itu menyasarkan pandangannya entah kemana,masih tak bersuara dengan sepasang headset yang dia tempelkan dilubang telinganya. Lagu seperti apa yang ia dengarkan, aku mulai membayangkan. Ah, apa-apaan ini..kenapa kata-kata dan pikiranku jadi sok melankolis begini, gara-gara hujan ini?. Payah, mana bisa nyalahin  hujan.     
----
Ketika kami bertiga berkumpul, saat aku menggila dengan tumpukan komikku, Dias asik mendengarkan musik dengan mulut penuh makanannya dan Rima yang diem dapur nyiapin makan siang.
“Kak Rim..Rima”, seseorang memanggil si pemilik rumah sambil mengetuk pintu. Aku menoleh, Dias masih tak bergeming dengan sumber suara tadi. Ini anak emang beneran gak denger apa pura-pura gak denger.
“Rimm, ada yang ngetuk pintu…manggil-manggil kamu, pintunya dikunci”, teriakku
“bukain yong, adekku paling..”
“yaa..”, aku mengiyakan. “Dias, yaaas…”, aku menepuk punggung Dias keras, Dias menoleh, mencopot headset yang ia pakai, setengah manyun bertanya setengah complain padaku
“ apaan sih Yong?..”
“bukain pintu, tanggung, gue lagi baca komik yaa…kasian adeknya Rima”,sahutku setengah nyengir kuda, sedikit menunjukkan wajah innocent menghindari tampang sebahnya Dias.
“ia..lu tuh ya, merentah mulu…”, omelnya sambil beranjak menuju pintu, saat Dias membukakan pintu, sosok didepannya menatap heran, sebelum sempat bertanya apa-apa Dias menjawab isi kepala bocah kelas sepuluh SMA itu.
“gue temennya…Rima dibelakang”,  ujar Dias santai..
Anak itu ber oh tanpa mengucapkan kata balasan apapun, berlalu menuju kamarnya dan menutup pintunya.
---
“ ooh..jadi kak Dias, pernah ikutan Pekan Olah Raga Pelajar juga kan, pantesan kayaknya aku pernah liat dimana gitu”, Kata Riffi sambil mengunyah makan siangnya saat itu, Dias mengangguk mengiakan.
“lu juga ikut?”
“ia..di basket. Kak Dias cabang aletik kan, sprint,”, tanyanya memastikan.
“ia..lihat aja ni kulit gosong keseringan panas-panasan.”
Aku memperhatikan keduanya, obrolannya cocok dan nyambung satu sama lain. Punya postur yang sama meski ternyata Riffi tetap lebih bongsor dibanding Dias, badannya tinggi, kulinya yang agak cokelat kemerahan, dan gaya bicaranya yang santai, ditambah lagi anak olahraga. Pasti jadi bahan kecengan anak-anak di sekolahnya.
Aku dan Rima mendengarkan saja obrolan pertama kalinya mereka, cukup jadi kambing budek mendengarkan mereka membicarakan topik yang sama sekali tak aku mengerti.
---
“Yong, Riffi suka banget sama Dias, gimana coba?”.
Kata-kata itu membuatku diam, heh..suka sejak kapan Riffi suka sama teman kakaknya sendiri. Kalau dipikir-pikir, memang sih mereka cocok. Punya hobby yang sama, obrolannya nyambung dan lagi kadang-kadang mereka jogging bareng kalo lagi car free day, atau lagi libur. Tapi, masalah suka. Pikiranku sama sekali belum sampai kearah sana.
“Masa ia, sejak kapan…Cuma ngefans kali..cocok aja, lagian hobby mereka sama”, ujarku menetralkan.
“tadinya gue jug mikir gitu..awalnya dia ngobrol-ngobrol,, tanya-tanya Dias..ya gue pikir karena kesukaan mereka sama, tapi akhir-akhir ini sikapnya berubah…”
“maksud lo?”
“ia, dia bilang terus terang ke gue kalo dia suka sama Dias, sejak awal ketemu dan ngobrol-ngobrol dirumah dulu yang bareng lo juga…”, Rima menghela nafas..melanjutkan bicaranya yang terpotong, aku mendengarkan, seperti biasa, cukup mendengarkan dengan seksama.
“itu sebabnya dia sering jemput gue akhir-akhir ini, cuma pengen liat Dias juga, tiap pulang yang ditanyain Dias, apa-apa Dias, bahkan kalo papa sama mama lagi ngobrolin keluarganya Dias, Riffi ikut-ikutan nimbrung. Dia mohon ke gue buat ngomong ke Dias, nanya Riffi itu orangnya gimana dan segala macemnya. Gue mesti jadi mata-matanya, nyebelin banget rasanya.”
“Dias udah tau?, “
“aku udah ngomong ke Dias, bilang kalo adek gue suka sama dia..meskipun gue sendiri merasa aneh ngomongnya”
“terus tanggapannya Dias?”
“Dias cuma ngomong…Rima, ya ampun Riffi itu anak kecil, lagian dia itu juga kaak adek gue sendiri…udaah, becandaanmu tuh lucu amat sih..”
“Dias, nganggap itu becandaan, lagian juga gak mungkin kali Dias suka sama adek gue, dan lagi gue gak bisa ngebayangin juga kalo dias itu pacarnya Riffi..”
Dias pacarnya Riffi,, aku juga gak bisa ngebayangin kalo sampai ia beneran.
“Riffi nekat mau bilang langsung Yong”
-----
“yong, dipanggil simbah, bubur kacang udah mateng”. Suara itu membuyarkan lamunanku, aku mendongakkan kepalaku, melihat Ragil dengan posturnya yang tampak sudah membalikkan badan, mataku melihat kearahnya, punggungnya lebar. 
Aku mengikutinya dari belakang, hujan masih turun dengan deras, Desember memang selalu kelebihan air setiap saatnya.
Dan aku masih terus bertanya dalam hati, kenapa aku harus tahu cerita-cerita mereka?
Itu yang tadi bicara benar-benar Ragil?.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar