Rabu, 25 April 2012

Grandmarvelous -A thing called Fate- 14


Chapter 14. Previous love story
Sedikit aneh membicarakan masa lalu, beberapa orang mungkin bertanya- tanya bagaimana dengan Petra?, bagaimana kelanjutan Ragil?, seolah ceritaku terputus begitu saja dan tiba-tiba aku muncul bertahun-tahun kemudian dengan cerita berbeda. Kehidupan yang terlalu muluk, tapi pada dasarnya masa lalu tak pernah hilang, selalu ada penghubung antara kehidupan lalu dengan saat ini, saat dimana aku berjalan dengan cerita yang baru. Tidak seperti itu, masa lalu yang mengantarku menemui ceritaku saat ini, seperti sebuah buku, aku hanya memulai jejak kakiku di buku baru, setelah halaman terakhir bukuku yang dulu penuh dengan coretan yang aku tulis, hingga tak ada tempat untuk aku menulis lagi.
---
Ini November yang dingin, di Negeri sakura. Suhu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dinegeri tropisku tercinta, paling-paling hujan deras yang disertai angin kencang, tapi untuk memegang butiran-butiran salju, jangan harap bisa melakukannya, kecuali di puncak pegunungan Cartenz atau mungkin Jayawijaya di Papua sana. Yang jelas salju tak seindah seperti yang terlihat, salju itu dingin, beku. Auranya menusuk ke tulang sumsumku.
Course baru dimulai dua hari lagi, baik sekali memberiku sedikit waktu istirahat dan beradaptasi dengan perubahan cuaca yang ekstrim. Aku sempat melihat tempat pelatihan akan dilaksanakan bersama rombongan peserta dari berbagai Negara, bercakap- cakap dengan campuran bahasa isyarat, meski hampir semua peserta bisa berbahasa Inggris, toh pihak penyelenggara course sendiri tulen menggunakan bahasa ibunya, yang membuat kami terbata-bata menjawab dalam bahasa Jepang. Kami tertawa mengingat kekonyolan kami bicara dengan logat yang aneh, aku tersenyum sambil melirik Inge, peserta course disampingku. Teman yang bahasanya paling aku mengerti, Bahasa Indonesia.
“Hei, mau jalan-jalan”, ajakku pada Inge setelah perkenalan sesama peserta yang menyenangkan tadi. Malam ini memang dingin, tapi rasanya malah membuatku makin ingin menjejakkan kakiku ditengah jalanan yang memutih tertutup salju, dan deretan pepohonan yang tak berdaun.
“Oh, Yong..no thanks, gue lebih milih tidur digulung selimut daripada ngebeku kedinginan”, jawabnya kemudian. Aku tersenyum.
“oke..aku keluar dulu, jalan-jalan sekitar dorm aja sih”, ujarku kemudian. Aku memakai jaket tebal,syal dan penutup kepala yang hangat. Perlengkapan musim dingin yang sengaja ku beli sebagai persiapan atas saran kakakku, Nanda yang masih aja petakilan walaupun udah punya istri yang baik, beruntungnya dia.
“ooh..benar-benar dingin..”, runtukku dalam hati. Aku menjejakkan langkah-langkah kakiku yang berat, tapak-tapak sepatu boot mengekor dibelakangku dengan rapi, udara dingin memang membuat perut mudah lapar, setelah beberapa saat aku memutuskan untuk singgah di sebuah minimarket kecil untuk makan ramen, makanan paling cocok dimakan ditengah hawa dingin yang menusuk.
Aku memesan kopi dan mie ramen instan, penjaga toko sepertinya mengerti maksudku meski aku bicara dengan bahasa isyarat. Benar, bahasa jepangku yang masih buruk membuatku merasa konyol untuk bercakap-cakap dengan mereka, meski aku sedikit paham apa yang mereka bicarakan.
“arigatou gozaimasu..”, ucapku kemudian saat ramen instanku sudah siap, aku membawanya ke bangku yang ada di ujung toko, Minimarket disini memang menyediakan tempat untuk menikmati makanan yang kita beli, cukup praktis karena aku tidak pergi jauh jauh hanya untuk makan.
“benar-benar bagus”, gumamku dalam hati. Aku melihat dengan jelas jalanan didepanku, salju-salju yang turun perlahan, dan langit hitamnya yang bersih, orang-orang berlalu lalang, pemandangan sederhana yang membuatku nyaman. Selesai menghangatkan perut, kuputuskan untuk berjalan lagi.
Sudah sejauh ini. Ah, kuputuskan untuk kembali ke dorm, sebelum malam larut, udara makin dingin dan sebelum Inge berfikir bahwa aku kesasar. Aku menginjakkan langkahku di jejak sebelumnya. Tiap jejaknya membawaku kembali ke tahun-tahunku sebelumnya, ke masa itu. Sebuah masa di waktu yang lalu.
---
“Kamu yakin?”.. tanyanya kemudian.
Aku mengiakan, Oh God, rasanya sangat memalukan, tapi memang kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulutku. Am I wrong?..thats stupid.
Pria itu seolah tak percaya, setelah setahun menunggu dengan sabar, sangat-sangat sabar akhirnya dia mendapat jawaban yang tak akan ia lupakan sepanjang hidupnya.             
“Kenapa Dhik, gak percaya?”, tanyaku kemudian. Aku melihatnya menggelengkan kepala dengan wajah penuh kejutan yang tidak bisa aku gambarkan, bibirnya bahkan belum ia tutup rapat sejak tadi, aku tersenyum simpul.
“Ini bukan bercandaanmu kan?”, tanyanya memastikan, sepertinya dia seolah takut bahwa ini adalah jokes garing yang aku lancarkan, benar hanya untuk menggodanya.
“absolutely bukan, kamu pikir aku becanda sama keputusan hidupku?”, jawabku kemudian, ini memang bukan hal yang mudah bahkan untuk diriku sendiri, tapi entah mengapa jantungku ikut berdegup kencang melihat ekspresi wajahnya, sejak kapan awalnya aku tak tahu, yang jelas dia membuatku perasaanku ini menjadi sederhana.
“oh, yong..itu gila..kepalaku mau meledak rasanya, hari ini aku gak nganter kamu balik, aku langsung pulang kerumah, dan menjauhi kantor sebelum orang-orang berpikir aku sinting”, jawabnya kemudian.
“bye..”, ujarnya kemudian. Aku melongo saat dia benar-benar pergi dari hadapanku saat itu juga, langkah kakinya riang seakan meloncat-loncat kegirangan. Aku bahkan tidak bisa menahan senyumku sendiri, dia mengejar dengan sabar dalam waktu yang lama, dan setelah mendapat jawabannya dia pergi dengan waktu yang sangat singkat. Cuma Dhika yang bisa begini, benar-benar hanya dia.
Aku memang telah mengambil sebuah keputusan, yang aku yakin tak akan aku sesali, keputusan untuk mengatakan kata yang pertama kalinya aku ucapkan didepannya.
“I like you Dhika, aku butuh kamu dalam hidupku”.
Kata yang membuatnya gila, dan membuatku sinting.
Bayangannya mengabur saat aku menjejakkan langkah-langkahku lebih jauh ke masa itu
----
Siang nanti pernikahan kakaku, Nanda. Meski aku tetap memanggilnya Dudung. Semua orang bahagia tentu saja, Mamah, Bapak,keluarga besarku, keluarga kak Resti calon kakak iparku, dan semua orang yang sibuk dengan acara ini. Keluarga simbahpun akan datang pagi ini, mataku mencari-cari sosok seseorang dengan punggung yang tak bisa aku lupakan. Apakah dia akan datang?.
“Heh bocah, setelah bertahun-tahun masih aja mikirin Ragil?”, seseorang menjewer telingaku pelan, seseorang yang hafal betul apa yang aku pikirkan, teman ributku, calon mempelai pria yang sleboran, Nanda. Aku tak bergeming, menghela nafas, melihatnya dengan tatapan datar.
“ia,..”, jawabku pelan.
“inget jangan ngerusak mood hari ini, meskipun nanti lo ketemu sama Ragil, masa lu mau sedih-sedihan di hari bahagia gue, udah cantik kayak gini mukanya yang seger dong, tuh ditungguin Angga diluar, temen-temenmu juga pada nunggu, Rima, Dias sama gerombolannya.”, katanya sambil menepuk-nepuk pipiku, kebiasaannya dari dulu.
“Atau lu mau gue ngomong ke Ragil langsung soal elo?.”, tanyanya kemudian.
“Jangan, gila apa..dia itu punya cewek tau..sembarangan banget”, jawabku menolak usulnya. Ini mah cari gara-gara namanya.
Ia menyeretku keluar, aku mengikutinya.  Angga tersenyum ke arahku, aku balik membalasnya. Laki-laki itu teman kuliah kakakku dulu, sesorang yang dikenalkan kakakku untuk mengusir bayangan Ragil dalam pikiranku, Nanda bilang, kalo aku gak mau terbuka buat ngenal orang lain gimana aku bisa menghapus keberadaan Ragil di otakku. Mungkin ada benarnya juga.
Hubungan kami baik, meskipun belum sampai pada tahap apapun, Angga juga datang saat aku wisuda meskipun peran pendamping wisudaku tetap aku serahkan pada partner ributku Nanda. Menyukai itu sulit, itulah sebabnya membiarkan dia lebih mudah aku lakukan.
“Kemana aja, tadi temen-temenmu ada disini?”, tanya Angga kemudian.
“liat calon pengentinnya”, jawabku mencari alasan. Masa ia aku mesti bicara jujur, manusia mana yang tega menggunakan prinsip jujur ditengah situasi macam ini.
Acara sudah dimulai. Aku mengikutinya dengan seksama, Angga memegang tanganku erat, sangat tidak nyaman, ingin rasanya aku berkelit dan melepaskan genggamannya, tapi tubuhku terlalu kaku, saat ujung mataku bertemu dengan sorot mata yang aku hafal. Mata kami saling bertatap, Ragil.
----
“Mau bertahan sampe kapan, apa lo mau nyoba nerima Angga?”
“Gue gak tau..gue gak bisa”,ujarku sambil menghambur ke pelukan dua sahabat setiaku, Rima dan Dias.    
----
Jejak langkahku mulai terhapus oleh salju salju yang turun, aku menarik nafas panjang, mataku mulai berkaca-kaca.   
Simbah meninggal….
Sebuah kabar yang membuatku tersentak. Aku bergegas menuju ke rumahnya, membolos dua mata kuliah hari ini. Pikiranku berkecamuk, mataku tak bisa aku tahan lagi. Aku menangis lirih.
Semua orang berkumpul di rumah tua yang punya kenangan ini, Ragil mengambil penerbangan tercepat dari Jakarta ke Jogja, anak-anak serta cucunya berkumpul, keluargaku dalam perjalanan ke Jogja, bahkan Myapun datang.
Aku terdiam, aku memang bukan cucunya, bukan keluarga intinya, tapi ada kenangan dimana aku bahkan tak bisa melupakan itu sedetikpun, kenangan yang membuatku menyukainya lebih dari apapun. Dia tetap nenek yang aku sayangi.
Aku melihat mereka,  Ragil yang menahan air matanya, Mya yang menggenggam tangannya erat, Aku memejamkan mataku. Rasanya aku ingin berlari dari sini, bagaimana mungkin terlintas pikiran seperti ini dalam keadaan duka. Aku beringsut menjauh, menyepi.
Begitulah perjalanan manusia, suatu saat nanti jejaknya akan terhapus takdir.
Simbah, bagaimana kabarmu disana…aku kangen.
Dan aku measih menjejakkan langkah-langkah baruku diatas hamparan salju.
---
“ lu bahkan lebih keren daripada kakak gue sendiri, gue suka sama lu..sangat-sangat suka”, kataku saat itu.
Dia tersenyum.
Aku benar-benar harus belajar mengerti perasaan. Ada hal-hal yang bahkan tak bisa aku pikir dengan nalar yang selama ini aku banggakan. Kalo suka ya suka, kenapa mesti dipersulit pikirku saat itu. Ya aku suka cowok itu, Petra.
Aku menjejakkan tahun terakhirku di SMA bersama dia, ditengah hubunganku yang tidak terlalu baik dengan Rima dan Dias, alasannya tak perlu aku bicarakan lagi. Kami masih berteman baik, meski tak sebaik dulu, seperti ada gap kasat mata yang membuat kami canggung.
Aku dan Petra menghabiskan banyak waktu yang menyenangkan. Dia pacarku?, mungkin ia atau mungkin saja tidak, aku hanya suka dia, jadi kenapa dipersulit, dia juga terbuka menerimaku dengan baik. Kadang-kadang aku heran kenapa hubungan orang-orang terlihat sangat rumit, bukankah sederhana itu menyenangkan.
Dia menjagaku dengan baik, kami hangout bersama, belajar bersama, main, menghabiskan waktu yang menyenangkan dengan hobby kami yang sama, pecinta komik, anime, manga dan sebangsanya meskipun aku sedikit beda selera musik dengannya. Kpop memang sudah mendarah daging sejak dulu di hatiku.
“ ini semua sketsaku?”, ujarnya sambil tersenyum saat aku memperlihatkan sketsa-sketsa yang aku buat sejak dulu, sketsa yang sudah lama tak sentuh semenjak kepulanganku dari liburan dulu.
“ia..aneh ya..”, tanyaku setengah malu, melihat ekspresinya yang tersenyum simpul.
“bagus kali..mirip sama aslinya,, bakat kamu keren..jadi komikus aja sekalian”, jawabnya sambil bergurau.
Aku tertawa, tapi fikiranku tertuju ke hal lain, sebuah surat yang terselip di buku sketsaku, dan sketsa wajah seseorang yang separuh jadi. Sangat mengganggu, benar-benar mengangguku, kenapa perasaanku sangat lain?. Aku bahkan tak bisa memahami diriku sendiri.
---
“Petra, apa gue salah?”, pertanyaanku yang dijawab dengan senyumnya yang manis.
“ Kamu itu gak salah, ini wajar aja, yang salah adalah bahwa kamu bahkan gak ngerti isi pikiranmu sendiri, paham’, jawabnya kemudian.
“tapi itu gak berarti gue gak suka lo, gue sangat suka lo, tapi kenapa pikiranku ke orang itu beda, gue bahkan gak tahu sebenarnya gue ini kenapa”..
“suka sama cinta itu beda Yong,..ada saat dimana kamu mesti mulai berfikir tentang itu, gak sesimple yang kita duga lho”, jawab Petra sok bijak, aku pura-pura mencibir.
“tapi lo gak marah sama gue?”, tanyaku lagi. Petra tertawa renyah,
“Ia, aku pengen banget marah sama kamu saat kamu cerita jujur bahwa ada orang yang membuat pikiranmu gak jernih, tapi aku gak bisa, aku gak bisa marah sama kamu, kamu itu jujur, dan sikap innocent kamu bahkan membuat aku beneran sangat nyaman”.
“gue gak ngerti?”
“ aku bahkan selalu berfikir kalo kamu itu adekku, ini aneh, aku bahkan bisa melakukan banyak hal sama kamu, dan semakin lama aku kenal kamu aku bahkan gak bisa memposisikan aku sendiri untuk suka kamu, aku terlalu sayang anak polos ini”,
“jadi..?”
“ aku seneng, you’re truly my cute sister”
“love you my best brother, lu bahkan lebih keren dari kakak gue sendiri”
 “Jadi, apa lu masih suka sama Rima?”, tanyaku kemudian.
“hmm…mungkin, kalopun ia, bakal ada jalannya sendiri, dan itu bukan karena kamu, kalopun bukan, masa depan terlalu sulit buat ditebak”, jawabannya yang menggantung, aku menangguk mengiakan. Benar, selalu ada jalan yang tak pernah kita duga yang diberikan Tuhan.
Kami berdua tersenyum senang, ada perasaan lega yang menjalar dihatiku, seperti sebuah perasaan saat aku menghirup aroma teh.
Aku tersenyum, Inge sudah tertidur pulas, aku memejamkan mata, esok ada jejak-jejak langkah baru yang akan aku lalui.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar