Rabu, 25 April 2012

Grandmarvelous -A thing called Fate- 9


Chapter 9. Can I tell you everything?
“makan yang banyak..” ujarnya sambir tersenyum. Menertawakanku?, sial sekali. Bagaimana bisa aku juga menunjukkan wajah cengeng didepan robot pembasmi serngangga ini, baiklah aku kalah telak hari ini,
Aku menghabiskan semangkuk bakso didepanku dengan cepat, menghela nafas dan terus mengunyah diselingi seruputan es jeruk yang habis dengan cepat.
“masih kurang?”, katanya lagi. Aku tak mempedulikan, mengambil bakso dimangkoknya yang masih tersinya, dan menghabiskannya dalam beberapa kunyahan. Dia terus tersenyum melihatku, entah apa artinya, aku sendiri tak tahu, dan tak mau tahu. Masa bodoh.
“Ayo pergi”, ajakku kemudian.
==
Biasanya para cowok mengajak temannya terutama teman perempuannya ketempat yang nyaman saat mereka sedih. Bukannya, ingin diperhatikan tapi setidaknya paham situasi dan sedikit menghibur. Konyol sekali, berhenti di pom bensin yang menyediakan rest area, beli eskrim di minmarketnya dan diam, masih dengan ekspresi wajah datarnya.
“istirahat dulu, nih..”, ujarnya sambil menyodoran sebungkus eskrim cokelat tiramisu padaku. Emangnya aku anak kecil apa, diiming-imingi eskrim saat sedih. Benar-benar tidak diragukan lagi, dia kehilangan kepekaan sepertinya. Aku cemberut macam ekor bebek.
“Udah, gak usah ngomong apa-pa aku juga tahu kok.., kalau mau cerita ya cerita aja..tapi jangan harap aku bakal sok-sokan menghibur,”. Cess, netes dihati kata-katanya. Apa ia sebenarnya aku berharap dihibur, paling tidak bisa melihat seseorang yang wajahnya tampak khawatir padaku saat ini, meskipun itu sebenarnya hanya pura-pura. Cukup pura-pura saja sok peduli, apa ini yang membuat aku sewot dari tadi. Mungin saja.
Aku melihat ke arahnya, meminta persetujuannya untuk paling tidak memindahkan beban yang tidak mengenakkan ini ke punggungnuya yang lebar dan tampang maskulinnya, Ragil balik melihatku, sedikit mengangkat alisnya, member tanda ia. Dan aku mulai bercerita.
Mataku sakit,..apa itu karena kelilipan, tentu saja bukan. Cukup sakit sampai kau sendiri tak bisa memejamkan mata melihatnya, tadi di jalanan yang ramai aku melihat mereka, teman-teman SMA ku yang sedang wisata, kebetulan sekali ya. Pikirku, niatnya aku ingin berteriak kencang menyapa mereka, tapi, pemandangan itu, pemandangan sama yang membuatku memutuskan untuk memilih tidak ikut liburan, memutuskan menghabiskan waktuku terasing dirumah joglo tua simbah. Aku pikir ini akan sedikit memberikan penyegaran, nyatanya aku bahkan tak bisa menghilangkan pikiran-pikiran itu dari isi otakku, bukankah itu lucu.  Ya, mereka berdua yang aku lihat dulu, Petra dan Rima. Awalnya aku menyangkal, akhirnya aku bahkan memberikan pembenaran untuk mereka, bukankah itu menyedihkan.
Tak ada yang salah memang, hanya. Hei, bukankah Rima itu teman baikku sendiri, bagaimana mungkin, dan Dias bahkan berjalan berjauhan dari mereka berdua. Aku selalu jujur, bicara apa adanya, dan mereka tahu itu dengan sangat jelas, tapi kenapa bahkan sikap mereka seperti itu, kenapa harus sembunyi-sembunyi. Ini bukan kesalah pahaman, aku tahu dengan pasti mata mereka berdua. Itu benar-benar buruk bagiku, bagaimana bisa aku mentoleransi hal-hal seperti itu, jadi apakah aku harus juga percaya mereka seperti mereka mempercayaiku, membicarakan hal-hal yang mengganjal pikiran mereka, Rima dan Dias pada akhirnya sama saja.
Padahal bukannya keinginanku sangat sederhana, hanya Petra. Menyukai dia apa salah?
Aku menyudahi ceritaku, tentu bukan dengan kata-kata puitis. Itu hanya penyair yanga ada di isi hatiku, tak akan aku keluarkan lewat mulut apalagi didepan Ragil, berharap dia menertawakanku, yang benar saja. Simple saja,
“oh..benar, menyukai itu menyebalkan..dan ini pertama kalinya, gue harap ini tidak terjadi saja”, ujuarku mengakhiri.
Pada akhirnya aku cerita semuanya, tentang Rima, Dias, Riffi, Petra dan semua yang membuat aku merasa kepalaku semakin berat saja, entah kenapa rasanya nyaman sekali, padahal ini hanya rest area SPBU, sebaris bangku dengan beberapa pohon mangga yang tidak terlalu tinggi meskipun cukup teduh, ini cukup baik, dan eskrim yang aku rasa tadinya hambar ternyata enak. Sepertinya lidah juga punya korelasi yang baik dengan suasana hati.
“itu sebabnya aku narik tangan kamu tadi”, ujarnya tiba-tiba.
“emang lo tau?”, tanyaku penasaran.
“enggak, Cuma perasaan aja, tapi ..aku tahu kamu bukan orang yang cengeng..”..ia melajutkan omongannya..perkataanya yang membuat aku terdiam cukup lama.
“kamu tahu kenapa aku gak banyak bicara dan sok peduli, ini masalahmu dan cuma kamu sendiri yang tahu apa yang harus kamu lakukan, jadi kenapa orang lain harus sok peduli dan pura-pura cemas, toh pada akhirnya hanya akan membuatmu terlihat menyedihkan. Tanpa aku menunjukkan wajah pura-pura pedulipun kamu baik-baik aja, jadi kenapa harus bergantung pada orang lain, kamu terlalu kuat untuk bertindak cengeng..”
“Ragil…’, kataku memotong pembicaraan..
“kalau kamu memang suka Petra, ya bicara apa adanya..kamu jujur bukan, jadi jujur saja sampai akhir..”, lanjutnya sambil tersenyum.
“Ragil, itu tadi beneran lo kan yang bicara?..”, tanyaku keheranan..
“kenapa?”
“karena gue selalu berfikir lo itu robot yang sama sekali gak peka..”
“hehe…”, Ragil tertawa renyah,..”ayo pulang..kayaknya udah cukup lama kita istirahat, nenangin isi perutmu yang penuh sama bakso”, candanya sambil beranjak pergi, menghidupkan mesin motornya.
“hei Ragil…”,
“ Apa?”, jawabnya kemudian..
“Sorry, harusnya gue panggil lu kakak…lu bahkan seumuran sama kakak gue..gue rasa itu cukup sopan”
Kak Ragil?, aku tersenyum geli.
==

Tidak ada komentar:

Posting Komentar