Chapter 12. His
letter
Dear yong,
anak kecil masa laluku
Apa kabar?, lucu ya rasanya nulis surat kayak gini,
beda generasinya. tapi kamu sendiri yang bilang kamu suka baca surat. Aku gak
tau kamu masih suka atau enggak, tapi aku putuskan untuk menulisnya.
Jangan tertawa baca suratku, aku sendiri bingung apa
aku harus ketawa, sedih, marah atau bagaimana meluapkan emosiku. Tapi, bisakah
kita balik sebentar ke masa lalu?. Sebentar saja.
Kamu selalu nanya kenapa namamu Yong?, masih bisa
mengingatkah?..itu nama panggilan dariku, dulu saat kamu ingusan. Saat aku masih
belajar membaca, enta kenapa aku selalu salah mengeja namamu, Moyong..dan
panggilan Yong selalu keluar dari mulutku, toh kamu juga gak pernah marah, dan
selalu menoleh saat aku memanggilmu Yong, anak kecil tahu apa?..
Apa kamu ketawa?..Aku selalu tersenyum mengingatnya.
Ini basa basi yang buruk ya, lama sekali aku gak
liat kamu, dan harus aku akui kamu berubah banyak, berubah jadi anak cantik
dengan gaya serampangannya. Apa aku mesti bicara jujur?. Mulutku benar-benar
kaku melihat kamu setelah sejak awal kita ketemu, kamu tahu rasanya nervous
akut?. Itu yang membuat aku gak berani untuk menyapa dan bicara ramah denganmu.
Aku merasa konyol, saat kamu menggerutu, menganggapku robot.
Masih menertawakanku?
Maaf untuk waktu kemarin yang mungkin tak terlalu
menyenangkan, gimana bisa aku bersikap baik kalau aku sendiri semakin hari
semakin gugup melihat kamu. Benar, butuh waktu yang lama bahkan untuk sekedar
menyapa. Tapi asal kamu tahu, aku selalu melihat kamu, melihat dengan seksama. Meskipun
akhirnya semuanya mencair, kamu tau, itu adalah hari-hari paling menyenangkan
dalam hidupku. Hei aku merasa kita dekat bukan?
Masih membaca?.. aku harap.
Yong, aku bicara jujur. Aku menyukaimu, sejak dulu
mungkin. Menyukai gadis kecil yang cinta mati pada gambar Saturnus, yang terus
memandang lingkaran cincinnya yang bahkan otaknya sendiri belum tahu apa itu. Apa
kamu masih menyukainya?.aku selalu mengingatnya. Apa aku bisa jadi saturnus
yang kamu kagumi?.
Tapi nyatanya saturnus itu jauh, aku bahkan tak bisa
menggapainya. Kamu tahu rasanya saat kamu bilang kamu suka Petra?. Itu
menyedihkan untukku, kenapa waktu kita tidak tepat?, kenapa kamu datang saat
hati kamu memikirkan yang lain? Aku ingin menggantinya, tapi sepertinya kita
berjalan di orbit masing-masing. Bisakah aku menyebrang ke orbitmu?.
Menyakitkan melihat kamu bersedih, meskipun menyenangkan menghabiskan waktu
untuk menghiburmu.
Rasanya dadaku sesak..
Yong, aku selalu bilang jujurlah sampai akhir. Tapi
nyatanya aku sendiri tak bisa. Saat melihat kamu, aku ingin berlari ke arahmu,
menuju kamu, sayangnya itu gak mungkin. Orang lain baru memasukkan namaku di
hatinya, sebesar apapun rasa sayang aku ke kamu dan selama apapun itu, gak
mungkin aku membuang orang lain dengan tiba-tiba, aku tau, kamu tentu lebih ngerti
perasaan perempuan.
Apa yang aku lakukan ini salah?, ingin rasanya aku
berubah menjadi egois dan menggenggam kamu.
Kenapa waktu kita tidak tepat?, aku selalu mengutuki
itu saat melihat foto kecilmu dulu, aku menyimpannya, selalu. Bagiku gadis
kecil itu tak pernah berubah.
Masih ingat permintaanku?, aku harap kamu
mengingatnya. Aku menunggu itu.
Aku menyayangimu..robot ini diprogram untuk selalu
memikirkanmu, bisakah suatu hari nanti kita bertemu disaat yang tepat?. Aku
menunggunya, selalu. Untuk seseorang bernama Mayang.
PS : hei, apa kamu tau betapa sayangnya simbah sama
kamu, dia bahkan menyukaimu melebihi aku, membicarakanmu terus-menerus, maukah
kamu jadi cucunya?..
Aku berharap ia.
Still waiting you,
Ragil
==
Kring, ponselku
bergetar, seseorang menghubungiku dengan suara riangnya.
“halo…”, ujarku
menjawab panggilan itu,
“sayang,
ayo..aku udah nunggu dibawah..hari ini kamu ke bandara, kamu gak lupa kan kalo
hari ini kamu flight ke jepang?”,
tanya suara itu kemudian.
“ ia aku
turun..tunggu sebentar..”, jawabku sambil menutup telepon.
==
Aku tersenyum,
melipat surat beberapa tahun lalu..melipat pesannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar