Chapter 14.
Previous love story
Sedikit aneh
membicarakan masa lalu, beberapa orang mungkin bertanya- tanya bagaimana dengan
Petra?, bagaimana kelanjutan Ragil?, seolah ceritaku terputus begitu saja dan
tiba-tiba aku muncul bertahun-tahun kemudian dengan cerita berbeda. Kehidupan
yang terlalu muluk, tapi pada dasarnya masa lalu tak pernah hilang, selalu ada
penghubung antara kehidupan lalu dengan saat ini, saat dimana aku berjalan
dengan cerita yang baru. Tidak seperti itu, masa lalu yang mengantarku menemui
ceritaku saat ini, seperti sebuah buku, aku hanya memulai jejak kakiku di buku
baru, setelah halaman terakhir bukuku yang dulu penuh dengan coretan yang aku
tulis, hingga tak ada tempat untuk aku menulis lagi.
---
Ini November
yang dingin, di Negeri sakura. Suhu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya
dinegeri tropisku tercinta, paling-paling hujan deras yang disertai angin
kencang, tapi untuk memegang butiran-butiran salju, jangan harap bisa
melakukannya, kecuali di puncak pegunungan Cartenz atau mungkin Jayawijaya di
Papua sana. Yang jelas salju tak seindah seperti yang terlihat, salju itu
dingin, beku. Auranya menusuk ke tulang sumsumku.
Course baru dimulai dua hari lagi, baik sekali
memberiku sedikit waktu istirahat dan beradaptasi dengan perubahan cuaca yang
ekstrim. Aku sempat melihat tempat pelatihan akan dilaksanakan bersama
rombongan peserta dari berbagai Negara, bercakap- cakap dengan campuran bahasa
isyarat, meski hampir semua peserta bisa berbahasa Inggris, toh pihak
penyelenggara course sendiri tulen
menggunakan bahasa ibunya, yang membuat kami terbata-bata menjawab dalam bahasa
Jepang. Kami tertawa mengingat kekonyolan kami bicara dengan logat yang aneh,
aku tersenyum sambil melirik Inge, peserta course
disampingku. Teman yang bahasanya paling aku mengerti, Bahasa Indonesia.
“Hei, mau
jalan-jalan”, ajakku pada Inge setelah perkenalan sesama peserta yang
menyenangkan tadi. Malam ini memang dingin, tapi rasanya malah membuatku makin
ingin menjejakkan kakiku ditengah jalanan yang memutih tertutup salju, dan
deretan pepohonan yang tak berdaun.
“Oh, Yong..no
thanks, gue lebih milih tidur digulung selimut daripada ngebeku kedinginan”,
jawabnya kemudian. Aku tersenyum.
“oke..aku keluar
dulu, jalan-jalan sekitar dorm aja
sih”, ujarku kemudian. Aku memakai jaket tebal,syal dan penutup kepala yang
hangat. Perlengkapan musim dingin yang sengaja ku beli sebagai persiapan atas
saran kakakku, Nanda yang masih aja petakilan walaupun udah punya istri yang baik,
beruntungnya dia.
“ooh..benar-benar
dingin..”, runtukku dalam hati. Aku menjejakkan langkah-langkah kakiku yang
berat, tapak-tapak sepatu boot mengekor dibelakangku dengan rapi, udara dingin
memang membuat perut mudah lapar, setelah beberapa saat aku memutuskan untuk
singgah di sebuah minimarket kecil untuk makan ramen, makanan paling cocok
dimakan ditengah hawa dingin yang menusuk.
Aku memesan kopi
dan mie ramen instan, penjaga toko sepertinya mengerti maksudku meski aku
bicara dengan bahasa isyarat. Benar, bahasa jepangku yang masih buruk membuatku
merasa konyol untuk bercakap-cakap dengan mereka, meski aku sedikit paham apa
yang mereka bicarakan.
“arigatou
gozaimasu..”, ucapku kemudian saat ramen instanku sudah siap, aku membawanya ke
bangku yang ada di ujung toko, Minimarket disini memang menyediakan tempat
untuk menikmati makanan yang kita beli, cukup praktis karena aku tidak pergi
jauh jauh hanya untuk makan.
“benar-benar
bagus”, gumamku dalam hati. Aku melihat dengan jelas jalanan didepanku,
salju-salju yang turun perlahan, dan langit hitamnya yang bersih, orang-orang
berlalu lalang, pemandangan sederhana yang membuatku nyaman. Selesai
menghangatkan perut, kuputuskan untuk berjalan lagi.
Sudah sejauh
ini. Ah, kuputuskan untuk kembali ke dorm,
sebelum malam larut, udara makin dingin dan sebelum Inge berfikir bahwa aku
kesasar. Aku menginjakkan langkahku di jejak sebelumnya. Tiap jejaknya
membawaku kembali ke tahun-tahunku sebelumnya, ke masa itu. Sebuah masa di
waktu yang lalu.
---
“Kamu yakin?”..
tanyanya kemudian.
Aku mengiakan,
Oh God, rasanya sangat memalukan, tapi memang kata-kata itu mengalir begitu
saja dari mulutku. Am I wrong?..thats
stupid.
Pria itu seolah
tak percaya, setelah setahun menunggu dengan sabar, sangat-sangat sabar
akhirnya dia mendapat jawaban yang tak akan ia lupakan sepanjang hidupnya.
“Kenapa Dhik,
gak percaya?”, tanyaku kemudian. Aku melihatnya menggelengkan kepala dengan
wajah penuh kejutan yang tidak bisa aku gambarkan, bibirnya bahkan belum ia
tutup rapat sejak tadi, aku tersenyum simpul.
“Ini bukan
bercandaanmu kan?”, tanyanya memastikan, sepertinya dia seolah takut bahwa ini
adalah jokes garing yang aku lancarkan, benar hanya untuk menggodanya.
“absolutely
bukan, kamu pikir aku becanda sama keputusan hidupku?”, jawabku kemudian, ini
memang bukan hal yang mudah bahkan untuk diriku sendiri, tapi entah mengapa
jantungku ikut berdegup kencang melihat ekspresi wajahnya, sejak kapan awalnya
aku tak tahu, yang jelas dia membuatku perasaanku ini menjadi sederhana.
“oh, yong..itu
gila..kepalaku mau meledak rasanya, hari ini aku gak nganter kamu balik, aku
langsung pulang kerumah, dan menjauhi kantor sebelum orang-orang berpikir aku
sinting”, jawabnya kemudian.
“bye..”, ujarnya
kemudian. Aku melongo saat dia benar-benar pergi dari hadapanku saat itu juga,
langkah kakinya riang seakan meloncat-loncat kegirangan. Aku bahkan tidak bisa
menahan senyumku sendiri, dia mengejar dengan sabar dalam waktu yang lama, dan
setelah mendapat jawabannya dia pergi dengan waktu yang sangat singkat. Cuma
Dhika yang bisa begini, benar-benar hanya dia.
Aku memang telah
mengambil sebuah keputusan, yang aku yakin tak akan aku sesali, keputusan untuk
mengatakan kata yang pertama kalinya aku ucapkan didepannya.
“I like you
Dhika, aku butuh kamu dalam hidupku”.
Kata yang
membuatnya gila, dan membuatku sinting.
Bayangannya mengabur saat aku menjejakkan
langkah-langkahku lebih jauh ke masa itu
----
Siang nanti
pernikahan kakaku, Nanda. Meski aku tetap memanggilnya Dudung. Semua orang
bahagia tentu saja, Mamah, Bapak,keluarga besarku, keluarga kak Resti calon
kakak iparku, dan semua orang yang sibuk dengan acara ini. Keluarga simbahpun
akan datang pagi ini, mataku mencari-cari sosok seseorang dengan punggung yang
tak bisa aku lupakan. Apakah dia akan datang?.
“Heh bocah,
setelah bertahun-tahun masih aja mikirin Ragil?”, seseorang menjewer telingaku
pelan, seseorang yang hafal betul apa yang aku pikirkan, teman ributku, calon
mempelai pria yang sleboran, Nanda. Aku tak bergeming, menghela nafas,
melihatnya dengan tatapan datar.
“ia,..”, jawabku
pelan.
“inget jangan
ngerusak mood hari ini, meskipun nanti lo ketemu sama Ragil, masa lu mau
sedih-sedihan di hari bahagia gue, udah cantik kayak gini mukanya yang seger
dong, tuh ditungguin Angga diluar, temen-temenmu juga pada nunggu, Rima, Dias
sama gerombolannya.”, katanya sambil menepuk-nepuk pipiku, kebiasaannya dari
dulu.
“Atau lu mau gue
ngomong ke Ragil langsung soal elo?.”, tanyanya kemudian.
“Jangan, gila
apa..dia itu punya cewek tau..sembarangan banget”, jawabku menolak usulnya. Ini
mah cari gara-gara namanya.
Ia menyeretku
keluar, aku mengikutinya. Angga
tersenyum ke arahku, aku balik membalasnya. Laki-laki itu teman kuliah kakakku
dulu, sesorang yang dikenalkan kakakku untuk mengusir bayangan Ragil dalam
pikiranku, Nanda bilang, kalo aku gak mau terbuka buat ngenal orang lain gimana
aku bisa menghapus keberadaan Ragil di otakku. Mungkin ada benarnya juga.
Hubungan kami
baik, meskipun belum sampai pada tahap apapun, Angga juga datang saat aku
wisuda meskipun peran pendamping wisudaku tetap aku serahkan pada partner ributku
Nanda. Menyukai itu sulit, itulah sebabnya membiarkan dia lebih mudah aku
lakukan.
“Kemana aja,
tadi temen-temenmu ada disini?”, tanya Angga kemudian.
“liat calon
pengentinnya”, jawabku mencari alasan. Masa ia aku mesti bicara jujur, manusia
mana yang tega menggunakan prinsip jujur ditengah situasi macam ini.
Acara sudah
dimulai. Aku mengikutinya dengan seksama, Angga memegang tanganku erat, sangat
tidak nyaman, ingin rasanya aku berkelit dan melepaskan genggamannya, tapi
tubuhku terlalu kaku, saat ujung mataku bertemu dengan sorot mata yang aku
hafal. Mata kami saling bertatap, Ragil.
----
“Mau bertahan
sampe kapan, apa lo mau nyoba nerima Angga?”
“Gue gak
tau..gue gak bisa”,ujarku sambil menghambur ke pelukan dua sahabat setiaku,
Rima dan Dias.
----
Jejak langkahku mulai terhapus oleh salju salju yang turun, aku menarik nafas panjang, mataku mulai berkaca-kaca.
Jejak langkahku mulai terhapus oleh salju salju yang turun, aku menarik nafas panjang, mataku mulai berkaca-kaca.
Simbah
meninggal….
Sebuah kabar
yang membuatku tersentak. Aku bergegas menuju ke rumahnya, membolos dua mata
kuliah hari ini. Pikiranku berkecamuk, mataku tak bisa aku tahan lagi. Aku
menangis lirih.
Semua orang
berkumpul di rumah tua yang punya kenangan ini, Ragil mengambil penerbangan
tercepat dari Jakarta ke Jogja, anak-anak serta cucunya berkumpul, keluargaku
dalam perjalanan ke Jogja, bahkan Myapun datang.
Aku terdiam, aku
memang bukan cucunya, bukan keluarga intinya, tapi ada kenangan dimana aku
bahkan tak bisa melupakan itu sedetikpun, kenangan yang membuatku menyukainya
lebih dari apapun. Dia tetap nenek yang aku sayangi.
Aku melihat
mereka, Ragil yang menahan air matanya,
Mya yang menggenggam tangannya erat, Aku memejamkan mataku. Rasanya aku ingin
berlari dari sini, bagaimana mungkin terlintas pikiran seperti ini dalam
keadaan duka. Aku beringsut menjauh, menyepi.
Begitulah
perjalanan manusia, suatu saat nanti jejaknya akan terhapus takdir.
Simbah,
bagaimana kabarmu disana…aku kangen.
Dan aku measih menjejakkan langkah-langkah baruku
diatas hamparan salju.
---
“ lu bahkan
lebih keren daripada kakak gue sendiri, gue suka sama lu..sangat-sangat suka”,
kataku saat itu.
Dia tersenyum.
Aku benar-benar
harus belajar mengerti perasaan. Ada hal-hal yang bahkan tak bisa aku pikir
dengan nalar yang selama ini aku banggakan. Kalo suka ya suka, kenapa mesti
dipersulit pikirku saat itu. Ya aku suka cowok itu, Petra.
Aku menjejakkan
tahun terakhirku di SMA bersama dia, ditengah hubunganku yang tidak terlalu
baik dengan Rima dan Dias, alasannya tak perlu aku bicarakan lagi. Kami masih
berteman baik, meski tak sebaik dulu, seperti ada gap kasat mata yang membuat
kami canggung.
Aku dan Petra
menghabiskan banyak waktu yang menyenangkan. Dia pacarku?, mungkin ia atau
mungkin saja tidak, aku hanya suka dia, jadi kenapa dipersulit, dia juga
terbuka menerimaku dengan baik. Kadang-kadang aku heran kenapa hubungan
orang-orang terlihat sangat rumit, bukankah sederhana itu menyenangkan.
Dia menjagaku
dengan baik, kami hangout bersama, belajar bersama, main, menghabiskan waktu
yang menyenangkan dengan hobby kami yang sama, pecinta komik, anime, manga dan
sebangsanya meskipun aku sedikit beda selera musik dengannya. Kpop memang sudah
mendarah daging sejak dulu di hatiku.
“ ini semua
sketsaku?”, ujarnya sambil tersenyum saat aku memperlihatkan sketsa-sketsa yang
aku buat sejak dulu, sketsa yang sudah lama tak sentuh semenjak kepulanganku
dari liburan dulu.
“ia..aneh ya..”,
tanyaku setengah malu, melihat ekspresinya yang tersenyum simpul.
“bagus
kali..mirip sama aslinya,, bakat kamu keren..jadi komikus aja sekalian”,
jawabnya sambil bergurau.
Aku tertawa,
tapi fikiranku tertuju ke hal lain, sebuah surat yang terselip di buku
sketsaku, dan sketsa wajah seseorang yang separuh jadi. Sangat mengganggu,
benar-benar mengangguku, kenapa perasaanku sangat lain?. Aku bahkan tak bisa
memahami diriku sendiri.
---
“Petra, apa gue
salah?”, pertanyaanku yang dijawab dengan senyumnya yang manis.
“ Kamu itu gak
salah, ini wajar aja, yang salah adalah bahwa kamu bahkan gak ngerti isi
pikiranmu sendiri, paham’, jawabnya kemudian.
“tapi itu gak
berarti gue gak suka lo, gue sangat suka lo, tapi kenapa pikiranku ke orang itu
beda, gue bahkan gak tahu sebenarnya gue ini kenapa”..
“suka sama cinta
itu beda Yong,..ada saat dimana kamu mesti mulai berfikir tentang itu, gak
sesimple yang kita duga lho”, jawab Petra sok bijak, aku pura-pura mencibir.
“tapi lo gak
marah sama gue?”, tanyaku lagi. Petra tertawa renyah,
“Ia, aku pengen
banget marah sama kamu saat kamu cerita jujur bahwa ada orang yang membuat
pikiranmu gak jernih, tapi aku gak bisa, aku gak bisa marah sama kamu, kamu itu
jujur, dan sikap innocent kamu bahkan membuat aku beneran sangat nyaman”.
“gue gak
ngerti?”
“ aku bahkan
selalu berfikir kalo kamu itu adekku, ini aneh, aku bahkan bisa melakukan
banyak hal sama kamu, dan semakin lama aku kenal kamu aku bahkan gak bisa
memposisikan aku sendiri untuk suka kamu, aku terlalu sayang anak polos ini”,
“jadi..?”
“ aku seneng,
you’re truly my cute sister”
“love you my
best brother, lu bahkan lebih keren dari kakak gue sendiri”
“Jadi, apa lu masih suka sama Rima?”, tanyaku
kemudian.
“hmm…mungkin,
kalopun ia, bakal ada jalannya sendiri, dan itu bukan karena kamu, kalopun
bukan, masa depan terlalu sulit buat ditebak”, jawabannya yang menggantung, aku
menangguk mengiakan. Benar, selalu ada jalan yang tak pernah kita duga yang
diberikan Tuhan.
Kami berdua
tersenyum senang, ada perasaan lega yang menjalar dihatiku, seperti sebuah
perasaan saat aku menghirup aroma teh.
Aku tersenyum, Inge sudah tertidur pulas, aku
memejamkan mata, esok ada jejak-jejak langkah baru yang akan aku lalui.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar