Chapter 9. Can I
tell you everything?
“makan yang
banyak..” ujarnya sambir tersenyum. Menertawakanku?, sial sekali. Bagaimana
bisa aku juga menunjukkan wajah cengeng didepan robot pembasmi serngangga ini,
baiklah aku kalah telak hari ini,
Aku menghabiskan
semangkuk bakso didepanku dengan cepat, menghela nafas dan terus mengunyah
diselingi seruputan es jeruk yang habis dengan cepat.
“masih kurang?”,
katanya lagi. Aku tak mempedulikan, mengambil bakso dimangkoknya yang masih
tersinya, dan menghabiskannya dalam beberapa kunyahan. Dia terus tersenyum
melihatku, entah apa artinya, aku sendiri tak tahu, dan tak mau tahu. Masa
bodoh.
“Ayo pergi”,
ajakku kemudian.
==
Biasanya para
cowok mengajak temannya terutama teman perempuannya ketempat yang nyaman saat
mereka sedih. Bukannya, ingin diperhatikan tapi setidaknya paham situasi dan
sedikit menghibur. Konyol sekali, berhenti di pom bensin yang menyediakan rest
area, beli eskrim di minmarketnya dan diam, masih dengan ekspresi wajah
datarnya.
“istirahat dulu,
nih..”, ujarnya sambil menyodoran sebungkus eskrim cokelat tiramisu padaku.
Emangnya aku anak kecil apa, diiming-imingi eskrim saat sedih. Benar-benar
tidak diragukan lagi, dia kehilangan kepekaan sepertinya. Aku cemberut macam
ekor bebek.
“Udah, gak usah
ngomong apa-pa aku juga tahu kok.., kalau mau cerita ya cerita aja..tapi jangan
harap aku bakal sok-sokan menghibur,”. Cess, netes dihati kata-katanya. Apa ia sebenarnya
aku berharap dihibur, paling tidak bisa melihat seseorang yang wajahnya tampak
khawatir padaku saat ini, meskipun itu sebenarnya hanya pura-pura. Cukup
pura-pura saja sok peduli, apa ini yang membuat aku sewot dari tadi. Mungin
saja.
Aku melihat ke
arahnya, meminta persetujuannya untuk paling tidak memindahkan beban yang tidak
mengenakkan ini ke punggungnuya yang lebar dan tampang maskulinnya, Ragil balik
melihatku, sedikit mengangkat alisnya, member tanda ia. Dan aku mulai
bercerita.
Mataku sakit,..apa itu karena kelilipan, tentu saja
bukan. Cukup sakit sampai kau sendiri tak bisa memejamkan mata melihatnya, tadi
di jalanan yang ramai aku melihat mereka, teman-teman SMA ku yang sedang
wisata, kebetulan sekali ya. Pikirku, niatnya aku ingin berteriak kencang
menyapa mereka, tapi, pemandangan itu, pemandangan sama yang membuatku
memutuskan untuk memilih tidak ikut liburan, memutuskan menghabiskan waktuku
terasing dirumah joglo tua simbah. Aku pikir ini akan sedikit memberikan
penyegaran, nyatanya aku bahkan tak bisa menghilangkan pikiran-pikiran itu dari
isi otakku, bukankah itu lucu. Ya,
mereka berdua yang aku lihat dulu, Petra dan Rima. Awalnya aku menyangkal,
akhirnya aku bahkan memberikan pembenaran untuk mereka, bukankah itu
menyedihkan.
Tak ada yang salah memang, hanya. Hei, bukankah Rima
itu teman baikku sendiri, bagaimana mungkin, dan Dias bahkan berjalan berjauhan
dari mereka berdua. Aku selalu jujur, bicara apa adanya, dan mereka tahu itu
dengan sangat jelas, tapi kenapa bahkan sikap mereka seperti itu, kenapa harus
sembunyi-sembunyi. Ini bukan kesalah pahaman, aku tahu dengan pasti mata mereka
berdua. Itu benar-benar buruk bagiku, bagaimana bisa aku mentoleransi hal-hal
seperti itu, jadi apakah aku harus juga percaya mereka seperti mereka mempercayaiku,
membicarakan hal-hal yang mengganjal pikiran mereka, Rima dan Dias pada
akhirnya sama saja.
Padahal bukannya keinginanku sangat sederhana, hanya
Petra. Menyukai dia apa salah?
Aku menyudahi
ceritaku, tentu bukan dengan kata-kata puitis. Itu hanya penyair yanga ada di
isi hatiku, tak akan aku keluarkan lewat mulut apalagi didepan Ragil, berharap
dia menertawakanku, yang benar saja. Simple saja,
“oh..benar,
menyukai itu menyebalkan..dan ini pertama kalinya, gue harap ini tidak terjadi
saja”, ujuarku mengakhiri.
Pada akhirnya
aku cerita semuanya, tentang Rima, Dias, Riffi, Petra dan semua yang membuat
aku merasa kepalaku semakin berat saja, entah kenapa rasanya nyaman sekali,
padahal ini hanya rest area SPBU, sebaris bangku dengan beberapa pohon mangga
yang tidak terlalu tinggi meskipun cukup teduh, ini cukup baik, dan eskrim yang
aku rasa tadinya hambar ternyata enak. Sepertinya lidah juga punya korelasi
yang baik dengan suasana hati.
“itu sebabnya
aku narik tangan kamu tadi”, ujarnya tiba-tiba.
“emang lo tau?”,
tanyaku penasaran.
“enggak, Cuma
perasaan aja, tapi ..aku tahu kamu bukan orang yang cengeng..”..ia melajutkan
omongannya..perkataanya yang membuat aku terdiam cukup lama.
“kamu tahu
kenapa aku gak banyak bicara dan sok peduli, ini masalahmu dan cuma kamu
sendiri yang tahu apa yang harus kamu lakukan, jadi kenapa orang lain harus sok
peduli dan pura-pura cemas, toh pada akhirnya hanya akan membuatmu terlihat
menyedihkan. Tanpa aku menunjukkan wajah pura-pura pedulipun kamu baik-baik aja,
jadi kenapa harus bergantung pada orang lain, kamu terlalu kuat untuk bertindak
cengeng..”
“Ragil…’, kataku
memotong pembicaraan..
“kalau kamu
memang suka Petra, ya bicara apa adanya..kamu jujur bukan, jadi jujur saja
sampai akhir..”, lanjutnya sambil tersenyum.
“Ragil, itu tadi
beneran lo kan yang bicara?..”, tanyaku keheranan..
“kenapa?”
“karena gue
selalu berfikir lo itu robot yang sama sekali gak peka..”
“hehe…”, Ragil
tertawa renyah,..”ayo pulang..kayaknya udah cukup lama kita istirahat, nenangin
isi perutmu yang penuh sama bakso”, candanya sambil beranjak pergi,
menghidupkan mesin motornya.
“hei Ragil…”,
“ Apa?”,
jawabnya kemudian..
“Sorry, harusnya
gue panggil lu kakak…lu bahkan seumuran sama kakak gue..gue rasa itu cukup
sopan”
Kak Ragil?, aku tersenyum geli.
==
Tidak ada komentar:
Posting Komentar